AstroTactile UAD

Bantul, Suara ‘Aisyiyah – Pusat Studi Astronomi (PASTRON) dan Pusat Studi Disabilitas (PSD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan “AstroTactile: Meraba dan Mengenal Alam Semesta” untuk memperluas akses literasi astronomi bagi siswa tunanetra.

Kegiatan dalam rangkaian skema pendanaan Program IN-SAINTEK 2026 Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini berlangsung di SLB Negeri 1 Bantul pada Senin-Selasa (14–15/9/26) dan dilanjutkan di kantor Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) pada Sabtu (19/9/26).

AstroTactile menghadirkan pengalaman belajar astronomi melalui media taktil yang dicetak dengan printer 3D. Siswa difabel netra dan guru diajak mengenal bentuk dan karakteristik benda-benda langit dengan meraba model tiga dimensi serta relief objek astronomi.

Pendekatan ini membuka kesempatan bagi siswa difabel netra dan low vision untuk mengeksplorasi materi yang selama ini banyak disampaikan melalui gambar, video, dan pengamatan visual.

Media pembelajaran yang diperkenalkan mencakup model galaksi, rasi bintang, tata surya, dan kawah Bulan, Mars, Jupiter, Asteroid, dan Saturnus. Siswa difabel netra dapat menggunakannya dengan mudah karena dibekali modul penggunaan Astrotactile.

Melalui perpaduan alat peraga dan penjelasan lisan, peserta memperoleh kesempatan untuk menghubungkan informasi yang didengar dengan bentuk yang dirasakan melalui indra peraba. Proses belajar juga memberi ruang bagi peserta untuk bertanya dan mengungkapkan pemahaman menggunakan bahasa mereka sendiri.

Pelaksanaan di SLB Negeri 1 Bantul melibatkan 30 orang yang terdiri atas siswa, guru, dan pendamping mahasiswa.

Hari pertama diawali dengan pembukaan program INSAINTEK yang dihadiri Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan alam semesta, galaksi, dan rasi bintang.

Dalam sesi tersebut, siswa mengeksplorasi alat peraga taktil berupa model Galaksi Bimasakti, galaksi spiral, serta rasi bintang Orion yang juga dikenal sebagai Waluku. Kegiatan ini memberikan pengalaman konkret untuk mengenali pola dan bentuk objek astronomi yang tidak dapat dijangkau secara langsung.

Baca Juga: Difabel dan Akses Kerja: Jangan Lagi ada Halangan, Semua Pihak Harus Beri Jalan

Pada hari kedua, pembelajaran berfokus pada tata surya dan keragaman karakteristik benda langit. Peserta meraba model kawah Bulan, gunung berapi dan ngarai di Mars, permukaan Jupiter, asteroid, serta Saturnus. Perbedaan bentuk dan relief pada alat peraga menjadi bahan eksplorasi untuk mengenalkan ciri khas masing-masing objek.

Pada Sabtu (19/9/26), kegiatan melibatkan 11 peserta dari kalangan siswa tunanetra dan masyarakat. Pada pertemuan ini, peserta mempelajari tata surya, galaksi, dan rasi bintang menggunakan media taktil, disertai penjelasan serta tanya jawab.

Melalui pola taktil dan penjelasan pendamping, peserta diajak membayangkan penggambaran Orion sebagai sosok pemburu lengkap dengan perisai dan senjatanya

Pembelajaran berlangsung melalui praktik eksploratif, diskusi, dan refleksi bersama guru pendamping. Siswa menunjukkan rasa senang dan antusias ketika mencoba berbagai media. Mereka juga menyampaikan analogi yang membantu menghubungkan bentuk planet dan galaksi dengan hal-hal yang lebih akrab dalam pengalaman sehari-hari.

Sesi tanya jawab memberikan kesempatan bagi pendamping untuk meninjau pemahaman peserta sekaligus menjelaskan kembali materi yang masih memerlukan pendalaman.

Keterlibatan guru pendamping menjadi bagian penting dalam pelaksanaan AstroTactile. Selain mendampingi siswa selama kegiatan, guru turut mengenali cara penggunaan media agar alat peraga dapat dimanfaatkan kembali dalam pembelajaran di sekolah.

Dengan demikian, pengalaman belajar yang diperoleh diharapkan dapat berlanjut setelah kegiatan selesai. Melalui AstroTactile, PASTRON UAD berupaya menghadirkan pembelajaran astronomi yang lebih inklusif dan memberi ruang bagi keberagaman cara belajar.

Penggunaan media taktil, modul Braille, serta pendampingan diharapkan dapat mendukung akses yang lebih luas terhadap pengetahuan astronomi bagi penyandang disabilitas netra.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendekatkan sains kepada masyarakat melalui pengalaman belajar yang dapat diakses sesuai kebutuhan peserta.

Kolaborasi dengan sekolah, guru pendamping, dan komunitas diharapkan mendukung keberlanjutan pemanfaatan media serta menumbuhkan rasa ingin tahu untuk terus mengenal alam semesta.

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Warta Persyarikatan

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...