YOGYAKARTA — “Jadikan momentum Milad satu abad ini untuk merancang misi pengembangan yang lebih jauh ke depan sekaligus maju dan profesional.” Hal tersebut disampaikan oleh  Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam peringatan Milad 100 Tahun Suara ‘Aisyiyah yang diselenggarakan pada Sabtu (10/10/2026) di SM Tower Malioboro, Yogyakarta.

Menurut Haedar, usia satu abad merupakan momentum monumental sekaligus kesempatan untuk melakukan refleksi dan menyusun proyeksi pengembangan media ke depan. Ia mengingatkan bahwa tidak banyak majalah yang mampu bertahan selama satu abad, sebagaimana Suara ‘Aisyiyah yang terbit sejak 1926, menyusul Suara Muhammadiyah yang telah terbit sejak 1915.

Haedar menyebutkan, Suara ‘Aisyiyah memiliki potensi pembaca yang besar melalui jutaan anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah. Namun, jumlah anggota tersebut belum secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah pelanggan majalah. Karena itu ia menegaskan bahwa pengembangan Suara ‘Aisyiyah membutuhkan visi bersama antara jajaran redaksi dan pimpinan ‘Aisyiyah. Visi tersebut harus sejalan dengan karakter ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah yang berkemajuan.

Menurut Haedar, Suara ‘Aisyiyah perlu menghadirkan konten yang tidak hanya penting secara substansi, tetapi juga menarik untuk dibaca dan menjadi rujukan. Dengan demikian, majalah ini dapat menjadi kebutuhan yang melekat bagi anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara.

Hadapi Tantangan Media Digital

Haedar menilai pengelolaan media cetak saat ini menghadapi tantangan yang semakin berat seiring perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi melalui media digital dan media sosial. Kondisi tersebut menuntut Suara ‘Aisyiyah untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas pengelolaannya.

“Tidak bisa kita mengelola media massa, media cetak hari ini jika berjalan apa adanya, berada di zona nyaman dan aman, karena lingkungan sekitar sudah berubah,” tegasnya.

Ia menambahkan, perubahan tersebut menuntut penguatan manajemen keredaksian yang maju, modern, dan profesional. Pengembangan sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi juga perlu menjadi perhatian agar Suara ‘Aisyiyah mampu menjawab kebutuhan pembaca di tengah persaingan media.

Di sisi lain, Haedar mengakui bahwa pengembangan media organisasi sosial keagamaan memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan teknologi tidak selalu sebanding dengan kemampuan finansial yang ditopang oplah terbatas.

Karena itu, ia menekankan bahwa tanggung jawab pengembangan Suara ‘Aisyiyah tidak hanya berada pada pimpinan redaksi, tetapi juga pimpinan umum dan pimpinan organisasi. Dukungan tersebut diperlukan agar Suara ‘Aisyiyah tidak hanya mampu mempertahankan keberadaannya, tetapi juga tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Haedar juga mendorong agar pengelolaan isi majalah dilakukan dengan memahami kebutuhan dan minat pembaca. Redaksi perlu memetakan informasi yang dibutuhkan masyarakat, tren yang menarik perhatian, serta faktor yang menyebabkan orang enggan membaca media massa.

Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa Suara ‘Aisyiyah harus menjadi representasi kemajuan organisasi. “Jadikan Suara ‘Aisyiyah menjadi corong, menjadi etalase dari kemajuan ‘Aisyiyah itu sendiri,” pesannya.

Bangun Etos Kemajuan dan Tradisi Membaca

Selain pembenahan manajemen dan konten, Haedar menyoroti pentingnya membangun tradisi membaca di lingkungan persyarikatan. Menurutnya, keberadaan media berkualitas perlu diiringi kemauan anggota dan pimpinan untuk membaca serta memanfaatkan informasi yang disajikan.

Ia mengingatkan bahwa Suara ‘Aisyiyah memuat berbagai gagasan dan informasi yang penting bagi kemajuan organisasi, umat, dan bangsa. Oleh sebab itu, dukungan terhadap keberlangsungan majalah perlu diwujudkan melalui kesungguhan untuk membaca, berlangganan, dan menjadikannya rujukan.

Haedar juga menekankan bahwa upaya membawa kemajuan membutuhkan niat yang sungguh-sungguh, etos kerja, kegigihan, dan kesabaran. Menurutnya, gagasan tentang kemajuan harus disertai tindakan nyata dan partisipasi untuk mewujudkannya.

“Jika niatnya kita mau berubah, kita ingin maju, kita ingin profesional dan kita bisa menjadi media dan sekaligus organisasi yang modern, dari niat itulah lahir etos kemajuan,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa kritik merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi perlu diiringi kontribusi dan solusi nyata. Para pengelola Suara ‘Aisyiyah perlu terus merawat semangat kemajuan, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta bersabar dalam menghadapi berbagai tantangan.

Menutup pesannya, Haedar berharap momentum satu abad Suara ‘Aisyiyah dapat menginspirasi anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah untuk menjaga warisan literasi yang bersejarah sekaligus melanjutkan misi dakwah Islam yang berkemajuan. Ia berharap Suara ‘Aisyiyah terus menjadi representasi Islam berkemajuan dan perempuan berkemajuan di lingkungan persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. (Suri)

Sumber Informasi & Rujukan aisyiyah.or.id
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...