MUHAMMADIYAH.OR.ID, CHICAGO — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat (USA) menggelar pengajian yang membahas resiliensi dan perkembangan diri diaspora Muslim Indonesia di tengah kehidupan masyarakat multikultural. Kegiatan tersebut berlangsung di Chicago pada Sabtu (10/10).

Pengajian ini menghadirkan Yayah Khisbiyah, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekaligus Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah.

Dalam pemaparannya, Yayah yang juga merupakan Ketua Muhammadiyah Anti-Intolerance and Discrimination (MuAID) PP Muhammadiyah menekankan bahwa tantangan menjadi Muslim di Amerika Serikat bukan sekadar mempertahankan identitas asal. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana seorang Muslim dapat terus bertumbuh, membangun keluarga yang sehat, serta menjalani kehidupan yang bermakna di tengah dinamika budaya yang berbeda.

Perpindahan dari Indonesia ke Amerika Serikat membawa beragam pengalaman, bahasa, nilai, dan kebiasaan yang telah melekat dalam kehidupan seseorang. Di sisi lain, diaspora juga perlu beradaptasi dengan lingkungan baru yang memiliki karakteristik sosial dan budaya berbeda, termasuk kecenderungan individualisme.

Mengacu pada perspektif psikologi lintas budaya, Yayah menjelaskan bahwa adaptasi tidak harus membuat seseorang kehilangan jati diri. Pendekatan integration atau bikulturalisme justru dapat menjadi jalan untuk membangun hubungan yang harmonis antara identitas keindonesiaan, keamerikaan, dan keislaman.

“Melalui konsep integrated bicultural identity, diaspora diharapkan mampu memadukan identitas-identitas tersebut secara selaras. Dengan demikian, perbedaan budaya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk saling belajar dan memperkaya pengalaman hidup,”jelasnya.Selain adaptasi budaya, pengajian tersebut membahas resiliensi sebagai kemampuan untuk menghadapi tekanan dan bangkit dari berbagai kesulitan. Bagi diaspora, tantangan itu dapat muncul dari diri sendiri, hubungan interpersonal, lingkungan sosial, maupun struktur kehidupan di masyarakat baru.

Yayah menegaskan bahwa resiliensi bukan semata-mata kemampuan individual untuk menanggung seluruh beban seorang diri. Ketahanan diri justru tumbuh melalui dukungan keluarga, komunitas, dan hubungan sosial yang sehat.

Dalam konteks ini, Surah Al-Insyirah ayat 5–6 menjadi pengingat akan janji Allah bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Pesan tersebut dapat menjadi sumber penguatan spiritual bagi diaspora dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pembahasan kemudian diarahkan dari sekadar surviving atau bertahan hidup menuju flourishing, yakni berkembang dan menjalani kehidupan yang bermakna. Dengan mengacu pada kerangka psikologi positif PERMA—Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment.

Yayah mengajak diaspora untuk membangun kehidupan yang tidak hanya sejahtera secara psikologis, tetapi juga berakar pada iman dan takwa.

Dalam perspektif Islam, kesejahteraan hidup tidak berhenti pada perasaan bahagia atau pencapaian pribadi. Kehidupan yang bermakna juga tercermin dalam kedekatan kepada Allah dan kemanfaatan bagi sesama.

Nilai tersebut sejalan dengan pesan Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang penciptaan manusia dalam beragam bangsa dan suku agar saling mengenal (ta’aruf). Perbedaan budaya dan latar belakang bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan membangun hubungan yang dilandasi pemahaman dan penghargaan terhadap sesama.

Yayah juga menekankan pentingnya mutuality, yaitu hubungan timbal balik yang memungkinkan setiap pihak saling memahami dan memperkaya pengalaman melalui perjumpaan antarbudaya. Dengan pendekatan ini, toleransi tidak berhenti pada sikap membiarkan perbedaan, tetapi berkembang menjadi kesediaan untuk belajar dan bekerja sama.

Resiliensi kolektif menjadi aspek penting lainnya dalam kehidupan diaspora Muslim. Dalam hal ini, masjid dan kelompok jemaah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun solidaritas, berbagi pengalaman, dan memperoleh dukungan psikologis maupun sosial.

Berlandaskan semangat Surah Al-Ma’idah ayat 2 tentang tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, diaspora didorong untuk memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas melalui lima pilar resiliensi, yaitu iman, keluarga, komunitas, makna hidup, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Penguatan lima pilar tersebut diharapkan dapat membantu diaspora menghadapi tekanan kehidupan sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan setiap anggota komunitas, termasuk generasi muda.

Karena itu, Yayah mendorong perubahan cara pandang dari defensive identity atau identitas yang cenderung bertahan dari ancaman menuju confident and contributing identity, yakni identitas yang dibangun dengan kepercayaan diri dan diwujudkan melalui kontribusi positif.

Anak-anak muda Muslim diaspora tidak cukup hanya diajak mengenali dan mempertahankan identitas keislamannya. Mereka juga perlu didorong untuk menunjukkan kontribusi nyata melalui nilai welas asih, keadilan, tanggung jawab sosial, dan pelayanan kepada masyarakat luas.

Semangat tersebut selaras dengan teologi Al-Ma’un yang menjadi salah satu landasan gerakan Muhammadiyah. Islam tidak hanya diwujudkan melalui kesalehan individual, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan tindakan nyata untuk membantu sesama.

Dalam konteks diaspora, umat Islam yang secara demografis menjadi minoritas tetap dapat memberikan kontribusi besar bagi kehidupan bersama melalui integritas, kebaikan, pelayanan, dan perjuangan menegakkan keadilan. Dengan demikian, keberadaan komunitas Muslim dapat menjadi sumber manfaat bagi masyarakat lintas latar belakang.

Sebagai landasan menjalani kehidupan, Yayah juga mengingatkan pesan Surah Al-‘Asr yang menekankan pentingnya iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Sumber Informasi & Rujukan muhammadiyah.or.id
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...