TABLIGH.ID, BANTUL — Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., membuka secara resmi Pelatihan dan Sertifikasi Mubaligh Muhammadiyah Pusat Angkatan Pertama di Tabligh Institute Muhammadiyah, Ahad, 11 Oktober 2026. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sertifikasi bukan dimaksudkan untuk meragukan kemampuan para mubaligh. Program ini, menurutnya, merupakan ikhtiar untuk memperkuat amanah, pembinaan, dan keselarasan langkah dakwah.

Kiai Fathur menjelaskan, seorang pendakwah bisa saja telah memperoleh pengakuan dari masyarakat. Namun, dalam organisasi, pelaksanaan amanah dakwah juga perlu memiliki pedoman dan tanggung jawab yang jelas. Sertifikasi menjadi salah satu cara Majelis Tabligh membangun kesepahaman mengenai peran dan tanggung jawab mubaligh.

“Ini bukan soal tidak percaya kepada seseorang. Program ini menjadi salah satu cara untuk menyatukan barisan dan menyelaraskan langkah kita dalam dakwah,” ujarnya.

Ia berharap peserta tidak memandang sertifikasi semata-mata sebagai pengakuan formal atau kelengkapan administrasi. Lebih dari itu, sertifikasi perlu dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pendakwah dan lembaga yang menaunginya. Kepercayaan tersebut menuntut tanggung jawab, kesiapan ilmu, serta kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Menurut Kiai Fathur, menyampaikan ajaran agama memerlukan bekal ilmu dan sikap hati-hati. Seorang mubaligh perlu memahami batas pengetahuannya, tidak berbicara di luar kapasitas, serta mempertimbangkan dampak dari pesan yang disampaikan. Tanpa kehati-hatian, penyampaian agama yang seharusnya memberi tuntunan dapat menimbulkan kesalahpahaman atau kerugian bagi masyarakat.

Ia mengaitkan tanggung jawab itu dengan prinsip menunaikan amanah kepada pihak yang berhak. Dalam konteks dakwah, amanah bukan hanya menyangkut materi yang disampaikan, tetapi juga cara menyampaikannya, ketepatan pemahaman, dan sikap terhadap orang lain. Karena itu, pembinaan mubaligh perlu mencakup penguatan kompetensi sekaligus pembentukan etika.

Aktivitas & Peran Penting

Kiai Fathur juga mengingatkan peserta agar mewaspadai godaan yang dapat muncul di kalangan orang berilmu dan para pendakwah. Ia merujuk pada pemikiran Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Talbis Iblis, yang antara lain menguraikan bagaimana seseorang dapat terperdaya oleh rasa paling benar, kekaguman terhadap diri sendiri, atau anggapan bahwa kedudukan keilmuannya membenarkan sikap keras kepada orang lain.

Peringatan tersebut, kata dia, relevan dengan kehidupan dakwah saat ini, ketika pendapat, penilaian, dan potongan informasi mudah tersebar melalui media sosial. Para mubaligh perlu menjaga ucapan maupun tulisan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, serta menyampaikan kritik dengan adab. Penguasaan dalil dan identitas sebagai pendakwah tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain atau merasa bebas dari evaluasi.

“Yang membuat kita prihatin bukan hanya persoalan di luar, tetapi juga ketika hasad dan saling merendahkan terjadi di antara para pendakwah,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa mubaligh bukan manusia yang bebas dari kekeliruan. Karena itu, para pendakwah perlu menjaga kerendahan hati dan membuka diri terhadap nasihat. Perbedaan pandangan dapat dibahas, tetapi hendaknya dilakukan secara adil dan bertanggung jawab, tanpa menghilangkan kehormatan pihak lain. Sikap tersebut penting agar dakwah tetap menjadi ruang pembelajaran dan perbaikan, bukan saling menjatuhkan.

Dalam sambutannya, Kiai Fathur turut menekankan pentingnya kesungguhan dalam menunaikan amanah. Sertifikasi, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan dakwah kepada masyarakat. Namun, kualitas seorang mubaligh juga tampak dalam sikap sehari-hari, cara membangun hubungan, dan kesesuaian antara pesan yang disampaikan dengan perilakunya.

Atas dasar itu, ia mengajak peserta mengikuti pelatihan dengan kesungguhan dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperdalam bekal dakwah. Sertifikasi diharapkan tidak berhenti pada proses penilaian, tetapi berlanjut menjadi pembinaan yang mendorong para mubaligh untuk terus meningkatkan ilmu, menjaga adab, dan memahami kebutuhan masyarakat.

Di akhir sambutan, Kiai Fathur berharap pelatihan dan sertifikasi tersebut membawa manfaat bagi peserta, Persyarikatan, dan masyarakat luas. Ia kemudian membuka kegiatan dengan basmalah dan menyerahkan rangkaian pelatihan kepada ketua pelaksana, Talqis Nurdianto, Lc., M.A., Ph.D.

Sumber Informasi & Rujukan Majelis Tabligh
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Warta Persyarikatan

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...