Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah berpesan agar Suara 'Aisyiyah (SA) senantiasa membangun ekosistem literasi digital perempuan.
Hal tersebut ia sampaikan pada Resepsi Milad 100 Tahun Suara 'Aisyiyah dengan tema “Literasi Perempuan, Peradaban Berkemajuan” di Hotel SM Tower Malioboro Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).
Bayin –sapaan akrab Salmah Orbayinah mengatakan, SA di 100 tahun perjalanannya, telah berperan dalam menyebarkan pengetahuan dan gagasan perempuan di tengah perubahan zaman.
Oleh sebab itu, ia mengajak hadirin untuk merefleksikan perjalanan Suara 'Aisyiyah selama satu abad, termasuk peran media tersebut dalam menyebarkan pengetahuan dan gagasan perempuan.
“Seratus tahun itu adalah sebuah perjalanan panjang. Jika gagasan itu kemudian kita rawat dengan baik, dengan penuh keikhlasan dan dengan penuh perjuangan, maka ternyata Suara 'Aisyiyah ini bisa terus bertahan dan mampu melampaui zaman,” ujarnya.
Menurut Bayin, Suara 'Aisyiyah lahir sebagai ikhtiar dakwah bil qalam untuk mencerdaskan perempuan. Sehingga di 100 tahun ini, perlu melihat sejauh mana dapat memberikan dampak bagi kehidupan perempuan.
Komitmen Rektor UAD Agar Dosen Perempuan Langganan Majalah SA
Di hadapan lebih dari 100 peserta yang hadir, Bayin mengaku sempat dibisiki oleh Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah yang juga Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muchlas.
“Tadi Pak Muchlas berpesan kepada saya tiga hal. Pertama, tingkatkan jumlah pelanggan. Kemudian, sebagai Rektor UAD, beliau memutuskan bahwa seluruh dosen perempuan di UAD akan berlangganan majalah SA,” ucap Bayin menirukan perkataan Muchlas, yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
BACA JUGA
Namun Bayin juga berharap, agar yang berlangganan majalah SA tidak hanya perempuan, melainkan juga laki-laki. “UAD semoga memelopori sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang juga berlangganan Suara ‘Aisyiyah,” ucapnya.
Pesan kedua Muchlas, imbuhnya, SA harus siap dengan tantangan digitalisasi. “Karena memasuki abad kedua ini tantangan digital semakin banyak. Kalau dulu, orang menunggu informasi. Sedangkan saat ini, informasi datang di saat kita belum meminta. Dulu media menentukan, namun sekarang tantangannya adalah algoritma,” ujarnya.
Ketiga, SA harus mampu mengawal literasi digital perempuan, agar bisa mewujudkan peradaban.
Bayin menilai, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Maka, menurutnya SA harus siap dengan tantangan digitalisasi dan bisa mengawal literasi digital.
“Karena itu, penting bagi SA untuk membangun ekosistem literasi digital perempuan, agar media ini tetap berperan dalam menyebarkan pengetahuan dan gagasan perempuan di tengah perubahan zaman,” katanya.
Selain itu, Bayin berharap, SA bisa menjadi media yang terpercaya, menampilkan berita yang apa adanya dan jauh dari hoax.
“Saya berharap, ketika masyarakat mencari referensi tentang perempuan berkemajuan, keluarga sakinah, qaryah thayibah, pendidikan bermutu, kesehatan prima, dan kemanusiaan, maka rujukannya adala Suara ‘Aisyiyah," katanya. (Maulana Rendy)-Nely
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.