Setiap pagi, Purnawati memulai perjalanan menuju tempat ia mengajar dengan menumpang long boat, sebuah perahu motor tempel berukuran panjang dan ramping yang menjadi sarana transportasi air utama bagi masyarakat pesisir. Ia harus menyeberang dari tempat tinggalnya di Kampung Anok Darat menuju Pulau Arar. Di pulau itulah TK ‘Aisyiyah tempatnya mengabdi berada.

Perjalanan pulang-pergi melintasi laut bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi perempuan asli Pulau Arar tersebut. Sejak mulai mengajar pada 2019, Purnawati telah menghadapi berbagai keterbatasan sebagai guru di wilayah kepulauan: kesejahteraan yang belum memadai, jumlah murid yang tidak banyak, hingga kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya menempatkan pendidikan anak usia dini sebagai kebutuhan penting. Namun, hingga kini ia tetap bertahan.

“Kalau kita tidak mengajar, siapa lagi yang mau mengajar?” kata Purnawati ketika menjelaskan alasan mengapa ia masih setia menjadi guru TK ‘Aisyiyah Pulau Arar.

Purnawati lahir dan besar di Pulau Arar. Orang tuanya adalah transmigran yang kemudian bermukim di pulau tersebut. Namun sejak 2023, ia tinggal di Kampung Anok Darat karena mengikuti suami sehingga harus menyeberang setiap hari untuk menjalankan tugasnya sebagai guru.

Sebelum menjadi guru, Purnawati pernah melanjutkan pendidikan tinggi ke Pulau Jawa, tetapi karena mengalami masalah kesehatan, ia harus kembali ke daerah asal dan tidak dapat meneruskan kuliahnya. Pada 2019, selepas tidak lagi berkuliah, ia mendapat tawaran untuk mengajar di TK ‘Aisyiyah. “Daripada menganggur, mending masuk dulu di sekolah, mungkin mengajar,” begitu ia mengenang ajakan dari Kepala TK ‘Aisyiyah Pulau Arar terdahulu yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya.

Tidak lama setelah mulai mengajar, kesempatan lain datang. Ia memperoleh beasiswa bagi guru-guru ‘Aisyiyah untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Sorong. Kesempatan itu tidak berarti perjuangannya menjadi lebih ringan.

Selama menjalani kuliah, Purnawati harus membagi waktunya antara mengajar dan mengikuti perkuliahan. Pada pagi hari, ia mengajar anak-anak di Pulau Arar. Siangnya, ia menyeberang menuju daratan dan melanjutkan perjalanan ke kampus di Sorong. Dari Pulau Arar, perjalanan dengan long boat menuju dermaga membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju kampus dengan mengendarai motor selama dua jam. Rutinitas itu dijalaninya demi menyelesaikan pendidikan sekaligus tetap menjalankan tanggung jawab sebagai guru.

Sekolah Tanpa Siswa Namun, perjalanan menuju sekolah ternyata bukan persoalan paling sulit yang ia hadapi. Pada masa awal mengajar, Purnawati justru sering mendapati sekolah tanpa murid. Anak-anak belum datang. Ia kemudian mengetahui bahwa sebagian anak terbiasa dijemput oleh guru dari rumah masing-masing. Jika tidak, mereka tidak berangkat ke sekolah. Mau tak mau, ia melakukan hal yang sama.

Setiap pagi, sebelum kegiatan belajar dimulai, Purnawati menjemput muridnya di rumah masing-masing. Rutinitas ini dilakukan berbulan-bulan. Tak jarang, ia mendapati anak-anak muridnya yang dijemput masih tertidur.

Situasi itu membuatnya berpikir bagaimana agar anak-anak tidak terus bergantung kepada guru untuk datang ke sekolah. Ia pun mulai memberanikan diri berbicara kepada para orang tua, “Kalau bisa, anak-anak disiapkan untuk ke sekolah. Kami guru sudah ada di sekolah dan siap mengajar,” kata Purnawati menirukan ucapan yang ia sampaikan untuk orang tua. Menurutnya kebiasaan menjemput anak setiap hari tidak dapat terus dipertahankan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan belajar justru habis untuk mendatangi rumah murid.

Ia berulang kali mengingatkan pentingnya mempersiapkan anak-anak untuk berangkat ke sekolah. Purnawati juga mencoba melakukan pendekatan kepada murid-muridnya. Ia mencoba membuat kegiatan belajar mengajar semenarik mungkin untuk menumbuhkan semangat para murid berangkat ke sekolah. Tidak semua pembelajaran dilakukan di dalam ruang kelas. Ia mengajak anak-anak bermain dan belajar di ruang terbuka.

“Setiap pulang sekolah saya janjikan kepada mereka, besok kita belajar ini ya, besok kita belajar ke luar ya, dengan harapan besok mereka semangat berangkat ke sekolah,” ucapnya. Cara itu cukup efektif. Anak-anak mulai datang ke sekolah tanpa harus dijemput. Mereka mulai mengenal bahwa pagi hari adalah waktu untuk belajar bersama guru dan teman-temannya.

TK ‘Aisyiyah Pulau Arar sendiri merupakan satu-satunya taman kanakkanak di pulau tersebut. Sekolah itu telah berdiri sejak 2009. Meski demikian, pentingnya pendidikan anak usia dini belum sepenuhnya dipahami oleh semua masyarakat.

Walaupun sekolah tidak membebankan biaya seperti SPP maupun pendaftaran, tetapi sebagian orang tua masih memilih untuk langsung memasukkan anak-anak ke sekolah dasar tanpa melalui pendidikan TK. Jumlah murid di sekolah pun tidak selalu besar. Dalam beberapa periode, jumlahnya hanya sekitar 10 hingga 12 anak.

Di tengah kondisi tersebut, persoalan operasional sekolah dan kesejahteraan guru menjadi tantangan tersendiri. Untuk kebutuhan operasional seperti alat tulis dan perlengkapan belajar, guru mengajukan kebutuhan kepada pemerintah kampung melalui dukungan dana desa. Purnawati yang masih berstatus sebagai guru honorer bersama satu orang guru lagi di TK ‘Aisyiyah Pulau Arar juga menggantungkan insentif dari dana desa setempat. Dukungan honor diberikan melalui kampung untuk satu tahun sekali. Belakangan, ia bersama guru lainnya mulai mendapatImagekan dukungan honor dari ‘Aisyiyah sejumlah 250 ribu rupiah.

Meski demikian, persoalan penghasilan tidak membuatnya meninggalkan anak-anak Pulau Arar. “Saya sayang anak-anak,” katanya. Baginya, alasan untuk tetap mengajar sangat sederhana. Ia melihat masih banyak anak di Pulau Arar yang membutuhkan pendidikan dan pendampingan sejak usia dini.

Kisah Purnawati mungkin tidak menghadirkan perubahan besar dalam waktu singkat. Tetapi dari ruang belajar sederhana di Pulau Arar, perubahan itu berlangsung sedikit demi sedikit. Di baliknya, ada seorang guru yang setiap hari harus menyeberangi laut untuk bertemu dan berbagi ilmu dengan para muridnya. (Suri Putri Utami)

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...