Surabaya, Suara 'Aisyiyah - Satu per satu siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 1 (Smamsa) Surabaya mulai berani berdiri di depan kelas. Mereka membawa puisi yang baru saja dibuat, lalu membacakannya di hadapan teman-teman.

Tidak ada panggung besar. Tidak ada suasana perlombaan. Hanya ruang kelas dan keberanian untuk menyampaikan karya.

Momen itu menjadi bagian menarik dari kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (1/10/2026).

Berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 11.30 WIB bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar menghadirkan materi, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami langsung proses belajar melalui literasi dan numerasi.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Umsura, Ali Nuke Affandy, mengawali kegiatan dengan teknik menulis puisi akrostik.

Materi bertajuk “Kata, Data, dan Cita-Cita: Jelajah Literasi dan Numerasi Menuju Perguruan Tinggi” itu membuat siswa tidak hanya mendengar penjelasan.

Mereka langsung menulis. Huruf-huruf dari nama siswa digunakan sebagai pijakan untuk menemukan kata. Dari kata itu kemudian dirangkai menjadi puisi.

“Menulis tidak berhenti pada teori. Apa yang kita pelajari hari ini harus bisa menjadi sebuah karya,” ujar Ali.

Berani Berkarya dan Menyampaikannya

Cara sederhana tersebut membuat siswa lebih mudah menuangkan gagasan. Setelah menyelesaikan puisi, beberapa siswa mendapat kesempatan untuk membacakan karyanya.

Bagi Ali, keberanian tampil sama pentingnya dengan kemampuan menulis. “Berani menulis itu penting. Berani menyampaikan karya di depan orang lain juga penting,” katanya.

Dari karya siswa, Idhoofiyatul Fatin kemudian membawa pembelajaran pada konteks yang lebih luas: dunia perguruan tinggi.

Ia mengajak siswa tidak menganggap puisi yang dibuat sebagai tugas yang selesai setelah pembelajaran berakhir.

“Jangan berhenti berkarya hanya karena tugasnya sudah selesai. Karya yang kalian buat hari ini bisa menjadi langkah awal untuk terus menulis ketika nanti masuk perguruan tinggi,” tutur Fatin.

Pesan tersebut terasa dekat dengan siswa kelas XII yang sedang berada di penghujung masa SMA.

Fatin juga memberikan penghargaan kepada beberapa siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dan berani mempresentasikan karyanya.

Reward sederhana itu membuat suasana kelas semakin cair. Siswa yang awalnya menjadi pendengar berubah menjadi pembuat karya sekaligus penyaji.

Dari Literasi hingga Numerasi

Tidak berhenti pada literasi, kegiatan berlanjut pada numerasi. Dosen Pendidikan Matematika UMSURA, Wahyuni Suryaningtyas, mengenalkan statistik sederhana kepada siswa.

“Data itu dekat dengan kehidupan kita. Karena itu, kita perlu belajar membaca data dengan benar agar tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami informasi yang ada di baliknya,” jelas Wahyuni.

Perpindahan dari puisi menuju statistik menunjukkan bahwa literasi dan numerasi dapat hadir dalam pengalaman belajar yang sama.

Bagi mahasiswa PLP, kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar. Mereka tidak hanya menjalankan tugas di sekolah, tetapi turut mendampingi siswa selama proses pembelajaran.

Koordinator PLP mahasiswa, Salma Najwa Al-a'la, menilai kehadiran dosen sebagai narasumber memberikan pengalaman berbeda bagi siswa.

“Penyajian materi dari bapak-ibu dosen sangat bagus dan mudah dipahami oleh siswa,” ujar Salma.

Salma bersama Dewi Fortuna Puspitasari, Najwa Zulfa Sasafira, Mayaza Dini, Milani Dewi, dan Zabrina Putri Wicaksono mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung.

Menurut Salma, pengalaman tersebut juga memberi pelajaran bagi mahasiswa tentang bagaimana berinteraksi dengan siswa dan mendampingi proses pembelajaran secara langsung.

Sementara itu, Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 1 Surabaya bidang kurikulum sekaligus Koordinator PLP, Harsono, menyambut baik kegiatan tersebut.

“Kami mendukung sepenuhnya program PLP mahasiswa Umsura. Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa untuk memperkuat pengalaman di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Menurut Harsono, sekolah siap memberikan ruang kepada mahasiswa untuk belajar sekaligus berkontribusi dalam proses pendidikan.

“Kami siap memfasilitasi mahasiswa,” tegasnya.

Pada akhirnya, yang tertinggal dari kegiatan tersebut bukan hanya puisi atau materi statistik.

Ada siswa yang belajar menyusun kata. Ada yang belajar membaca data. Ada pula yang belajar mengalahkan rasa ragu untuk berdiri di depan kelas.

Dan bagi mahasiswa PLP, ada pengalaman bahwa mendampingi siswa bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan ruang agar mereka berani belajar, berkarya, dan berbicara. (Ahmad Mahmudi)-Nely

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...