Ponorogo, Suara ‘Aisyiyah — Takmir Masjid Al-Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo) menggelar Kajian Ahad Pagi, (4/10/2026) dengan menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung, Syaifudin.
Dalam paparannya, Syaifudin mengajak jamaah untuk mengevaluasi kembali kualitas amal ibadah sehari-hari. Ia juga menekankan pentingnya memperbaiki niat, mengikuti tuntunan Rasulullah, mencari rezeki melalui cara yang halal, dan menjaga keikhlasan dalam beramal.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tulungagung tersebut mengajak jamaah untuk tidak sekadar memperbanyak kuantitas ibadah, tetapi juga memperhatikan kualitas dan tujuan setiap amal.
Menurutnya, manusia belum dapat mengetahui nilai amal yang telah dilakukan selama masih menjalani kehidupan di dunia.
“Banyak orang yang menganggap ibadah itu adalah tujuan. Padahal ibadah itu bukan tujuan. Ibadah kita itu adalah sarana,” ujarnya.
Pentingnya Empat Hal dalam Beramal
Syaifudin menjelaskan, bahwa seseorang perlu menjaga amal karena berbagai hal dapat memengaruhi nilainya. Ia kemudian menyampaikan empat hal yang perlu diperhatikan umat Islam ketika beramal.
Pertama, seseorang harus meluruskan niat karena Allah SWT. Kedua, umat Islam harus mengikuti tuntunan Rasulullah dalam menjalankan ibadah. Ketiga, seseorang harus memastikan makanan, minuman, pakaian, dan harta yang digunakan berasal dari sumber yang halal. Keempat, seseorang perlu menjaga keikhlasan setelah melakukan amal.
“Amal kita ini akan diterima oleh Allah SWT ketika kita mampu beramal. Namun amal kita juga harus betul-betul ikhlas,” katanya.
Syaifudin juga mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam memperoleh harta. Ia mencontohkan korupsi dan penipuan sebagai perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama.
BACA JUGA
Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya memperhatikan ibadah secara lahiriah, tetapi juga harus memperhatikan sumber harta yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, bahwa seseorang harus menghindari harta yang berasal dari cara yang tidak dibenarkan agama. Menurutnya, makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan lain yang seseorang peroleh melalui cara yang tidak halal dapat memengaruhi amal ibadah.
Selain membahas niat, kehalalan harta, dan keikhlasan, Syaifudin mengajak jamaah lebih memperhatikan kehidupan akhirat. Ia menilai manusia sering menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan urusan dunia dari pada mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Syaifudin kemudian menjelaskan hubungan antara ibadah dan ketakwaan. Ia mengaitkan penjelasannya dengan Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban menjalankan ibadah puasa.
Menurutnya, puasa tidak hanya mengajarkan seseorang menahan diri, tetapi juga mendorong manusia menjalani proses menuju ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Melalui kajian tersebut, Syaifudin mengajak jamaah memperbaiki kualitas ibadah, bukan sekadar menambah jumlahnya. Ia mendorong jamaah meluruskan niat, mengikuti tuntunan Rasulullah, mencari harta melalui cara yang halal, serta menjaga keikhlasan setelah beramal.
Syaifudin berharap, materi kajian tersebut dapat memberikan manfaat dan mendorong jamaah melakukan introspeksi terhadap kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak hanya mengejar kepentingan dunia, tetapi juga mempersiapkan amal untuk kehidupan akhirat. (Maulana Rendy)-Nely
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.