MUHAMMADIYAH.OR.ID, SIDOARJO – Tantangan masa depan bagi generasi penerus semakin beragam dan kompleks. Sebagai orang tua, tentu tidak ingin anaknya tertinggal dan dipecundangi dunia. Maka dengan berbagai cara anak-anak diberikan pendidikan yang sebaik mungkin.

Anak-anak berangkat ke sekolah mulai jam 6 pagi dan belajar di sekolahan sampai jam 3 sore. Tak hanya pendidikan formal, anak-anak juga terkadang mendapat asupan tambahan untuk memperkuat pemahaman mata pelajaran, dan kegiatan tambahan lainnya hingga sore dan bahkan malam hari.

Oleh karena itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir berpesan supaya memberikan proporsi yang seimbang bagi anak. Sebab tantangan mereka ke depan akan lebih berat dibandingkan zaman sekarang. Dari segi pendidikan, mereka mengalami pendidikan yang kompleks.

Kepada pada orang tua, Haedar meminta untuk memperhatikan gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Sebab bagi Islam, makanan tidak hanya halal, tapi juga baik dari nilai gizi termasuk kebersihan– baik dari cara mendapatkan sampai dengan mengolah makanan.

“Mudah-mudahan makanannya bukan junk food. Seperti ibu bapak ya. Makanan-makanan itu setidaknya mengandung empat sehat dan lima sempurna,” pesan Haedar.

Selain itu, meski pendidikan anak telah dipercayakan ke sekolah, tapi tidak boleh orang tua kemudian lepas tangan dan menyerahkan keseluruhan pendidikan anak ke sekolah. Orang tua harus tetap bertanggung jawab untuk mendidik dan mencerdaskan anak.

“Dalam konteks itu harus kita jaga, jaga keamanannya, jaga keselamatannya, jaga lingkungannya. Itu tanggung jawab kita dan orang tua tidak boleh lepas tangan, hatta kita sudah menitipkan ke sekolah. Kan sekarang ini ada kecenderungan, apalagi sekolah bagus, bayarnya mahal, orang tua lepas tangan,” tutur Haedar.

Mendidik anak di masa sekarang lebih sulit, terlebih dengan adanya media sosial yang mengiring cara pandang dan dunia anak melalui algoritma yang membentuk ‘gelembung-gelembung’ percakapan. Dari situ anak kerap kali memiliki dunia sendiri.

“Mereka adalah anak-anak Android, mereka anak-anak algoritma, mereka anak-anak gadget yang selalu bersama mereka. Maka tanamkan thayyibah, tanamkan value-value buat mereka. Itu tanggung jawab kita sebagai orang tua,” katanya.

Sebagaimana pesan dalam Al Qur’an, Haedar berpesan supaya mendidik anak-anak menjadi quwwah al ta’ayun atau generasi yang punya kekuatan atau bisa memaksimalkan potensi yang manifes untuk menjadi generasi penyambung perjuangan dakwah Muhammadiyah.

Sebaliknya, melalui pendidikan Muhammadiyah berharap tidak meninggalkan generasi dzurriyatan dhi’afan atau generasi yang lemah, baik secara mental, ekonomi, pendidikan, maupun lemah secara akidah.

Sumber Informasi & Rujukan muhammadiyah.or.id
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...