Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta bersinergi dengan Lembaga Pembinaan Haji dan Umroh (LPHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta menggelar acara Mudzakrah.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, (27/9/2026) di Griya Limasan Resto, Klampok, Bebah, Sleman. Hadir Ketua PDM dan PDA Kota Yogyakarta, serta seluruh Pembimbing KBIHU.

Mudzakarah menjadi forum penguatan dalam pembimbingan haji, berbagi pengalaman antar para pembimbing, juga evaluasi untuk pemetaan jemaah dalam pereguan.

Agenda Mudzakarah diawali dengan Penguatan Pembimbingan Manasik Haji Beregu oleh Dewan Pakar LPHU Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Yusuf Abdul Hasan.

Ia mengulas materi tentang Konsep Dasar dan Urgensi Pembimbingan Manasik Haji Beregu. Selain itu, Yusuf Hasan juga membahas telaah dan kajian dokumen-dokumen pokok, serta buku panduan dalam pembimbingan pendampingan manasik haji beregu.

Yusuf menekankan arti pentingnya visi dan tujuan. Menurutnya, visi pembimbingan manasik haji beregu adalah terwujudnya jemaah haji yang mandiri dan mampu melaksanakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah Saw.

“Ini sesuai dengan motto KBIHU ‘Aisyiyah, yakni Berhaji sesuai dengan Tuntunan Rasulullah Saw,” ungkapnya.

Ustaz Yusuf Abdul Hasan atau yang akrab disapa UYAH ini mengemukakan, bahwa visi tersebut harus bisa teramati dalam profil dan kompetensi jemaah haji KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta setelah pembimbingan.

Dia juga menegaskan, bahwa jemaah harus kompeten dalam tiga aspek. Pertama, kompeten dalam pengetahuan (Kompetensi Pengetahuan/KP). Kedua, kompeten dalam sikap (Kompetensi Sikap/KS). Ketiga, kompeten dalam kecakapan (Kompetensi Kecakapan/KK). Di dalamnya memuat nilai keadaban sebagai unsur penentu sukses haji.

“Sebagaimana dalam konsep Tri Sukses haji, yaitu Sukses Manasik, Sukses Ekosistem, dan Sukses Berkeadaban,” imbuhnya.

Maka, lanjutnya, buku panduan manasik haji beregu tahun ini disusun dengan menyesuaikan beberapa perubahan. Hal tersebut untuk mendukung tercapainya visi.

“Semua membutuhkan kemampuan para pembimbing dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif untuk jemaah. Maka rekontruksi pembelajaran, buku panduan, dan semua elemen pendukung lainnya akan terus kita upayakan lebih baik, bagi seluruh calon tamu Allah,” tandasnya.

Pembimbing Jadi Kunci Sah Haji

Sementara itu, Ketua PDM Kota Yogyakarta, Aris Madani, memberikan pengarahan sekaligus penekanan bahwa Mudzakarah bukan kegiatan atau rapat biasa. Sebagaimana asal katanya dzakara artinya mengingat, maka mudzkarah artinya saling mengingatkan.

“Istilah ini sering digunakan untuk majelis ilmu, pertukaran ilmu, dan pikiran. Sebagai upaya mendiskusikan, meningkatkan pemahaman agama, untuk menyelesaikan masalah-masalah umat, menjadi majelis ilmu fikir, dzikir, sekaligus amal,” paparnya.

Kepada para pembimbing, Aris yang juga juga mengingatkan, bahwa di pundak para pembimbing ada amanah yang sangat berat.

“Para jemaah haji, calon tamu Allah ini membutuhkan pembimbingan. Mereka sudah menunggu, menabung, ingin menyiapkan bekal terbaik. Tidak sedikit mereka berkorban dengan air mata, memendam ketakutan dan harapan agar hajinya nanti sah. Dan pembimbing adalah kunci sahnya haji mereka,” kata Aris yang Pembimbing KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta itu.

Dia mengatakan, bahwa Allah menitipkan KBIHU ‘Aisyiyah sebagai lembaga yang paling dipercaya oleh masyarakat. “KBIHU ‘Aisyiyah adalah wajah Muhammadiyah di mata jemaah, sesuai dengan tagline kita ‘Melayani Jemaah haji dengan sepenuh hati sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw,” ulasnya.

Dia pun menitipkan pesan, agar KBIHU ‘Aisyiyah menjaga kepercayaan umat, jangan sampai mengecewakan masyarakat, serta menjaga kemurnian tuntunan Nabi Saw.

“Sesuai pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, jangan tergiur ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw,” ujarnya mengingatkan.

Samakan Persepsi

Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, Rowi Sutaryo mengemukakan arti pentingnya peningkatan kebermanfaatan pembimbingan untuk para calon tamu Allah dalam meraih kemabruran dalam berhaji.

“Mudzakarah ini adalah untuk menyamakan persepsi persiapan haji 2027. Kita harus meyakinkan jemaah haji agar mantap persiapannya sejak dari tanah air. Baik itu selama di tanah suci dan di tanah air kembali,” katanya.

Selanjutnya, Rowi menyampaikan beberapa info perhajian yang terkini. Bahwa pengkloteran tahun ini belum tentu sama, karena sekarang masih dinamis perkembangannya. Terkait dengan masalah fikih, ia menjelaskan bahwa sudah ada tuntunannya dari Tarjih.

Sementara kalau teknis sangat kondisional, memerlukan pemahaman dengan respon cepat dan tepat. Seperti halnya teknis pelaksanaan Dam Haji yang juga kondisional. Fatwa tarjih sudah memperbolehkan dilakukan di tanah air karena banyak manfaatnya.

Sebagai penanggung jawab Mudzakarah, Joko Wisono, menggarisbawahi hasil mudzakarah dan beberapa kebijakan pengurus. Ia mengingatkan kepada para pembimbing untuk selalu meningkatkan kompetensi, terutama penguasaan materi dan juga kreatifitas mengelola pembelajaran dalam manasik beregu. Hal ini karena akan berkorelasi langsung dengan output jemaah.

Acara ditutup dengan pembagian regu dan pembimbing yang berbasis pada kewilayahan atau kemantren. Pembentukan regu ini merupakan pertimbangan efektivitas dalam pembelajaran manasik. Sehingga tidak otomatis akan menjadi regu saat pelaksanaan ibadah haji nantinya. (S. Intani)

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...