Jepara, Suara 'Aisyiyah - Pelatihan Muballighat 'Aisyiyah Tingkat Cabang se-Eks Kawedanan Bangsri, Jepara, Jawa Tengah telah usai. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad, (3-4/10/2026) bertepatan dengan 22-23 Rabiul Akhir 1448 H, tersebut digelar di Aula Pondok Putra lantai 2, kompleks Muhammadiyah Bangsri.
Pelatihan diikuti kurang lebih 50 peserta kader 'Aisyiyah dari lima cabang yang berada di wilayah utara Jepara dan dimotori oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jepara.
Lima materi pelatihan yang dipaparkan oleh para narasumber berlangsung sukses dan lancar. Dengan tema "Mencetak Mubalighat yang Berkualitas untuk Berdakwah dengan Ilmu, Hikmah, dan Keteladanan" tampak para peserta pelatihan sangat antusias menyimak dengan saksama.
Dua materi di antaranya adalah Risalah Perempuan Berkemajuan oleh Ketua PDA Jepara, Umi Kulsum dan Retorika Dakwah Public Speaking oleh Koordinator Divisi Pengajian dan Mubalighat MTK PDA Jepara, Syarifah.
Mubalighat Aisyiyah Harus Mencerahkan
Mengingat kondisi daerah akhir-akhir ini yang cukup meresahkan, dalam paparannya, Umi Kulsum menekankan tentang penguatan dakwah yang ramah terhadap perempuan dan peduli anak. Seperti tentang pernikahan usia anak, kekerasan terhadap perempuan dan anak, juga kekerasan seksual yang makin marak.
"Mubalighat harus berdaya agar bisa menolong perempuan dan anak yang rentan kekerasan. Perempuan adalah mitra laki-laki bukan pelengkap. Jika terjadi KDRT, berarti telah merusak kemitraan tersebut," jelas Umi Kulsum.
BACA JUGA
Ia menambahkan, bahwa di era informasi pemberitaan yang terbuka dan transparan, Mubalighat 'Aisyiyah dituntut untuk mampu menguasai IPTEK.
"Harus lebih selektif dan hati-hati, memandang setiap masalah secara utuh, tak terbawa arus negatif, hate speech atau ujaran kebencian," lanjut Umi.
Sementara itu, di materi Retorika Dakwah dan Public Speaking, Syarifah mengajak para peserta pelatihan untuk praktek langsung setelah diberi beberapa arahan singkat dan jelas.
Dari cara memulai bicara di depan hadirin hingga cara menutup kajian. Rumus yang diajarkan cukup sederhana, membuat para calon mubalighat tak sabar ingin segera mempraktikannya.
Dalam paparannya, Syarifah mengingatkan bahwa ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang ketika menjadi pembicara dalam hal ini pendakwah. Di antaranya harus berpengetahuan luas, berani, dan berkepribadian menarik.
Dengan pengetahuan yang luas akan memudahkan kita dalam menguasai tema pembicaraan yang diangkat. Sedangkan dengan kepribadian yang baik dan menarik, apa yang disampaikan lebih sopan dan bijaksana tanpa disisipi dengan ujaran yang kurang bermanfaat. (Wurry Srie)-Nely
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.