Menjaga Pernikahan Tetap Utuh (Freepik.com)

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

Dalam lingkaran pertemanan, ada seorang perempuan muda yang umurnya hampir separuh umur saya. Saya memperlakukannya lebih sebagai anak daripada seorang teman, meski dari sisi karier dan kapasitas keilmuan dia melebihi saya.

Anak-anak saya mengagumi kepribadiannya yang memang pantas untuk diapresiasi. Lulusan perguruan tinggi ternama di Jakarta, lanjut sekolah strata dua di Eropa, memiliki pekerjaan yang sesuai dengan harapannya.

Di luar urusan pekerjaan, orientasi hidup perempuan muda ini sangat sehat. Olahraga lari dan senam sehat adalah hobi nomor satunya. Sebagai vegetarian, pembawaan kesehariannya sumringah dan menyenangkan. Saya membayangkan, andaikan keponakan laki-laki saya bisa menjadi pasangannya, maka ia adalah laki-laki yang sangat beruntung.

Ia sangat menjaga nilai dasar agama, terutama terkait kejujuran dan integritas, termasuk ibadah kesehariannya.

Suatu kali, saya berniat mengenalkannya kepada seorang laki-laki yang menurut hemat saya sebanding. Saya berasumsi bahwa kelak mereka bisa menjadi pasangan yang seimbang dan bahagia.

Saat makan siang, saya membuka pembicaraan ringan. “Nduk, ibarat buah mangga, kamu itu matang di pohon. Kualitasnya pasti bagus. Aku ingin mengenalkan kamu dengan lelaki, dia teman ibunya anak-anak.”

Apa jawabnya? Dengan sopan ia mengisahkan tentang masa lalunya yang kerap disuguhi pemandangan tentang dunia pernikahan, meski tidak ia alami sendiri, namun menyisakan trauma. Akibatnya, ia belum yakin apakah ia akan mampu menjalani pernikahan yang sebaliknya. Ia nyaris menghapus agenda menikah dalam hidupnya.

Ia yakin dengan apa yang ia jalani sekarang sebagai perempuan berdaya dan merdeka adalah anugerah yang terus ia syukuri. Pekerjaan yang menyenangkan, hobi yang bisa ia jalani dengan leluasa, bisa membantu orang lain yang dinilainya sangat membutuhkan. Semua sudah dirasa cukup membahagiakan.

Ia pun ragu bahwa kehadiran orang lain malah akan menyebabkan semua menjadi berbeda. Syukur alhamdulillah jika ia menjadi lebih baik, jika sebaliknya? Ia pun belum yakin bahwa laki-laki yang akan mendampinginya kelak bisa menoleransi budaya hidup yang selama ini sudah ia jalani dengan sangat baik. Intinya, banyak hal yang patut ia pertimbangkan dengan sangat matang dan hati-hati.

Jika pandangan di atas disampaikan anak muda kaum metropolis, saat pulang kampung minggu lalu, saya mendapati asupan informasi yang berbeda. Pandangan tentang pernikahan juga disampaikan oleh kakak ipar perempuan saya. Baginya, pernikahan itu adalah bukti ketaatan manusia kepada ajaran agama.

Meski ia tidak menyebutkan dalilnya, saya sudah cukup hafal dengan argumentasi keagamaan yang ia sampaikan. Namun, ada pesan masuk akal berbasis pengalaman yang ia sampaikan. Baginya, meski pernikahan itu adalah tindakan yang dianjurkan agama, tetapi ada risiko yang harus dijalani dengan penuh kebijaksanaan.

Hidup bersama dengan pasangan yang memiliki latar belakang, budaya, dan pendidikan berbeda tentu akan memengaruhi watak seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu tentu sangat tidak mudah. Ragam masalah di dalam biduk rumah tangga juga akan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Setelah pasangan memiliki anak, tumbuh dewasa, lalu bekerja dan membangun rumah tangga sendiri, apakah lantas masalah kita selesai? Belum juga. Apalagi jika harapan akan kesempurnaan hidup itu masih terus menyala. Maka masalah itu akan beralih dari anak lalu pindah ke cucu. Intinya, masalah dalam hidup berumah tangga itu tidak akan pernah habis hingga ajal tiba.

Niat Sebagai Pemandu

Atas dua pandangan itu, saya mengajukan pertanyaan seperti dalam judul tulisan. Jujur, saya tidak mampu menjawabnya. Karena dalam setiap cerita pernikahan, tidak ada peristiwa yang berlaku sama sehingga solusi yang dihadirkan juga tidak bisa seragam.

Baca Juga: Menikah: Saling Mengadaptasi Keterasingan

Setiap pernikahan akan memiliki dinamika yang beragam. Pernikahan itu unik dan tidak ada satu formula tunggal yang mujarab seperti obat sakit kepala yang bisa berlaku bagi semua pasangan di semua tempat dan waktu. Meski begitu, ada satu prinsip penting sebagai prasyarat pernikahan yang bisa berlaku umum, yaitu niat dalam pernikahan.

Ada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”

Hemat saya, prinsip tentang niat itu relevan dalam kehidupan pernikahan. Niat yang diikrarkan oleh masing-masing pasangan akan menduduki level tertinggi dalam pernikahan.

Apa pun masalah dan dinamika dalam sebuah pernikahan, cobalah untuk berusaha kembali pada niat. Tanyakan kembali kepada hati, niat apakah yang dulu diikrarkan sebelum pernikahan itu dilakukan.

Apakah niat pernikahan itu untuk sekadar melampiaskan hasrat seksual? Atau sekadar untuk menghalalkan suatu persetubuhan antara laki-laki dan perempuan?

Jika demikian adanya, maka bersiaplah menghadapi risiko bahwa ternyata, kekaguman dan kesan seseorang tentang ketampanan dan kecantikan bagi masing-masing pasangan itu usianya tidak pernah lama.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah, ternyata, hubungan seksual bagi pasangan yang sah sekalipun memiliki porsi yang tidak sepenting dan sebesar yang dibayangkan. Ada problematika lain yang jauh lebih penting untuk dihadapi selain soal hubungan seksual.

Mungkin ada juga yang membangun niat pernikahannya karena motif jabatan atau uang yang akan diraih pasangan. Dengan menikahi seseorang, ia berharap ada masa depan cerah yang akan didapatkan. Ada jabatan hingga kekuasaan yang siap ia peroleh.

Padahal watak paling dasar dari jabatan dan harta adalah sama, keduanya sangat mudah hilang dalam sekejap. Jika ada harapan berlebihan untuk memperoleh keduanya, maka bersiaplah untuk menerima kekecewaan.

Meski niat dalam pernikahan itu sangat signifikan, namun tetap ada peluang bagi semua pasangan untuk terus memperbarui niat dalam sebuah pernikahan. Niat yang mungkin dirasa kurang pas bisa diperbarui hingga hidup pasangan dipandu oleh niat yang pas dan dirumuskan secara bersama.

Pengalaman saya selama 24 tahun pernikahan membisikkan pesan bahwa menikah itu bukan semata-mata soal menemukan jodoh yang tepat, tetapi juga tentang memastikan niat yang saya ikrarkan dalam pernikahan.

Pernikahan belum tentu bisa menjamin apa pun karena semua tergantung pada niat. Niat yang baik akan memandu kita dalam menjalani setiap peristiwa dalam pernikahan, yang skenarionya tidak selalu bisa kita tentukan.

Ada ruang-ruang kosong yang hanya bisa kita minta kepada Allah untuk mengisinya dengan kebaikan yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai hamba.

*Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Warta Persyarikatan

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...