Pada tahun 1927, seorang pengajar di Tajmilul Akhlak ‘Aisyiyah menulis sebuah artikel di majalah Suara ‘Aisyiyah dengan judul “Deradjading Tijang Estri Wonten Ing Agami Islam”.
Artikel berbahasa Jawa tersebut menjelaskan bahwa Islam sangat menghargai perempuan. “Kados sampoen terang, bilih dawoehing agami Islam oetawi piwoetjalipoen K. Nabi poenika boten kok bade ngesoraken tijang estri, poenika boten, nanging malah ngoenggoelaken dateng kita tijang estri” (Jadi sudah sangat jelas, bahwa perintah agama Islam atau ajaran Nabi Muhammad saw. itu bukan kok hendak merendahkan derajat perempuan, bukan begitu, tetapi malah meninggikan derajat kita kaum perempuan) (hlm. 52).
***
Di Indonesia, momentum kebangkitan gerakan perempuan Indonesia terjadi pada awal abad ke-20. Para perempuan ini menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak mereka di ruang publik. Salah satu gerakan perempuan yang memainkan peran penting dalam perjuangan tersebut adalah ‘Aisyiyah.
Oleh Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan, apa yang dilakukan ‘Aisyiyah pada waktu itu adalah sebuah tindakan yang radikal atau revolusioner.
Bagaimana tidak. Ketika akses ke ruang publik bagi perempuan masih sangat terbatas, kader ‘Aisyiyah, yang sebagian besarnya adalah keturunan bangsawan, malah “turun panggung” untuk memelihara anak terlantar, mengedukasi perempuan melalui aktivitas pendidikan formal dan pengajian, serta aktif dalam sebuah organisasi.
“Jadi luar biasa radikalnya. Dan itulah kemudian, perempuan di Indonesia, terutama muslim, harus hormat pada Muhammadiyah-‘Aisyiyah, karena dengan itulah perempuan-perempuan itu dapat memainkan peran-peran publik,” jelasnya.
Tidak hanya melalui aktivitas sosial-kemanusiaan dan pendidikan, perjuangan ‘Aisyiyah untuk menyuarakan narasi kesetaraan gender juga dituangkan melalui majalah Suara ‘Aisyiyah. Terbit kali pertama pada 1926, Majalah Suara ‘Aisyiyah menjadi media diseminasi informasi, wadah ideologisasi, dan corong intelektualitas ‘Aisyiyah.
Syiar Perempuan Berkemajuan
Sebagai contoh, dalam majalah Suara ‘Aisyiyah edisi Desember tahun 1932, salah seorang kader ‘Aisyiyah dari Pasar Gedang, Padang, bernama Fathimah Latif menulis sebuah artikel berjudul “Seroean”. Fathimah menyerukan agar kaum perempuan giat belajar dan memajukan diri. Ia berseru, “Ingatlah wahai bangsakoe perempoean! Selama kita dalam kedjahilan dan kelalaian tidaklah akan sempoerna kemadjoean jang telah ditjita-tjitakan itoe.” (hlm. 311).
Menurut Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti, jika melihat konteks historis waktu itu, yakni ketika banyak di antara perempuan belum bisa membaca dan menulis, Majalah Suara ‘Aisyiyah telah memberikan kontribusi nyata dalam menggelorakan semangat literasi perempuan-perempuan Indonesia. Majalah Suara ‘Aisyiyah juga menjadi corong ‘Aisyiyah dalam menyuarakan spirit ajaran Islam tentang kesetaraan gender.
Semangat untuk memajukan kehidupan perempuan, umat, dan bangsa itulah yang terus dilakukan oleh majalah Suara ‘Aisyiyah hingga kini. Hanya saja, dalam kaca mata Munir Mulkhan, peran yang dimainkan majalah Suara ‘Aisyiyah masih terbatas pada kalangan internal organisasi. “Saya kira benar Suara ‘Aisyiyah menjadi cermin bagi avantgarde ‘Aisyiyah, tetapi lebih ke dalam. Orang luar tidak membaca itu,” ungkapnya.
Segmentasi pembaca dan rubrikasi yang masih terbatas, menurutnya, seolah mengindikasikan bahwa majalah Suara ‘Aisyiyah belum siap go publik. Padahal gagasan yang dibawa oleh Majalah Suara ‘Aisyiyah seharusnya bukan hanya untuk anggota ‘Aisyiyah saja, tetapi untuk semua perempuan dan semua manusia.
Visi Ke Depan
Salah satu peran yang dimainkan majalah Suara ‘Aisyiyah adalah sebagai wadah ideologisasi. Peran ini, menurut Tri, perlu terus dikuatkan dengan cara mendorong para pimpinan organisasi untuk membaca dan mendiskusikan konten dalam majalah Suara ‘Aisyiyah.
BACA JUGA
Baca Juga: Jelang 1 Abad Suara Aisyiyah: Potret Perjalanan Suara Aisyiyah
Tujuannya adalah agar para pimpinan organisasi mempunyai pola pikir dan laku kehidupan yang sesuai dengan nilai Islam berkemajuan dan Islam wasathiyah yang mampu menempatkan perempuan dan laki-laki dalam posisi yang setara.
Pada waktu bersamaan, sebagaimana usulan Munir, majalah Suara ‘Aisyiyah harus juga meluaskan pangsa pembacanya. Di satu sisi, majalah Suara ‘Aisyiyah perlu mengungkap (kembali) gebrakan-gebrakan ‘Aisyiyah pada masa lalu ke publik yang lebih luas agar kaum perempuan milenial mengetahui peran apa saja yang sudah dimainkan ‘Aisyiyah sejak dulu.
Dalam hal ini, agar tidak terjebak dalam romantisisme masa lalu, menurut Munir, upaya itu perlu juga dibarengi dengan proses kontekstualisasi. “Artinya, harus ada proses kontekstualisasi juga. Bukan hanya kajian sejarah, tetapi diberi konteks,” ujarnya.
Di sisi yang lain, majalah Suara ‘Aisyiyah juga perlu melibatkan diri dalam isu-isu tentang perempuan yang sedang ramai diperbincangkan. Munir menyarankan agar majalah Suara ‘Aisyiyah menyediakan satu rubrik khusus yang memuat isu-isu perempuan kontemporer. Tujuannya agar orang di luar ‘Aisyiyah menjadi tertarik dengan isu dan/atau gagasan yang dibawa Majalah Suara ‘Aisyiyah.
Hal senada disampaikan Tri Hastuti. Menurutnya, ‘Aisyiyah saat ini sedang giat melakukan kajian tentang berbagai isu dari perspektif perempuan berkemajuan. Oleh karenanya, kehadiran majalah Suara ‘Aisyiyah menjadi sangat penting dan relevan untuk menyebar- kan gagasan yang sedang disuarakan ‘Aisyiyah itu.
“Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana ke depan majalah Suara ‘Aisyiyah melakukan kontekstualisasi visi dengan problem keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Misalnya membahas isu climate change (perubahan iklim); bagaimana mengkontekstualisasikan antara nilai kesetaraan gender dengan isu lingkungan, dan sebagainya,” jelas Tri.
Secara lebih spesifik, Tri menyebut ada beberapa hal yang perlu dilakukan
oleh majalah Suara ‘Aisyiyah ke depan, yakni: (a) mempertegas positioning Majalah Suara ‘Aisyiyah sebagai majalah perempuan dengan nilai Islam berkemajuan; (b) konsisten mengangkat isu kesetaraan gender; (c) membuka ruang bagi pimpinan untuk berdinamika, misalnya dengan memuat tulisan-tulisan yang menginspirasi serta best practice Cabang dan Ranting; (d) mengolah rubrikasi atau topik yang kontekstual;
(e) menyesuaikan tata bahasa dengan pangsa pembaca; (f) melakukan digitalisasi gagasan sebagai upaya menyasar kelompok muda, dengan tetap mempertahankan format majalah cetak, dan; (g) meningkatkan kapasitas intelektual dan manajerial pengelola majalah.
Menurut Tri, semua hal itu perlu dilakukan agar majalah Suara ‘Aisyiyah tidak kehilangan nilai relevansi, men jadi salah satu sumber rujukan berorganisasi, bisa menyentuh langsung kehidupan masyarakat, dan dapat bersaing dengan media-media yang lain.
Adapun kepada para pimpinan ‘Aisyiyah, Tri mendorong mereka untuk mencintai dan menghidup-hidupi majalah Suara ‘Aisyiyah. “Salah satu bentuk mencintai ‘Aisyiyah adalah menulis untuk majalah Suara ‘Aisyiyah, membaca majalah Suara ‘Aisyiyah, dan mendiskusikan isi dalam majalah Suara ‘Aisyiyah,” paparnya.
Sebagai penutup, Munir Mulkhan mengatakan bahwa ke depan majalah Suara ‘Aisyiyah harus melakukan “pemberdayaan perempuan untuk kemajuan kemanusiaan dan kebangsaan. Bukan hanya untuk perempuan ‘Aisyiyah, tetapi untuk bangsa Indonesia yang beragam. Menuntun perempuan- perempuan Indonesia agar lebih sejahtera hidupnya, sesuai dengan substansi ajaran Islam”. (Sirajuddin)
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.