Surabaya, Suara 'Aisyiyah — Bagi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, pemahaman terhadap karakter menjadi pijakan untuk menyiapkan anak menjadi pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri.

Semangat ini terlihat dalam kegiatan pembacaan gambar siswa kelas I yang dilaksanakan pada Senin-Kamis (5–8/10/26). Kegiatan dipandu Heru Tjahyono, Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS).

Koordinator kelas I, Soraya Churrotul Ain mengatakan, kegiatan berlangsung secara bertahap. “Pembacaan gambar oleh Ustaz Heru kita mulai sejak Senin sampai Kamis,” ujarnya.

Kegiatan tersebut melibatkan empat kelas. “Secara berurutan mulai dari kelas I Kutilang, I Lebah, I Lumba-lumba, dan I Kelinci,” tambahnya.

Wakil Kepala Sekolah, Ida Afifah menjelaskan bahwa pembacaan gambar merupakan bagian dari pemetaan siswa. “Asesmen awal masuk kita gunakan untuk pemetaan siswa terhadap pembagian kelas,” katanya.

Sedangkan pembacaan gambar menjadi tindak lanjut untuk memahami siswa secara lebih mendalam. “Untuk menggali informasi mengenai struktur kepribadian siswa, emosi, mental, kemampuan konsentrasi, gaya belajar, serta hambatan siswa dalam belajar,” jelas Ida.

Kepala Sekolah Kreatif, Ely Rhodlifah mengatakan, sekolah tidak ingin hanya mengejar kemampuan akademik. “Mulai dari siswa kelas bawah kami bangun yang namanya adab dulu baru ilmu,” tuturnya.

Menurut Ely, pembentukan karakter menjadi bagian penting dari pendidikan. “Melalui pembacaan gambar kita dapat mengetahui masing-masing karakter siswa dan gaya belajarnya sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan tepat,” ujarnya.

Pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui kurikulum Leader in Me. Heru Tjahyono mengatakan, Leader in Me digunakan untuk mengakomodasi potensi dan kemampuan siswa.

“Kurikulum Leader in Me juga bagian wadah untuk mengakomodasi kemampuan dan potensi siswa, melatih jiwa leadership dan mencetak generasi yang adaptif dan mampu menjawab tantangan di masa depan,” katanya.

Namun leadership, menurut Heru, tidak semata-mata tentang menjadi pemimpin kelompok. “Tujuannya sama, yaitu melahirkan anak yang berani memimpin dirinya sendiri dan karyanya,” tegasnya.

Selain Leader in Me, sekolah mengembangkan pembelajaran berbasis inkuiri. “Proses pembelajaran kita desain sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa,” katanya.

Siswa juga memperoleh pengalaman melalui life skill dan entrepreneurship. “Kami punya life skill dan entrepreneurship di setiap jenjang kelas untuk mempertajam kemampuan siswa,” ujar Heru.

Pembelajaran kontekstual membuat siswa terlibat langsung dalam pengalaman nyata. “Pembelajaran yang kontekstual menghadirkan pembelajaran yang nyata dan siswa terlibat aktif dalam proses belajar,” tambahnya.

Wali murid, Riska Nur Rosyidiana merasakan perubahan tersebut pada anaknya, Raka Haris Pradipa.
“Raka semakin mandiri dalam mengerjakan tugas, lebih mampu mengelola emosinya, serta mudah bergaul dengan teman-temannya,” katanya.

Ia juga melihat kepercayaan diri Raka semakin berkembang. Bagi Sekolah Kreatif Baratajaya, pendidikan akhirnya bukan hanya tentang membuat anak pintar, tetapi membantu mereka mengenal dirinya, memiliki adab, berani berkarya, dan siap memimpin masa depannya. (Ahmad)-sa

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...