Capacity Building MPKU
Jakarta, Suara ‘Aisyiyah — Kegiatan Capacity Building for Muhammadiyah’s Youth on FGM/C yang diselenggarakan atas kerja sama Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan United Nations Population Fund (UNFPA) berlangsung pada Rabu-Kamis (30-1/9-10/26) di Mercure Hotel Cikini, Jakarta.
Acara dua hari ini menjadi momentum krusial bagi generasi muda Muhammadiyah, khususnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Selain membahas perspektif kesehatan reproduksi, hak asasi manusia, serta tafsir agama dan Fatwa Tarjih terkait pemotongan/pelukaan genitalia perempuan (FGM/C), kegiatan ini juga membekali kader dengan strategi komunikasi digital hingga penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Keterlibatan IMM dalam forum ini menegaskan pentingnya memperluas ruang keilmuan dan kepekaan sosial kader kesehatan. Ketua Bidang Kesehatan IMM DIY, Afghan Azka Falah sebagai salah satu peserta menyampaikan bahwa isu FGM/C bukan semata persoalan perempuan.
“FGM/C atau sunat perempuan adalah isu yang perlu juga dipahami oleh laki-laki untuk membentuk pemahaman dan gerakan yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi. IMM perlu memperluas ruang keilmuan bagi kader kesehatan untuk juga menjadi bentuk aktivisme intelektualitas di lingkungan IMM,” ujar Afghan.
Lebih mendalam, dari sudut pandang bioetika, upaya penghapusan FGM/C menuntut pemahaman yang lebih utuh dari sekadar intervensi medis semata. Afghan, yang juga merupakan sarjana biologi sekaligus magister bidang Bioetika, menegaskan bahwa persoalan ini menyangkut martabat perempuan, bukan hanya aspek teknis medis.
BACA JUGA
Baca Juga: Khitan Perempuan: Tradisi atau Syar’i?
“Perlu kita pahami bahwa eradikasi FGM/C ini tidak hanya bertitik berat pada tindakan invasif dan medikalisasi nakes pada praktik sunat perempuan, namun juga berkaitan dengan martabat perempuan yang selama ini tidak dilibatkan dalam keputusan medis bagi tubuhnya,” katanya.
Melalui pelatihan ini, keterlibatan aktif Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) diharapkan mampu melahirkan agen edukasi dan kampanye yang inklusif serta beretika.
Pemahaman komprehensif dari aspek kesehatan, hukum Islam, hingga bioetika menjadi modal utama IMM untuk terus mengagendakan aktivisme intelektual yang berpihak pada hak asasi dan martabat kemanusiaan.
Sebagai langkah nyata ke depan, tindak lanjut dari kegiatan ini diharapkan mampu mencetak para kader kesehatan IMM sebagai youth champion dan agent of change.
Para champion ini memegang peran strategis untuk menyebarluaskan informasi pencegahan FGM/C, mengintegrasikannya ke dalam agenda organisasi, serta gencar melakukan edukasi sebaya dan komunitas.
Lebih dari itu, pemanfaatan media sosial secara cermat untuk menyampaikan informasi yang benar, penguatan koordinasi bersama tokoh agama dan struktur Muhammadiyah, hingga dukungan penuh pada sosialisasi Fatwa Tarjih tentang khitan perempuan akan menjadi pilar utama keberlanjutan gerakan ini demi mewujudkan pemuliaan hak serta martabat perempuan secara nyata.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.