Pekalongan, Suara ‘Aisyiyah – Benediktus, sehari-hari bertugas sebagai fisioterapis tim Persib Bandung sekaligus mengelola dua klinik fisioterapi di Kota Bandung.
Di tengah kesibukannya mendampingi atlet profesional, ia memilih kembali ke bangku kuliah untuk menempuh Program Profesi Fisioterapi di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP).
Usaha itu berbuah manis. Pada prosesi Sumpah Profesi Fisioterapi UMPP, Senin (29/9/26), Benediktus resmi menerima lencana fisioterapis setelah dinyatakan kompeten dalam ujian kompetensi nasional.
Benediktus mengaku memilih UMPP atas rekomendasi dari rekan sejawat dan pengalaman mahasiswa UMPP yang pernah praktik di tempat kerjanya membuatnya mantap menempuh pendidikan di Pekalongan, meski harus bolak-balik dari Bandung.
“Saya sudah menyelesaikan tiga S1, akhirnya melanjutkan profesi di UMPP. Banyak teman merekomendasikan karena sistem pengajarannya bagus, dan jarak Bandung-Pekalongan masih memungkinkan,” katanya.
Belajar Sambil Menangani Pemain Persib
Rutinitas Benediktus terbilang padat. Selain menjadi fisioterapis Persib Bandung, ia juga mengelola klinik Bintang Physio dan Kinestera di Kota Bandung.
Menurutnya, tuntutan profesi membuatnya harus terus memperbarui ilmu agar pelayanan kepada pasien maupun atlet semakin baik. “Pekerjaan saya menuntut terus meng-upgrade keilmuan. Itu salah satu alasan saya memilih UMPP,” ujarnya.
Selama satu tahun atau dua semester menjalani pendidikan profesi, ia merasakan metode pembelajaran yang interaktif. Dosen, kata dia, tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong mahasiswa berpikir kritis untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di dunia fisioterapi.
Mahasiswa Katolik di Kampus Muhammadiyah
Ada satu pengalaman yang paling membekas bagi Benediktus selama kuliah di UMPP. Sebagai mahasiswa beragama Katolik, ia sempat memiliki kekhawatiran sebelum memulai perkuliahan di kampus Muhammadiyah. Namun, pengalaman yang ia rasakan justru berbeda.
BACA JUGA
Baca Juga: Inovasi PTMA Tiada Henti
“Awalnya saya mengira itu akan menjadi obstacle. Tapi setelah masuk, teman-teman, dosen, sampai pimpinan kampus sangat merangkul. Tidak ada diskriminasi. Semua saling menghargai, sehingga saya bisa mengembangkan potensi saya semaksimal mungkin,” tuturnya.
Ia menambahkan suasana saling menghormati itu membuatnya merasa nyaman selama menjalani pendidikan di Pekalongan.
Benediktus juga bersyukur karena angkatan pertama Program Profesi Fisioterapi UMPP berhasil mencatat kelulusan 100 persen pada ujian kompetensi nasional.
Baginya, gelar profesi bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
“Harapannya ilmu yang saya dapat bisa saya terapkan untuk masyarakat, baik di Bandung, Pekalongan, maupun Indonesia pada umumnya,” katanya.
Rektor UMPP: Profesional yang Humanis dan Caring
Dalam prosesi sumpah profesi tersebut, Rektor UMPP, Dr. Nur Izzah, mengingatkan para lulusan bahwa lencana profesi yang disematkan bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Jadilah profesional yang humanis dan caring. Tanggung jawab yang besar telah diletakkan di pundak saudara. Ingatlah bahwa Anda bergerak di bidang kemanusiaan yang sangat mulia,” ujar Nur Izzah.
Ia juga menegaskan bahwa setiap fisioterapis telah mengucapkan sumpah untuk memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan latar belakang siapa pun. “Saudara telah berjanji tidak akan membeda-bedakan suku, ras, maupun golongan,” tegasnya.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.