ums.ac.id, SURAKARTA – Di sudut kawasan Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, riuh tawa belasan anak meramaikan sebuah ruang kelas sederhana. Chow Kit, lokasi Sanggar Bimbingan (SB) Kampung Baru, merupakan suatu distrik bersejarah yang disebut-sebut seperti Blok M-nya Kuala Lumpur. Muka-muka mungil itu adalah putra-putri para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di balik kepindahan mereka melintasi negara demi membersamai orang tua, tersimpan tantangan besar yang jarang tersorot yaitu proses adaptasi sosial di lingkungan baru.

Melihat realitas tersebut, tim dosen dari Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hadir membawa upaya solutif melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI). Berlokasi di SB Kampung Baru, sekolah ini merupakan salah satu ruang belajar binaan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia.

Tim yang diketuai oleh Dr. Andika Sanjaya, S. I.Kom., M. Si., ini menghadirkan pendekatan anyar lewat metode gamifikasi. Pengelola SB Kampung Baru, Mintarsih Warijan, menyambut baik kedatangan tim dari UMS dan berharap kerjasama lintas negara ini akan semakin terjalin.

Bagi anak-anak pekerja migran, menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan pola interaksi yang baru bukanlah perkara mudah. Rasa canggung, tidak percaya diri, hingga kendala komunikasi kerap menjadi benteng tak kasat mata.

Melihat kendala itu, Dr. Andika Sanjaya, S. I.Kom., M. Si., bersama timnya yang terdiri dari Sidiq Setyawan, Devi Afriyantari Puspa Putri, dan Arif Surya Kusuma, memilih tidak menggurui. Mereka justru meleburkan materi adaptasi sosial ke dalam bentuk permainan interaktif (gamifikasi).

Melalui model gamifikasi ini, anak-anak tidak dituntut menghafal teori sosial yang rumit. Sebaliknya, mereka diajak masuk ke dalam simulasi permainan, bermain peran, bercerita, dan berkolaborasi dalam kelompok. Tanpa disadari, aturan-aturan kecil dalam permainan mengajarkan mereka tentang empati, pentingnya kerja sama, keterbukaan, serta cara berkomunikasi yang sehat dengan lingkungan sekitar.

“Anak-anak pada dasarnya belajar paling cepat melalui bermain. Dengan gamifikasi, proses adaptasi sosial yang semula terasa berat atau menakutkan bagi mereka, diubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan interaktif,” ujar Andika, Jumat, (2/10/2026).

Hadirnya program PkM-KI UMS di SB Kampung Baru ini menegaskan komitmen pengabdian lintas negara yang berkelanjutan dari civitas academica UMS.

“Melalui dukungan penuh dari perguruan tinggi dan kemitraan erat bersama PCIA Malaysia, ruang-ruang belajar informal di perantauan seperti Kampung Baru kami suntikan metode instruksional yang segar,” katanya.

Geliat antusiasme terlihat jelas sepanjang sesi kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/9/2026). Binar mata anak-anak yang bersemangat memenangkan permainan kelompok menjadi gambaran hangat betapa pendekatan yang ramah anak ini dinanti-nantikan.

“Bagi para pengelola sanggar dan guru, model gamifikasi yang kami hadirkan ini memberikan wawasan baru dalam mengemas pembelajaran harian agar anak didik tetap kerasan dan makin percaya diri,” ungkap Andika.

Ia juga mengatakan bahwa pengabdian ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban tri dharma perguruan tinggi di kancah internasional.

“Pengabdian ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban tri dharma perguruan tinggi di kancah internasional. Lebih dari itu, di balik riuh rendah permainan sore itu di Kampung Baru, ada harapan yang sedang dipupuk,” ujarnya.

Tim pengabdian berupaya membantu anak-anak pekerja migran tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mudah beradaptasi, dan siap menyongsong masa depan tanpa kehilangan akar identitasnya.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan oleh PCIA Malaysia dan semoga kegiatan serupa dapat dilaksanakan di waktu yang lain,” pungkasnya. (Adi/Humas)

Sumber Informasi & Rujukan UMS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...