Tim peneliti Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerbitkan buku hasil riset yang mengkaji peluang pengembangan kerja sama maritim Indonesia dan Korea Selatan melalui pendekatan maritime paradiplomacy atau paradiplomasi maritim.

Buku berjudul Archipelago Meets Peninsula: Building a Regional Maritime Paradiplomacy Network between Indonesia and South Korea tersebut diterbitkan Penerbit UMM pada Juli 2026. Penelitian yang mendasarinya mendapat dukungan Korea Foundation melalui program 2025 KF Policy Research Grant.

Dosen HI UMM Terbitkan Buku Riset Kerja Sama Maritim Indonesia-Korea Selatan

Riset ini menyoroti peluang keterlibatan pemerintah daerah, kota pelabuhan, otoritas pelabuhan, dan institusi lokal dalam membangun kemitraan lintas negara. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi kerja sama maritim yang tidak hanya bertumpu pada hubungan antarpemerintah pusat, tetapi juga mempertimbangkan potensi serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Hamdan Nafiatur Rosyida, salah satu anggota tim peneliti, mengatakan potensi daerah dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kolaborasi yang saling melengkapi antara Indonesia dan Korea Selatan.

“Melalui pendekatan paradiplomasi maritim, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dapat dibangun lebih dekat dengan kebutuhan daerah. Potensi pelabuhan, perikanan, ekonomi biru, dan pariwisata bahari bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kolaborasi yang saling melengkapi,” ujar Hamdan.

Penelitian tersebut dipimpin Tonny Dian Effendi bersama Havidz Ageng Prakoso, Shannaz Mutiara Deniar, dan Hamdan Nafiatur Rosyida.

Melalui kajian ini, tim peneliti melihat peluang pengembangan agenda kemitraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Sejumlah bidang yang dapat dikembangkan mencakup konektivitas logistik, pengelolaan pelabuhan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kedua negara.

Salah satu tahapan penelitian berlangsung melalui lokakarya kolaboratif pada Januari 2026. Forum tersebut mempertemukan peneliti dari Indonesia dan Korea Selatan untuk bertukar gagasan, membahas temuan, serta merumuskan perspektif bersama mengenai peluang kerja sama maritim.

Proses tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan penelitian akademik dengan pengembangan gagasan kebijakan dan kemitraan lintas wilayah.

Buku ini memuat sejumlah kajian mengenai peluang hubungan Pelabuhan Busan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur. Pembahasannya juga mencakup potensi kerja sama di Probolinggo dan Kalimantan Timur, pengembangan ekonomi biru, pariwisata bahari, serta tata kelola nelayan migran.

Indonesia memiliki sumber daya laut dan konektivitas antarpulau yang besar. Sementara itu, Korea Selatan memiliki pengalaman dalam industri maritim, teknologi, perdagangan laut, dan pengelolaan pelabuhan.

Perbedaan kapasitas tersebut dinilai membuka peluang pertukaran pengetahuan dan penguatan kelembagaan. Dengan melibatkan aktor lokal, kerja sama dapat diarahkan pada kebutuhan wilayah pesisir dan pengembangan sektor maritim yang relevan bagi masing-masing pihak.

Pendekatan paradiplomasi maritim juga menempatkan kota, pelabuhan, dan institusi lokal sebagai bagian dari jaringan hubungan internasional, terutama dalam mengembangkan kolaborasi yang berangkat dari kebutuhan daerah.

Buku tersebut turut memuat kata pengantar Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Ia menekankan bahwa hubungan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan besar dan pemerintah nasional.

Aktor lokal, termasuk kota, pelabuhan, institusi, dan komunitas, juga memiliki peran dalam membangun hubungan lintas negara. Dalam konteks ini, perguruan tinggi dapat menjembatani pengembangan pengetahuan dengan praktik kebijakan melalui riset, dialog, dan pertukaran akademik.

Penerbitan Archipelago Meets Peninsula menjadi hasil konkret kolaborasi riset yang menghubungkan penelitian, diskusi akademik, lokakarya, dan publikasi.

Program Studi Hubungan Internasional UMM bersama Center for East Asia Studies berharap buku tersebut dapat menjadi referensi bagi akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, pemerintah daerah, dan pengelola pelabuhan.

Ke depan, gagasan yang dibahas dalam buku ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kemitraan antarkota dan antarpelabuhan, pertukaran pengetahuan, serta program bersama yang memberikan manfaat bagi wilayah pesisir dan sektor maritim Indonesia maupun Korea Selatan.

Sumber Informasi & Rujukan PWMU.CO
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...