ums.ac.id, SURAKARTA – Merespon perkembangan digital yang kian meningkat, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  berkolaborasi bersama Bebras Indonesia menyelenggarakan Workshop Nasional Bebras Indonesia 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang Meeting Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Minggu (11/10/2026).

Bebras Indonesia merupakan organisasi yang berfokus pada bidang teknologi digital. Orientasi arah gerak Bebras Indonesia adalah untuk menyebarluaskan dan mengajarkan computational thinking atau berpikir komputasional guna menguatkan literasi digital.

Dosen Prodi Pendidikan Teknik Informatika (PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS Dr. Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng., mengatakan bahwa kampus telah menjalin kolaborasi dengan Bebras Indonesia sejak 2016. Menurutnya, sinergitas tersebut untuk mendukung pemahaman pemanfaatan kecanggihan teknologi.

“UMS berupaya menyebarluaskan secara masif pemahaman literasi digital kepada seluruh instansi pendidikan,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa sinergitas Bebras Indonesia dengan UMS selama ini difokuskan pada pendampingan guru-guru sekolah Muhammadiyah dalam mengimplementasikan pembelajaran informatika dan KKA yaitu koding dan kecerdasan artificial.

“Kami melakukan pendampingan untuk lebih memahami metode computational thinking sebagai elemen utama atau fondasi utama dalam pembelajaran Informatika dan KKA di institusi pendidikan tingkat dasar hingga menengah atas,” jelasnya.

Meskipun kolaborasi tersebut masif dalam menyebarluaskan metode computational thinking, Irma menegaskan tidak menafikan peran akal sebagai poros utama berpikir yang dianugerahkan Tuhan kepada hambanya.

“Kami tidak ingin ini menjadi paradigma yang salah, karena Allah telah memberikan akal untuk bisa mengoptimalkan sesuatu sesuai dengan fitrahnya. Dan bagaimanapun ciptaan Allah adalah ciptaan yang paling mulia,” ujarnya.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyambut baik kedatangan para peserta Workshop Nasional Bebras Indonesia. Ia menyebutkan sebanyak 97 peserta hadir dari setiap wilayah di Indonesia. Ia juga turut memperkenalkan kampus cabang milik UMS.

Harun dalam sambutannya juga menjelaskan perlunya literasi humanitas di era perkembangan teknologi digital. Perkembangan teknologi digital sering memengaruhi paradigma masyarakat, sehingga literasi digital perlu dimasifkan sebagai antisipasi tersebut.

Dalam perkembangan ini, Harun menilai posisi guru sebagai peran sentral dalam mengkombinasikan literasi digital dan literasi humanitas. Guru tidak boleh jumud (red: kaku) dalam merespon perkembangan digital.

“Guru adalah pemegang kontestan pendidikan, harus bersifat dinamis di era perkembangan digital,” tegasnya.

Ia berharap sinergitas UMS dengan Bebras Indonesia dapat memberikan inovasi solutif berkelanjutan untuk disebarluaskan kepada para pelaku pendidikan.

Dalam sesi materi, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., yang sebelumnya merupakan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018-2026, menjadi narasumber narasumber kegiatan dan menyampaikan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah merambah ruang-ruang kelas.

“AI saat ini telah digunakan oleh seluruh penduduk sekolah. Sekolah berperan sebagai pengarah utama untuk menggunakan AI secara paham, kritis, dan bertanggung jawab,” paparnya.

Ia menyebutkan empat pilar dalam menggunakan AI. Pertama, memahami cara AI mendapat data. Kedua, menggunakan AI secara tepat. Ketiga, mengevaluasi atau memeriksa ulang kesalahan dan bias yang ada pada AI. Keempat, tanggung jawab dan menjaga etika penggunaan AI.

“AI juga merupakan produk manusia yang dapat dijadikan teman berpikir atau berdiskusi, bukan hanya menjadi pembantu memberi jawaban pada manusia,” pungkasnya. (Affiq/Humas)

Sumber Informasi & Rujukan UMS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...