ums.ac.id, SURAKARTA – Inovasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dengan Augmented Reality (AR) untuk edukasi batik mengantarkan lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih tiga penghargaan dalam PENA Essay Nasional 3 di Politeknik TEDC Bandung. Melalui BATIKALIVE, mereka meraih Juara Umum 2, Gold Medal, dan Juara Favorit Poster.

Tim tersebut terdiri atas Nico Dzaky Luthfan Saputra, Balqis Naila Ahmad, Cheyzha Putri Chantya, Riyan Mardanil, dan Aisyah Aminahnur Mahmudah. Mereka mengembangkan gagasan aplikasi edukasi dan wisata budaya batik melalui karya berjudul “BATIKALIVE: Transformasi Edukasi dan Wisata Budaya Batik melalui Teknologi Artificial Intelligence dan Augmented Reality Berbasis Realtime Interactive System”.

Nico Dzaky Luthfan Saputra menjelaskan, BATIKALIVE dirancang untuk membantu generasi muda mengenal batik secara lebih interaktif. Gagasan itu berangkat dari pengamatan tim bahwa batik tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan sejarah, asal daerah, dan filosofi yang belum tentu dipahami penggunanya. Sementara itu, edukasi batik di museum, galeri, dan sentra batik masih banyak mengandalkan teks serta gambar.

“Melalui BATIKALIVE, kami ingin menghadirkan cara mengenal batik yang lebih interaktif. Pengguna dapat mempelajari nama motif, asal daerah, dan filosofi batik melalui teknologi yang dekat dengan kehidupan generasi muda,” kata Nico, Senin (12/10/2026).

Dalam rancangan aplikasi tersebut, Artificial Intelligence (AI) digunakan untuk mengenali pola motif batik melalui kamera ponsel dan menampilkan informasi terkait. Adapun fitur Augmented Reality (AR) guna untuk menghadirkan pengalaman visual interaktif, termasuk fitur virtual try-on yang memungkinkan pengguna mencoba tampilan produk batik secara virtual sebelum membelinya.

Tim juga merancang sejumlah fitur pendukung, seperti Explore untuk mengenal batik dari berbagai daerah, Museum Virtual untuk melihat koleksi batik secara digital, serta Batik Passport yang menggunakan sistem poin, level, dan badge. Selain itu, Smart Tourism Map dirancang untuk membantu pengguna menemukan destinasi wisata budaya, sedangkan marketplace UMKM menghubungkan pengguna dengan produk pengrajin lokal.

Pengembangan BATIKALIVE dimulai dengan mengidentifikasi persoalan pelestarian budaya, menyusun konsep aplikasi, merancang fitur utama, dan menyiapkan prototipe. Konsep tersebut kemudian dituangkan dalam esai dan dipresentasikan dalam kompetisi. Nico mengungkapkan, tim sempat merasa pesimistis ketika melihat gagasan peserta lain. Untuk memperkuat penyampaian ide, mereka memadukan drama singkat dengan demonstrasi prototipe di hadapan juri hingga melaju ke grand final bersama delapan tim lainnya.

“Proses kompetisi ini menjadi pengalaman berharga bagi kami, mulai dari diskusi dan penyusunan esai hingga menyiapkan presentasi. Kami berusaha menyampaikan gagasan BATIKALIVE dengan cara yang menarik agar konsep dan fitur yang dirancang dapat dipahami juri,” ujar Nico.

Saat ini, BATIKALIVE masih berada pada tahap pengembangan prototipe. Tim berencana menyempurnakan fitur pengenalan motif berbasis AI, pengalaman interaktif berbasis AR, serta basis data motif batik Indonesia yang dilengkapi informasi sejarah dan filosofi terverifikasi. Mereka juga merencanakan uji coba di sejumlah sentra batik, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, dan Cirebon, dengan menjajaki kolaborasi bersama pengrajin, UMKM, pengelola museum, serta pengelola destinasi wisata budaya.

Ke depan, tim berharap BATIKALIVE dapat terintegrasi dengan museum, kampung batik, desa wisata, dan pusat edukasi budaya di berbagai daerah. Pengembangan tersebut masih memerlukan penyempurnaan teknologi, validasi informasi budaya, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Tim berharap BATIKALIVE dapat menjadi salah satu upaya mengenalkan kekayaan batik Indonesia melalui pendekatan digital yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Kami berharap BATIKALIVE dapat menjadi salah satu upaya pelestarian batik yang menghubungkan generasi muda dengan budaya Indonesia melalui teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman,” tutur Nico. (ARP/Humas)

Sumber Informasi & Rujukan UMS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...