Jayapura – Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) melakukan pengesahan kerja sama dengan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, bertempat di ruang pertemuan Pusat Pelatihan dan Pembinaan Wanita Gereja Kristen Injili (P3W GKI), Padang Bulan, Jayapura, Senin (10/08/2026).
Pengesahan kerja sama dilakukan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Papua, Dr. Rustamadji, M.Si., bersama Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Samsul Maarif, Ph.D. Kegiatan dirangkaikan dengan workshop analisis dokumen pendampingan bagi dosen terpilih dalam Program BERDAYA, kerja sama ICRS dengan The Asia Foundation (TAF) dalam pendampingan bagi perempuan korban kekerasan di Papua dan Papua Selatan.
Dalam sambutannya, Rektor UMP, Rustamadji, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kerja sama tersebut. Ia menilai sinergi antara kampus, lembaga, dan peneliti merupakan langkah strategis yang dapat memberikan kontribusi positif bagi Tanah Papua, khususnya dalam membangun karakter mahasiswa.
“Saya pikir sinergi ini sangat luar biasa antar kampus, antar lembaga, antar peneliti yang nantinya menghasilkan sesuatu yang tadinya subjektif jadi produktif, yang tadinya kurang dengar-dengaran jadi dengar-dengaran,” ujarnya.
Rektor juga menilai pembahasan mengenai pendidikan, penelitian, serta kekerasan terhadap perempuan dalam kegiatan tersebut memiliki nilai penting untuk dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi.
“Di sini ada istilah yang akan nanti diteliti, ada pengajaran, ada riset, ada pengertian dan kekerasan terhadap perempuan. Ini menarik sekali, di sini ada istilah bagi saya ini unik dan sangat menarik dan sangat penting,” katanya.
Menurut Rektor, kerja sama tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun karakter mahasiswa dan generasi muda di Tanah Papua.
“Saya pikir ini kerjasama yang sangat strategis. Apalagi di Papua secara khusus dan tanah Papua secara umum kita tidak bisa mendefinisikan, kita tidak bisa mendeskripsikan bahwa dalam rangka membahagiakan saudara-saudara kita yang ada di Papua itu dengan mengontrol uang, dengan mengontrol material, tetapi langkah awalnya adalah character building, membangun karakter,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus diperluas dengan melibatkan perguruan tinggi lainnya di Papua sehingga manfaat kolaborasi dapat dirasakan lebih luas.
“Keberlanjutan nanti perlu diperluas lagi. Ini baru di Papua, nanti di perguruan tingginya satu, nanti bisa menggandeng perguruan tinggi yang lain. Pak Samsul bilang mau ke Sorong dan ke mana, semakin luas kita menebarkan kebaikan tentu semakin baik,” katanya.
Rektor menambahkan, kerja sama tersebut diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi mahasiswa dan masyarakat Papua, baik dari sisi sikap, perilaku maupun kehidupan sosial.
“Manfaatnya jelas untuk perubahan dari hal sekarang ini ke depannya menjadi lebih baik, perubahan sikap, perubahan perilaku, perubahan kebahagiaan dan perubahan fasilitas dan itu akan menyusul,” tambahnya.
Sementara itu, Samsul Maarif yang hadir mewakili tiga perguruan tinggi pembentuk ICRS, menyampaikan bahwa kerja sama dengan UM Papua merupakan kesempatan untuk mengembangkan kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa ICRS merupakan lembaga yang dibentuk oleh tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana.
“Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) adalah lembaga yang dibentuk oleh tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Ketiganya bergabung dalam suatu program studi yang di masing-masing kampus telah memiliki program doktor atau S3,” ujarnya.
Samsul Maarif menjelaskan bahwa ICRS selama ini memiliki berbagai kegiatan dalam bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk memberikan kontribusi hingga tingkat komunitas dan keluarga.
“Selama ini, ICRS memiliki berbagai kegiatan, seperti penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, selain kegiatan pengajaran. Jadi, lembaga ini semacam mengarahkan ketiga kampus untuk dapat terjun dan berkontribusi hingga ke tingkat komunitas dan keluarga,” katanya.
BACA JUGA
Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi awal bagi pengembangan berbagai program bersama antara ICRS dan UM Papua.
“Tujuan kerja sama ini tentunya berkaitan dengan perguruan tinggi secara keseluruhan. Apa yang kita lakukan pada kesempatan ini mungkin dapat menjadi semacam batu loncatan untuk berbagai program yang dapat kita lakukan bersama,” ujarnya.
Salah satu peserta sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Papua, Imam Alfian Kadir, M.I.Kom., menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan bahan ajar dan kajian mengenai kekerasan terhadap perempuan. Salah satu output kegiatan berupa bunga rampai diharapkan dapat menjadi rujukan bahan ajar di lingkungan UMP.
“Output dari kegiatan ini kita berharap bisa membawa kegiatan positif, terutama di dunia pendidikan. Kita bisa mengawal kekerasan perempuan dari kampus,” ujarnya.
Ia juga berharap kerja sama antara ICRS dan UMP dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang mendukung implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Kita berharap kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini. Ada kerja sama atau program misalnya yang bisa dikembangkan, terutama dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi,” katanya.
Alfian menambahkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan dan temuan baru yang dapat dikembangkan sebagai bahan kajian dalam bidang Ilmu Komunikasi, khususnya terkait pendampingan terhadap pelaku maupun korban kekerasan terhadap perempuan.
“Banyak temuan dan fakta-fakta sosial yang tentu bisa menjadi bahan kajian yang menarik untuk kita kembangkan dari sisi pengetahuan di Ilmu Komunikasi,” tambahnya.
Peserta lainnya dari UM Papua, Sinta Nurcahya Sulistyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Ketua Program Studi Psikologi, mengapresiasi program tersebut karena dinilai dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Papua dan memiliki dampak jangka panjang, khususnya dalam mendukung pemahaman serta pelayanan bagi perempuan.
“Tanggapan saya harapan ini sangat mendukung untuk keberlangsungan masyarakat di Papua, khususnya mungkin pertama kali bagi UMP Papua melakukan program seperti ini. Maksudnya dalam artian ini kan berdampak panjang juga, kita juga akan memberikan kontribusi yang nyata juga untuk masyarakat Papua,” ujarnya.
Menurut Sinta, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman baru sebagai dosen, terutama melalui kesempatan untuk berkolaborasi dengan para akademisi dan senior dari berbagai bidang.
“Pengalaman dan pengetahuan, khususnya pengalaman untuk saya sendiri sebagai dosen baru, saya merasa senang sekali dilibatkan seperti itu dengan banyak sekali senior-senior di sini yang nantinya kita berkolaborasi seperti itu. Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa buat saya,” katanya.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan ruang bagi dosen UMP untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Harapan saya dengan peresmian dan program ini terus berkelanjutan karena melihat peluangnya, apa yang menjadi pembahasan kita saat ini itu benar-benar sangat luar biasa dan banyak sekali kajian-kajian. Kemudian pada acara ICRS itu juga bisa memberdayakan kami dosen-dosen yang ada di UM Papua untuk bagaimana berkontribusi secara nyata dalam bidang ilmu pengetahuan,” tambahnya.
Pengesahan kerja sama dan pelaksanaan workshop tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi UMP dan ICRS untuk memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan masyarakat di Tanah Papua.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.