Jayapura, UM Papua— Rektor Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) menggelar pertemuan bersama Badan Pembina Harian (BPH), Wakil Rektor (Warek), Ketua Program Studi, serta pejabat struktural UM Papua, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Ruangan A UM Papua.

Pertemuan ini dihadiri Rektor UM Papua, Dr. Rustamadji, M.Si., Wakil Rektor I Dr. Indah Sulistiani, S.E., M.I.Kom., Wakil Rektor II Dr. Ir. Muhammad Nur Jaya, M.Si., Wakil Rektor III Dr. Syarifuddin, M.I.Kom., serta unsur BPH, yakni Dr. Untung Mudiarta, M.Si., Andi Rahman Nonsy, S.Pd., M.M., Iwan Solehudin, S.Sos., M.H., dan Ir. Merza Edi Nadzari, serta Ketua Program Studi dan pejabat struktural di lingkungan UM Papua.

Kegiatan diawali dengan kultum yang disampaikan oleh perwakilan BPH, Dr. Untung. Dalam kultumnya, Dr. Untung mengingatkan pentingnya membangun kualitas diri, menjaga keikhlasan, mampu mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai persoalan, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan kampus.

Ia menekankan bahwa setiap individu maupun unsur dalam organisasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, perbedaan tersebut perlu menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama.

“Kolaborasi menjadi hal yang sangat penting. Kita tidak boleh merasa superior terhadap komponen yang lain. Justru karena setiap komponen memiliki kelebihan dan kekurangan, kita harus saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama,” ujarnya.

Setelah kultum, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian Rektor UM Papua mengenai sejumlah agenda strategis pengembangan universitas, termasuk penguatan kerja sama dan pelaksanaan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa kolaborasi antarkomponen menjadi bagian penting dalam membangun dan mengembangkan universitas. Menurutnya, seluruh unsur di lingkungan kampus perlu bergerak bersama dengan memanfaatkan kelebihan masing-masing.

“Kolaborasi menjadi hal yang sangat penting. Kita tidak boleh merasa superior terhadap komponen yang lain. Justru karena setiap komponen memiliki kelebihan dan kekurangan, kita harus saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kegiatan kerja sama dalam meningkatkan eksistensi dan citra universitas. Menurutnya, keterlibatan dosen dalam berbagai kegiatan di luar kampus dapat memperkuat jejaring sekaligus memperkenalkan UM Papua kepada masyarakat dan mitra.

“Ini juga penting, karena melalui kegiatan di luar, dosen dapat membawa dan menambah brand, sehingga nama universitas semakin muncul. MOU yang terjalin juga menjadi salah satu bentuk kerja sama penting dengan UM Papua,” ujarnya.

Terkait program kerja sama RPL, Rektor menekankan pentingnya langkah konkret agar program tersebut segera dilaksanakan secara terarah. Ia mendorong pembentukan task force yang akan menangani pelaksanaan program RPL di UM Papua.

“Program kerja sama harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Karena itu, untuk program RPL ini perlu segera dibentuk task force di UM Papua agar pelaksanaannya dapat berjalan secara serius, terarah, dan memberikan manfaat bagi institusi maupun masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa RPL memberikan fleksibilitas bagi masyarakat yang memiliki pengalaman kerja maupun pengalaman belajar sebelumnya untuk memperoleh pengakuan dalam proses pendidikan. Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu berlangsung secara konvensional di dalam kelas.

“RPL ini sangat fleksibel. Perkuliahannya tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas, tetapi dapat dilakukan secara daring maupun luring. Yang sudah dilakukan seseorang melalui pekerjaan dan pengalaman sebelumnya dapat direkognisi menjadi bagian dari proses akademik,” ungkapnya.

Program tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, khususnya bagi masyarakat yang telah memiliki pengalaman kerja dan kompetensi tetapi belum memperoleh pengakuan akademik melalui pendidikan formal.

Dalam konteks tersebut, Rektor menyampaikan bahwa UM Papua perlu mengambil peran dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat di Papua.

“Peluang ini sangat besar untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas. Kita ingin memastikan masyarakat di Papua memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman yang mereka miliki,” ujarnya.

Selain membahas RPL dan pengembangan akses pendidikan, Rektor juga mengingatkan seluruh jajaran UM Papua mengenai pentingnya perubahan pola pikir seiring dengan transformasi kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi universitas.

Ia menilai perubahan status kelembagaan harus diikuti dengan perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan pola pelayanan di lingkungan kampus.

“Kalau hasilnya ingin berbeda, maka caranya juga harus berubah. Isi kepala kita harus berubah dari pola pikir sekolah tinggi menjadi pola pikir universitas,” tegasnya.

Menutup arahannya, Rektor kembali menekankan bahwa RPL pada dasarnya harus menjadi instrumen yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi. Pengalaman dan kompetensi yang telah dimiliki seseorang perlu dihargai dan menjadi bagian dari proses akademik melalui mekanisme rekognisi yang sesuai.

“Filosofi RPL adalah memudahkan, bukan menyulitkan. Pengalaman dan kompetensi yang sudah dimiliki seseorang harus dihargai dan direkognisi, sehingga proses pendidikan menjadi lebih mudah diakses,” pungkasnya.

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Indah Sulistiani menegaskan bahwa tantangan perguruan tinggi saat ini tidak hanya berkaitan dengan persaingan dalam penerimaan mahasiswa, tetapi juga bagaimana kampus mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

“Tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Bukan hanya persaingan dalam merekrut mahasiswa, tetapi juga bagaimana memberikan bukti nyata pengabdian kampus kepada masyarakat. Karena itu, selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran, kami juga terus mendorong kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” jelas Indah.

Menurutnya, kontribusi nyata akademisi juga terlihat dari keterlibatan dosen dalam berbagai kegiatan penelitian dan perolehan hibah riset. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya UM Papua dalam memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

“Kontribusi nyata akademisi terlihat dari sejumlah dosen yang telah memperoleh hibah riset, baik dari kementerian maupun lembaga lainnya, serta hibah mandiri. Ini merupakan bentuk kontribusi akademisi kepada pemerintah daerah maupun masyarakat,” ungkapnya.

Indah juga menyampaikan harapan agar UM Papua semakin dikenal masyarakat melalui berbagai program studi yang memiliki daya saing dan dapat menjadi pilihan bagi generasi muda Papua.

“Kami berharap Universitas Muhammadiyah Papua semakin dikenal oleh masyarakat. Berbagai program studi yang dimiliki memiliki daya saing dan dapat menjadi pilihan bagi generasi muda Papua untuk meningkatkan kompetensi serta meraih peluang di masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan mutu akademik dan nonakademik akan terus didorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan akreditasi universitas maupun program studi.

“Harapan kami, Universitas Muhammadiyah Papua semakin baik dalam pencapaian di bidang akademik maupun non-akademik yang nantinya akan menunjang peningkatan akreditasi. Ke depan, kami berharap akreditasi dapat ditingkatkan menjadi unggul, baik pada tingkat universitas maupun program studi,” tegasnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya UM Papua memperkuat koordinasi internal, meningkatkan kolaborasi antarunsur pimpinan dan struktural, serta menyiapkan langkah-langkah strategis dalam pengembangan program akademik, peningkatan mutu perguruan tinggi, dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di Papua

Sumber Informasi & Rujukan UM Papua
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...