SEMARANG – Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) memulai rangkaian Program Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Tahun Akademik 2026/2027 melalui Placement Test Mentoring AIK 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula GKB2 Lantai 8 UNIMUS, Sabtu (3/10/2026), tersebut menjadi tahap awal untuk memetakan kemampuan baca Al-Qur’an mahasiswa baru sebelum mengikuti program mentoring.

Placement test dilaksanakan untuk mahasiswa baru dari Fakultas Ekonomi, dan Hukum Bisnis (FEHBi), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), serta Fakultas Sains dan Teknologi Pertanian (FSTP), dengan jumlah peserta sekitar 1.277 mahasiswa. Sementara itu, pelaksanaan tahap berikutnya akan berlangsung pada Minggu (11/10/2026) bagi mahasiswa dari FIKKES, FK, FKG, FT, FIKOMDIGI, dan FIPH dengan jumlah sekitar 2.426 mahasiswa. Secara keseluruhan, program ini akan menjangkau sekitar 3.703 mahasiswa baru.

Sekretaris Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK dan MKU) UNIMUS sekaligus penanggung jawab kegiatan, Rohmat Suprapto, S. Ag., M. Si., menjelaskan bahwa Program Mentoring AIK merupakan bentuk pendampingan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan keberagamaan mahasiswa Muslim di UNIMUS.

“Program mentoring itu adalah program untuk memberikan pendampingan terhadap kemampuan, kompetensi, keterampilan keberagamaan mahasiswa di UNIMUS,” jelas Rohmat.

Menurutnya, terdapat tujuh kompetensi keterampilan keagamaan yang wajib dimiliki oleh mahasiswa Muslim UNIMUS. Kompetensi tersebut meliputi kemampuan membaca Al-Qur’an secara tuntas dan lancar, hafalan surat-surat pendek, hafalan doa sehari-hari, tata cara wudu, mandi janabat, salat fardu, serta salat jenazah.

Placement test kali ini secara khusus digunakan untuk memetakan kemampuan baca Al-Qur’an mahasiswa. Hasil pemetaan tersebut nantinya menjadi dasar pengelompokan mahasiswa sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga proses mentoring dapat berlangsung lebih tepat sasaran.

“Pagi ini kita ingin memetakan, mengklasifikasikan kemampuan baca Al-Qur’an dari seluruh mahasiswa UNIMUS,” ujar Rohmat.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, mulai dari kelompok yang sudah memiliki kemampuan lebih baik hingga mahasiswa yang masih membutuhkan pendampingan dasar. Kelompok tersebut selanjutnya akan mengikuti tahsin maupun tadris sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Rohmat menambahkan, pemetaan sejak awal akan membantu para mentor dalam memberikan pendampingan secara lebih terarah. Para mentor merupakan mahasiswa dari angkatan sebelumnya yang telah melalui proses rekrutmen dan dipersiapkan untuk mendampingi peserta mentoring.

Dengan adanya data awal tersebut, pendampingan diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga berlanjut pada penguasaan keterampilan keagamaan lainnya.

“Sehingga insyaallah setelah selesai program mentoring itu diharapkan seluruh mahasiswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an, yang belum mengenal huruf hijaiyah, itu bisa bebas buta huruf Al-Qur’an,” ungkapnya.

Sementara itu, Iqbal Hidayatsyah Noor, M. Pd., selaku penanggung jawab Placement Test Mentoring AIK 2026, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tahap awal untuk menentukan kelompok mentoring berdasarkan kemampuan baca Al-Qur’an mahasiswa. Sekitar 15 penguji yang terdiri dari dosen AIK/MKU dan pengelola pondok turut terlibat dalam proses pemetaan.

Pengelompokan tersebut terdiri atas beberapa tingkatan, yakni kelompok A yang diarahkan mengikuti kelas tahsin, sementara kelompok B dan C mengikuti kelas tadris sesuai dengan tingkat kemampuan. Khusus mahasiswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an atau belum mengenal huruf hijaiyah, pendampingan diberikan secara lebih mendasar agar mereka dapat memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UNIMUS membangun kompetensi keagamaan mahasiswa secara bertahap. Rohmat menegaskan bahwa target akhir mentoring tidak hanya membuat mahasiswa mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki keterampilan keagamaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya juga tidak cuma baca Al-Qur’an, tapi mereka punya kemampuan, keterampilan dalam tujuh kompetensi tadi dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Rohmat.

Melalui program ini, UNIMUS berupaya menjadikan pembinaan AIK sebagai bagian yang terintegrasi dalam perjalanan pendidikan mahasiswa. Kemampuan akademik diharapkan berjalan beriringan dengan penguatan nilai keislaman, keterampilan keberagamaan, serta pembentukan karakter mahasiswa yang mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat.

Sumber Informasi & Rujukan UNIMUS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...