MALANG, Tugujatim.id – Ancaman gagal panen membayangi petani cabai di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Keterbatasan air berpotensi menurunkan produktivitas tanaman hingga menyebabkan tanaman tidak tumbuh optimal.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, pasokan cabai di pasaran juga berisiko berkurang. Petani pun perlu menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga tanaman tetap tumbuh di tengah keterbatasan air.


Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani hortikultura, termasuk petani cabai yang membutuhkan ketersediaan air untuk menjaga produktivitas tanaman.


Irigasi Drip Jadi Salah Satu Solusi


Akademisi Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir Ary Bakhtiar SP MSi IPM ASEAN Eng mengatakan, salah satu langkah mitigasi yang dapat diterapkan petani adalah menggunakan sistem irigasi drip atau irigasi tetes.

Sistem tersebut memungkinkan air dan nutrisi dialirkan langsung ke area perakaran tanaman dengan jumlah yang lebih terukur. Dengan demikian, penggunaan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

“Cabai itu tipikalnya tidak suka terlalu banyak air, tetapi kalau kurang air juga akan mati. Karena itu, irigasi drip bisa menjadi salah satu solusi agar tanaman tetap mendapatkan air dan nutrisi,” jelasnya.

Menurut Ary, pemasangan irigasi drip membutuhkan investasi awal sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4 juta untuk kebutuhan selang dan pipa. Meski membutuhkan biaya tambahan, sistem tersebut dinilai dapat membantu petani menghemat dan mengatur penggunaan air selama musim kemarau.

Ary yang juga merupakan petani cabai di Banyuwangi mengaku telah menerapkan sistem irigasi tersebut sebagai salah satu bentuk mitigasi.

Selain irigasi drip, dia mendorong petani menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur dan pompanisasi. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan air tanaman tidak sepenuhnya bergantung pada saluran irigasi persawahan.

“Kalau sudah terlanjur tanam, instalasi drip adalah solusinya agar tanaman tetap mendapat nutrisi air yang masuk. Perawatannya juga tetap dilakukan, minimal dua hari sekali, seperti pemberian perangsang bunga, insektisida, dan nutrisi,” katanya.


Produktivitas Turun, Harga Cabai Potensi Naik


Kondisi kemarau juga berpengaruh terhadap produktivitas tanaman cabai. Ary mengatakan, penurunan produktivitas menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga cabai di pasaran.

Per 23 September 2026, harga cabai rawit varietas ori kecil di tingkat petani berada di kisaran Rp58 ribu per kilogram. Sementara harga cabai merah besar berada di sekitar Rp16 ribu per kilogram.

Harga di tingkat konsumen kemudian dapat lebih tinggi karena adanya margin pada setiap rantai distribusi.

Untuk cabai rawit, harga di tingkat konsumen diperkirakan berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram.


Petani Diminta Tak Terburu-buru Tanam


Bagi petani yang belum memulai penanaman, Ary menyarankan agar tidak terburu-buru melakukan budi daya. Kondisi cuaca perlu dipantau sembari menyiapkan sumber air dan berbagai kebutuhan mitigasi.

Menurut dia, menanam cabai saat kondisi panas dan ketersediaan air terbatas justru berpotensi meningkatkan risiko gagal tanam.

“Mitigasi yang diperlukan petani hortikultura, khususnya cabai, adalah menyiapkan alternatif sumber air dari sumur. Kedua, bisa melakukan tunda tanam. Mengingat intensitas panas saat ini, jika dipaksakan menanam bisa berujung pada tingginya angka gagal tanam,” ujarnya.

Ary menegaskan, tunda tanam bukan berarti menghentikan aktivitas budidaya. Petani dapat menunggu hingga kondisi cuaca lebih mendukung sebelum mulai menanam.

Dia menyarankan petani menerapkan strategi wait and see terhadap perkembangan cuaca, salah satunya dengan menunggu hingga hujan mulai turun, yang diperkirakan dapat terjadi sekitar pertengahan November.

“Kalau masih belum nanam, wait and see dulu terhadap cuaca. Sambil menunggu, petani bisa mempersiapkan mitigasinya, terutama sumber air dan sistem irigasi, sehingga ketika kondisi sudah memungkinkan tanaman bisa segera ditanam,” pungkasnya.

Sumber Informasi & Rujukan UMM
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...