ums.ac.id, SURAKARTA — Keluarga besar SMK Muhammadiyah Mayong, Jepara, kembali menggelar kajian rutin bulanan Al-Qur’an, Hadis, dan Kemuhammadiyahan bertema “Dari Surau ke Sekolah Muhammadiyah” pada edisi September 2026. Kegiatan yang diikuti oleh para guru ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus menyegarkan kembali niat pengabdian dalam menjalankan tugas pendidik.
Kepala SMK Muhammadiyah Mayong, H. Choiruzaed, menyampaikan bahwa forum yang telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun tersebut diproyeksikan tidak hanya berhenti sebagai agenda internal sekolah. Ke depan, kajian ini diharapkan dapat berkembang menjadi embrio kegiatan keagamaan yang lebih luas dengan melibatkan warga Muhammadiyah serta masyarakat di sekitar lingkungan sekolah.
Hadir sebagai narasumber, Ustadz Dr. Muttaqin, M. H., mengulas rekam jejak perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yang mengawali pendidikan dari surau hingga mendirikan Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911 dan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya memaknai profesi pendidik sebagai sarana dakwah dan ikhtiar membawa perubahan sosial.
BACA JUGA
Muttaqin memberikan analogi bahwa pahala pengabdian diibaratkan seperti tanaman padi yang menjadi tujuan utama, sementara gaji merupakan rumput yang tumbuh di sekitarnya. Analogi tersebut menggarisbawahi bahwa bekerja di amal usaha Muhammadiyah harus dilandasi oleh niat ibadah, keikhlasan, serta pemahaman terhadap khittah perjuangan organisasi.
Kajian juga diwarnai diskusi interaktif mengenai tantangan pendidikan modern dan pentingnya keteladanan akhlak guru di lingkungan sekolah. Hal ini dinilai sejalan dengan konsep penanaman budi pekerti yang tertuang dalam “12 Langkah Muhammadiyah”, di mana pendidik memegang peran sentral sebagai figur teladan bagi para siswa.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.