Mengelola Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) membutuhkan keikhlasan, kesungguhan, komitmen, dan kesediaan untuk terus berjuang. Amanah kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui kerja nyata untuk membangun organisasi dan melahirkan kader-kader penerus.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Kwartir Wilayah (Kwarwil) Hizbul Wathan Jawa Tengah, Taufiq, dalam kultum Subuh di Masjid Ulul Albab, Universitas Muhammadiyah Metro, Sabtu (10/10/2026), dalam rangkaian kegiatan Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Taufiq mengingatkan adanya fenomena ketika seseorang telah terpilih menjadi pimpinan organisasi, kemudian menganggap persoalan kepemimpinan seolah-olah telah selesai. Setelah memperoleh amanah, justru muncul kecenderungan jarang mengikuti rapat, kurang aktif dalam kegiatan, dan tidak lagi menjaga silaturahmi dengan sesama pengurus.

“Lalu bagaimana dengan keikhlasan dan kesungguhan kita dalam mengelola organisasi?” demikian pesan yang ditekankan Taufiq dalam kultumnya.

Menurutnya, kepemimpinan dalam Hizbul Wathan tidak cukup hanya dibuktikan dengan nama yang tercantum dalam susunan kepengurusan. Seorang pimpinan harus hadir, bekerja, membangun komunikasi, dan memberikan kontribusi sesuai dengan amanah yang diterimanya.

Evaluasi Perjalanan dan Tanggung Jawab Kaderisasi

Taufiq mengajak seluruh peserta Tanwir untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan organisasi sejak Muktamar HW ke-4 di Malang pada 2023 hingga Tanwir I di Metro, Lampung, pada 2026.

Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang telah dilakukan untuk memajukan Hizbul Wathan selama kurun waktu tersebut.

Apakah program pembinaan telah berjalan? Apakah kaderisasi semakin kuat? Apakah Qabilah-Qabilah di sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi semakin berkembang? Ataukah organisasi hanya menunggu tanpa melakukan langkah nyata?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, penting dijadikan bahan evaluasi bersama agar setiap pimpinan menyadari bahwa waktu, tenaga, dan biaya yang telah dicurahkan untuk organisasi harus menghasilkan manfaat yang nyata.

Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap generasi penerus dengan merujuk pada Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 9. Ayat tersebut mengingatkan orang-orang beriman agar tidak meninggalkan generasi yang lemah dan mendorong mereka untuk bertakwa kepada Allah serta berkata benar.

Pesan tersebut relevan dengan tanggung jawab Hizbul Wathan dalam menyiapkan generasi muda yang kuat secara iman, berakhlak mulia, mandiri, terampil, dan memiliki semangat pengabdian.

Karena itu, kaderisasi harus menjadi perhatian utama setiap jajaran kepemimpinan HW. Organisasi tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internal, tetapi harus memastikan proses pembinaan pandu berlangsung secara berkelanjutan.

Jangan Mutung, Tetap Optimistis dan Istiqamah

Taufiq juga mengingatkan agar seluruh pengurus tidak menyia-nyiakan tenaga, waktu, dan biaya yang telah dicurahkan untuk Persyarikatan Muhammadiyah dan Hizbul Wathan. Semua itu membutuhkan komitmen serta kesungguhan agar perjuangan memberikan hasil yang berarti.

Ia mengingatkan agar jangan sampai muncul sikap mutung, yakni kecewa lalu berhenti berjuang ketika menghadapi persoalan, perbedaan pendapat, atau berbagai tantangan dalam organisasi.

Menurutnya, mengelola organisasi membutuhkan kesabaran. Melahirkan kader-kader yang berkualitas tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan proses panjang, keteladanan, pendampingan, serta konsistensi dalam menjalankan program pembinaan.

Oleh sebab itu, seluruh pimpinan HW harus tetap optimistis bahwa dengan kerja bersama dan kesungguhan, kader-kader penerus akan terus tumbuh dan berkembang.

Pada akhir kultumnya, Taufiq menegaskan pentingnya menjaga amanah yang telah diberikan. Jabatan kepemimpinan harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Jangan sampai amanah yang dipercayakan justru dikhianati karena kelalaian, ketidakseriusan, atau hilangnya komitmen dalam menjalankan tugas.

Pesan Subuh tersebut menjadi pengingat bagi seluruh peserta Tanwir I HW bahwa kemajuan organisasi tidak cukup dibangun melalui keputusan persidangan. Kemajuan membutuhkan pimpinan yang ikhlas, pengurus yang aktif, kaderisasi yang berkelanjutan, serta kesediaan untuk bekerja sungguh-sungguh demi masa depan Hizbul Wathan. (*)

Sumber Informasi & Rujukan PWMU.CO
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...