PANGKALPINANG – Bagaimana cara mengenal sebuah daerah? Bukan hanya melalui pemandangan, tetapi juga dari adat istiadat, sejarah, pakaian, kuliner, rumah tradisional, bahasa, hingga kehidupan masyarakatnya. Dari hal-hal tersebut, sebuah daerah dapat dikenali lebih dekat, termasuk Bangka yang menyimpan beragam jejak sejarah dan kekayaan budaya.
Hal inilah yang dilakukan mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) dalam rangkaian International Cultural Exchange (ICE) 2026. Setelah mengikuti pembukaan ICE pada Selasa (22/9/2026), mereka melanjutkan agenda hari kedua dengan menjelajahi sejumlah tempat bersejarah dan kawasan budaya di Pulau Bangka, Rabu (23/9/2026).
Didampingi dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa lokal Unmuh Babel, rombongan mengawali perjalanan dari Titik Nol Kilometer Pangkalpinang yang berada di samping Rumah Dinas Wali Kota Pangkalpinang.
Dari titik tersebut, perjalanan berlanjut menuju Masjid Kubah Timah. Letaknya yang berdekatan dengan gereja menjadi salah satu gambaran kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman. Bagi mahasiswa internasional, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung wajah keberagaman dan toleransi di Pangkalpinang.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Museum Timah Indonesia, tempat yang menyimpan berbagai catatan mengenai sejarah pertambangan timah di Bangka Belitung, sekaligus perjalanan sejarah dan perjuangan masyarakat di wilayah ini. Di sana, mahasiswa internasional dapat melihat berbagai koleksi dan informasi mengenai pertambangan, termasuk jenis-jenis batuan yang berkaitan dengan sejarah pertimahan di Bangka Belitung.
Dari jejak sejarah pertambangan, rombongan kemudian bergerak menuju Gebong Memarong, sebuah kawasan perkampungan adat di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Di tempat ini, mahasiswa diperkenalkan dengan rumah tradisional dan kehidupan masyarakat adat Mapur.
Antusiasme terlihat ketika rombongan tiba di Gebong Memarong. Salah satu tour guide, Rahman, menyambut kedatangan mahasiswa internasional Unmuh Babel dan memperkenalkan sejarah serta kehidupan masyarakat adat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Bangka.
“Kami dari Gebong Memarong selalu ingin memperkenalkan kebudayaan Desa Mapur, yang menjadi salah satu destinasi budaya yang ada di Bangka. Harapan kita adalah kebudayaan ini tetap terus lestari dan dikunjungi oleh masyarakat.”
Tidak hanya mengenalkan sejarah, masyarakat Gebong Memarong juga berupaya mempertahankan arsitektur tradisional serta memperkenalkan berbagai produk kerajinan kepada para pengunjung.
“Kami mempertahankan arsitektur dan pola-pola tradisional, terutama masyarakat adatnya. Rumah ini sendiri untuk dindingnya dibuat dari kulit kayu, dan atapnya dari rumbia dan nipah. Kami juga memperkenalkan produk-produk tradisional seperti sauki dan miniatur bangunan yang ada di masyarakat adat, kerajinan lainnya seperti tas, tikar, buatan tangan masyarakat lokal,” ucap Rahman.
BACA JUGA
Ketua Pelaksana ICE 2026, Isti Widiharjati, S. E.I., M. M., mengatakan mahasiswa internasional menunjukkan antusiasme sepanjang perjalanan, terutama ketika melihat secara langsung berbagai ikon sejarah dan budaya yang sebelumnya belum mereka kenal.
“Diawali dari Nol Kilometer, anak-anak excited dan melihat masjid yang terbuat dari timah bersanding dengan gereja. Kemudian saat ke Museum Timah mereka ingin melihat jenis-jenis bebatuan yang ada di sana, dan di Gebong Memarong mereka juga senang bisa melihat rumah adat setempat meskipun tidak ada kegiatan adat yang sedang berlangsung,” ucap Isti.
Bagi mahasiswa internasional, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Karimzhanov Dilshod dari Tajikistan mengaku mendapatkan banyak informasi baru mengenai budaya Bangka melalui perjalanan hari kedua ICE 2026.
“Sebelumnya saya juga sudah ke beberapa tempat, di antaranya ke tempat bersejarah di Kota Muntok, dan hari ini saya senang bisa ikut kegiatan yang diawali dari Nol Kilometer, masjid, dan Museum Timah. Di sini (Gebong Memarong) saya melihat rumah yang berbeda dari rumah pada umumnya. Rumahnya terbuat dari kulit kayu. Saya banyak mendapatkan informasi baru tentang budaya daerah di sini. Excited,” ujar Dilshod.
Sementara itu, mahasiswa asal Yaman, Saleh Ahmed Hussein Saleh Al-Mhiqani, turut mengungkapkan kesannya setelah mengunjungi Gebong Memarong. Ia mengaku mendapatkan cerita dan pengetahuan baru tentang budaya Bangka.
“I got many stories about Bangka culture, especially at Gebong Memarong. It’s good and nice for me,” timpal Saleh.
Rangkaian perjalanan hari kedua ICE 2026 tersebut menjadi ruang pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa internasional. Mereka tidak hanya mengenal Bangka melalui cerita, tetapi juga berinteraksi langsung dengan tempat, sejarah, dan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Melalui pengalaman tersebut, pertukaran budaya dalam ICE 2026 tidak berhenti pada perkenalan antarnegara, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk memahami keberagaman Indonesia melalui kekayaan budaya lokal Bangka. (MJ)
Ayo kuliah di UnMuh BaBel kampus yang Berkemajuan dan Mencerahkan”, Info lengkap hubungi WA Admin (0812 – 7493 – 1707) Website pmb : pmb.unmuhbabel.ac.id IG : https://instagram.com/unmuh_babel FB : https://www.facebook.com/unmuh.bangkabelitung Youtube : Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
The post Menapak Sejarah dan Budaya Bangka, Mahasiswa International Unmuh Babel Jelajah Nol Kilometer Hingga Gebong Memarong first appeared on UNMUH BABEL.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.