Jayapura, UM Papua — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) dengan nama Tim Cendera Tech berhasil menorehkan prestasi membanggakan, lolos ke Top 5 Digital Innovation Challenge (DIC) 2026, sebuah kompetisi inovasi digital tingkat nasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian tersebut diumumkan pada Sabtu (11/7/2026), di Story Instagram Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UM Papua mampu bersaing di tingkat nasional melalui inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Tim Cendera Tech terdiri atas tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, yaitu Siti Aisha Irman dan Muhammad Arya Rafandi dari angkatan 2023, serta Rafif Baldwin Kay, dari angkatan 2025. Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung inovasi bertajuk “KASIH: Akselerasi Adopsi QRIS Berbasis Pemberdayaan Mama Papua di Pasar Tradisional Papua Barat dan Papua Barat Daya”, yang menawarkan solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan melalui digitalisasi transaksi bagi Mama Papua di pasar tradisional.
Ketua Program Studi Ilmu Komputer UM Papua, Nur Fitrianingsih Hasan, mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas pencapaian mahasiswa yang mampu bersaing dengan berbagai perguruan tinggi unggulan di Indonesia.
“Kami bersyukur dan bangga karena dari banyak paper yang masuk itu teman-teman mahasiswa UM Papua bisa lolos ke top 5, kalau dilihat list yang masuk top 5 lainnya dari universitas top, juga PTM (perguruan Tinggi Muhammadiyah) top di Indonesia,” ujarnya.
Fitri, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa proses pendampingan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, dimulai sejak informasi kompetisi diterima pada sekitar 20 Mei 2026. Pendampingan dilakukan melalui diskusi daring, kemudian dilanjutkan dengan satu kali pertemuan untuk menentukan kategori dan topik inovasi. Setelah itu, komunikasi intensif dilakukan melalui WhatsApp hingga penyusunan proposal selesai dalam waktu sekitar satu bulan dan berhasil disubmit pada akhir Juni 2026.
Ia menyampaikan, meskipun proses pembinaan tidak seintens kompetisi sebelumnya karena mahasiswa sedang menjalani final project dan dosen juga memiliki berbagai tanggung jawab akademik lainnya, setiap anggota tim tetap memiliki target yang jelas dalam menyusun solusi atas permasalahan yang diangkat.
“Proses juga tidak terlalu intens seperti sebelum-sebelumnya karena mungkin juga mahasiswa saat itu lagi banyak final projek, saya juga lagi banyak list pekerjaan yang lain sehingga tidak terlalu sering ketemu, namun tetap ada target-target yang sudah ditentukan masing-masing. Jadi saya memberikan arahan kemudian disepakatkan targetnya, tujuan utamanya, problem solvingnya gimana, kemudian sama teman-teman mahasiswa didraftkan, setelah itu kita cek lagi sama-sama, lalu submit,” jelasnya.
Ia juga menilai keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer UM Papua memiliki potensi dan daya saing yang baik di bidang teknologi digital. Menurutnya, keberhasilan bersaing hingga Top 5 bersama perguruan tinggi besar menjadi bukti bahwa proses pembelajaran dan kurikulum yang diterapkan mampu menghasilkan mahasiswa yang kompetitif di tingkat nasional.
“Menurut saya mahasiswa punya potensi, mahasiswa memiliki daya saing yang cukup bagus sekali, karena ini sampai top 5, padahal ada Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang kita tahu Perguruan Tinggi sangat baik sangat bagus, unggul. Berarti mahasiswa (UM Papua), perguruan tinggi, program studi termasuk kurikulumnya, termasuk kegiatan pembelajaran di kelas juga, memiliki potensi dan daya saing yang baik sehingga menghasilkan mahasiswa-mahasiswa kita yang mampu bersaing di level nasional. Khusus mahasiswa-mahasiswa prodi ilmu komputer yang memiliki daya saing dan potensi di bidang digital teknologi dalam konteks financial technology,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fitri berharap tim dapat menyelesaikan seluruh tahapan kompetisi dengan baik dan meraih hasil terbaik. Ia juga berharap pengalaman tersebut dapat memperluas jejaring mahasiswa, meningkatkan kemampuan public speaking, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dalam menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di Papua, khususnya pada sektor teknologi finansial.
“Harapan saya tentu berharap prosesnya sampai akhir nanti lancar, dan juga juara. Ya harapannya juara bisa memberikan yang terbaik untuk kampus, dan untuk Papua, karena sepertinya UM Papua saja yang membawa nama Papua ke Papua Barat. Harapan saya juga dengan adanya kompetisi ini mahasiswa juga lebih punya banyak jejaring tentunya, karena kita akan dikumpulkan di Sorong nantinya, kemudian juga punya soft skill public speaking, karena akan mempresentasikan konsep solving dari ide teman-teman nanti, juga bisa melatih mereka untuk berfikir kritis, dan memberikan manfaat, solusi untuk masalah-masalah yang ada di sekitar kita, terutama di wilayah Papua, dalam konteks keuangan, financial technology,” ungkapnya.
BACA JUGA
Pandangan Tim Cendera Tech tentang Solusi Inovasi Digital Financial Technology Bagi Mama Papua
Sementara itu, perwakilan Tim Cendera Tech, Siti Aisha Irman, menjelaskan bahwa inovasi “KASIH: Akselerasi Adopsi QRIS Berbasis Pemberdayaan Mama Papua di Pasar Tradisional Papua Barat dan Papua Barat Daya” lahir dari persoalan masih rendahnya penggunaan QRIS di pasar tradisional, khususnya di kalangan Mama Papua. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar transaksi masih dilakukan secara tunai sehingga pedagang belum memiliki rekam jejak transaksi digital yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh akses pembiayaan formal, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Inovasi ini penting karena pasar tradisional merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Papua, terutama bagi Mama Papua yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Dengan meningkatnya penggunaan QRIS, pedagang memperoleh akses terhadap layanan keuangan formal, transaksi menjadi lebih aman, dan pemerintah memiliki data ekonomi yang lebih akurat untuk menyusun kebijakan. Selain itu, inovasi ini mendorong inklusi keuangan tanpa menghilangkan nilai budaya dan semangat gotong-royong masyarakat Papua,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa manfaat inovasi tersebut juga dirasakan oleh pembeli, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan karena mampu menciptakan ekosistem transaksi digital yang lebih inklusif. Sasaran utama program ini adalah Mama Papua yang berjualan di Pasar Wosi dan Pasar Sanggeng di Manokwari, serta Pasar Remu dan Pasar Rufei di Sorong.
Aisha menjelaskan bahwa penyusunan proposal diawali dengan memetakan persoalan utama digitalisasi pembayaran di pasar tradisional, kemudian menganalisis karakteristik pengguna dan potensi lokal. Selanjutnya, tim menyusun solusi berbasis kebutuhan masyarakat melalui pendekatan pemberdayaan komunitas dengan menjadikan Mama Papua sebagai agen perubahan. Proposal kemudian dilengkapi dengan rencana implementasi, pihak yang terlibat, indikator keberhasilan (KPI), serta analisis dampak.
“Prosesnya dimulai dengan memetakan permasalahan utama digitalisasi pembayaran di pasar tradisional, kemudian menganalisis karakteristik target pengguna dan potensi lokal. Setelah itu, tim menyusun solusi berbasis kebutuhan masyarakat dengan mengedepankan pendekatan pemberdayaan komunitas melalui Mama Papua sebagai agen perubahan. Selanjutnya, kami melengkapi proposal dengan rencana implementasi, pihak yang terlibat, indikator keberhasilan (KPI), serta analisis dampak sehingga menghasilkan proposal yang komprehensif dan aplikatif hingga berhasil masuk Top 5,” jelasnya.
Aisha mengungkapkan sangat bersyukur, bangga, dan tidak menyangka timnya berhasil masuk ke jajaran Top 5 Digital Innovation Challenge 2026.
“Kami sangat bersyukur, bangga, dan tidak menyangka bisa menjadi bagian dari Top 5. Dan optimis bisa bersaing dengan universitas yang lain,” tutur Aisha.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama penyusunan proposal adalah mengumpulkan data yang akurat dan terbaru mengenai kondisi QRIS di Papua Barat melalui Laporan Perekonomian Bank Indonesia Tahun 2025 serta berbagai referensi jurnal yang relevan. Selain itu, tim juga berupaya mencari solusi yang tepat agar inovasi yang dirancang dapat memberikan dampak langsung bagi Mama Papua sebagai pelaku utama ekonomi di pasar tradisional.
“Tantangan terbesar adalah mengumpulkan data yang akurat dan terbaru mengenai kondisi QRIS di Papua Barat dan Papua Barat Daya, melalui laporan perekonomian BI tahun 2025, serta referensi jurnal yang relevan. Kemudian mencari solusi yang tepat yang langsung memberi dampak untuk Mama Papua itu sendiri,” pungkasnya.
Penulis, Peliput: Husnul
Editor: Dewi
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.