Semarang | Memasuki dunia perguruan tinggi berarti memasuki fase baru. Mahasiswa tidak lagi cukup datang ke kampus, mengikuti kuliah, lalu pulang. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang bergerak cepat, mahasiswa baru dituntut mampu memanfaatkan masa kuliah untuk belajar, berkarya, mengembangkan potensi, dan berdampak.

Karena itu, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) didorong tidak sekadar menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, menciptakan gagasan, dan mengubahnya menjadi solusi nyata.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari materi Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah Prof. Dr. Aisyiah Endah Palupi, M.Pd., dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) Mahasiswa Baru UNIMUS 2026.

Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Palupi sapaan akrabnya menekankan bahwa perubahan teknologi ikut mengubah tuntutan terhadap mahasiswa. Generasi yang lahir dan tumbuh di tengah teknologi digital harus mampu memahami teknologi sekaligus mengetahui untuk apa teknologi itu digunakan.

“Dunia berubah cepat, maka peran mahasiswa juga ikut berubah. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar. Mereka harus belajar, berkarya, dan memberikan dampak,” ujarnya.

Menurut Prof. Palupi, mahasiswa baru sedang berada dalam masa transisi dari kehidupan sekolah menuju perguruan tinggi. Perubahan tersebut bukan hanya soal status dari siswa menjadi mahasiswa, tetapi juga perubahan cara belajar dan cara berpikir.

Mahasiswa perlu memahami bidang keilmuan yang dipilih, mengetahui manfaat ilmu tersebut, serta mampu menghubungkannya dengan persoalan nyata di masyarakat.

“Mahasiswa harus tahu apa yang dipelajari, mengapa harus mempelajarinya, dan untuk apa ilmu itu digunakan. Sekarang banyak hal bisa dilakukan dengan teknologi, tetapi jangan sampai kita hanya bisa menggunakan teknologinya tanpa memahami ilmunya,” katanya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menghabiskan masa kuliah hanya dengan rutinitas datang ke kampus, masuk kelas, pergi ke perpustakaan, kemudian pulang. Waktu di perguruan tinggi, menurutnya, harus diisi dengan kegiatan yang dapat memperkaya pengalaman dan mengembangkan potensi diri.

Prof. Palupi memperkenalkan tiga kekuatan utama yang perlu dimiliki mahasiswa 4.0, yakni kreatif, kritis, dan berdampak.

Kreatif berarti mampu melihat kemungkinan baru dan menciptakan sesuatu meski berada dalam keterbatasan. Kreativitas tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian mencoba, menemukan hubungan antara berbagai hal, kemudian memperbaikinya ketika menghadapi kendala.

“Rasa ingin tahu yang tinggi akan melahirkan ide. Ide itu kemudian dicoba, ketika ada kendala diperbaiki, lalu dikembangkan menjadi sesuatu yang baru,” jelasnya.

Namun, kreativitas tidak harus lahir dari satu bidang ilmu. Justru kolaborasi lintas keilmuan dapat membuat sebuah gagasan berkembang menjadi inovasi yang lebih kuat.

Sementara berpikir kritis berarti tidak mudah percaya, tetapi juga tidak tergesa-gesa menolak. Mahasiswa perlu memeriksa fakta, memahami data, menguji asumsi, melihat konsekuensi dan mempertimbangkan berbagai alternatif.

“Berpikir kritis bukan berarti cepat percaya dan bukan pula cepat menolak. Kita harus mencari sumber kebenarannya, melihat datanya, siapa yang akan terdampak, dan apa alternatifnya,” tuturnya.

Sedangkan berdampak berarti membawa gagasan menjadi sesuatu yang manfaatnya benar-benar dirasakan. Prosesnya dimulai dengan mendengar kebutuhan, merancang solusi bersama pengguna, menguji manfaat dan risiko, kemudian memastikan keberlanjutannya.

“Jangan hanya datang membawa jawaban. Tumbuhlah bersama masyarakat. Dengarkan kebutuhannya, rancang bersama, uji manfaat dan risikonya, lalu jaga keberlanjutannya,” katanya.

Di tengah semakin kuatnya penggunaan AI, mahasiswa juga diingatkan agar tidak kehilangan kemampuan berpikir. Kecanggihan teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan membuat mahasiswa berhenti belajar dan menganalisis.

“Tidak cukup hanya bisa mengoperasikan gadget. Mahasiswa harus mampu menerjemahkan informasi, mengenali data yang diberikan, memahami solusi yang dihasilkan, kemudian memberikan kontribusi,” ujarnya.

Mahasiswa 4.0, lanjutnya, harus adaptif, terus belajar, lincah menghadapi perubahan, berani mencoba cara baru, serta cerdas dan etis dalam memanfaatkan teknologi.

Pada akhirnya, mahasiswa baru UNIMUS didorong tidak berhenti pada kemampuan individu. Kolaborasi menjadi kunci agar ide pribadi dapat berkembang menjadi kekuatan bersama.

Mahasiswa perlu aktif mengembangkan potensi, memperluas jejaring, terbuka terhadap berbagai disiplin ilmu, serta berani bereksperimen untuk menemukan solusi.

“Mahasiswa harus punya ide, kemudian berinovasi sesuai kebutuhan. Jangan berhenti pada ide. Pastikan gagasan itu bisa memberikan dampak nyata,” pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa baru UNIMUS untuk menjalani kehidupan perguruan tinggi bukan sekadar sebagai ruang memperoleh gelar, tetapi sebagai tempat belajar, mencipta, berkolaborasi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu menjawab perubahan zaman.

Sumber Informasi & Rujukan UNIMUS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#PTMA

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...