Jayapura, UM Papua— Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) melaksanakan Kuliah Umum bersama Rektor UM Papua, Dr. Rustamadji, M. Si., pada Kamis (17/9/2026), bertempat di Aula UM Papua. Dalam kegiatan tersebut, Rektor memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk membangun kepercayaan diri, tidak mudah mengeluh, serta berani memiliki cita-cita tinggi.

Rustamadji menyampaikan bahwa Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk menjadi hebat tanpa membedakan suku, ras, maupun agama. Ia mengajak mahasiswa Papua untuk tidak merasa bahwa keterbatasan daerah menjadi penghalang dalam mencapai keberhasilan.

“Sampai detik ini Tuhan tidak pernah membedakan seluruh suku ras dan agama untuk menjadi orang hebat sampai detik ini ya,” ujar Rektor.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengalami krisis kepercayaan diri. Menurutnya, mahasiswa Papua memiliki kemampuan yang sama untuk berkembang dan harus yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri.

“Anak-anak Papua tidak boleh krisis confident, tidak boleh krisis percaya diri, harus percaya diri. Be confident. Percaya diri, bahwa saya juga bisa,” tegasnya.

Dalam penyampaiannya, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi. Ia mengaitkan pentingnya organisasi dengan ajakan untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana yang terdapat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104, yang menurutnya sering dibaca oleh warga Muhammadiyah.

“Jika kalian sudah masuk dalam organisasi kemahasiswaan, itu sudah bagus. Nanti di dalam organisasi orangnya itu siap mengajak dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan janji Tuhan mereka adalah orang-orang yang beruntung,” katanya.

Menurut Rustamadji, mahasiswa juga perlu memiliki keberanian untuk menunjukkan kemampuan dan tidak hanya menjadi pengikut ketika melihat keberhasilan orang lain. Ia mengajak mahasiswa untuk berusaha menjadi pembaharu dan mampu melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.

“Walaupun kamu tidak bisa, saya harus bisa. Kalau orang lain bisa, kok bisa? Itu masih follower namanya, masih pengikut. Bukan trend setter. Kalau trend setter itu dia pembaharu,” ujarnya.

Selain menekankan pentingnya kepercayaan diri, Rustamadji juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan keluhan sebagai kebiasaan dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia mendorong mahasiswa untuk tetap bersemangat dan fokus menghasilkan karya.

“Tidak ada sebuah karya besar dihasilkan karena mengeluh. Karya besar akan dihasilkan karena semangat, bukan mengeluh. Tidak boleh mengeluh, ingat-ingat itu,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa seseorang tidak perlu menunggu keadaan sempurna untuk mulai berjalan menuju tujuan. Ia mengajak mahasiswa untuk segera mengambil langkah dan tidak hanya memeriksa keadaan tanpa melakukan tindakan.

“Ada seorang filosof India, dia mengatakan begini, Tuhan hanya memberikan jalan kepada mereka yang berjalan. Tuhan hanya memberikan jalan kepada mereka yang berjalan, bukan mereka yang cek-cek keadaan, bukan mereka yang mau cek-cek jalan ini sudah mantap, sudah bagus baru jalan. Bukan, kesempurnaan tidak ada, tetapi kalau sudah mau melangkah segera melangkah dengan pasti, dan di situ Tuhan akan memberikan jalan kepada orang-orang yang berjalan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan pandangannya mengenai kegagalan. Menurutnya, seseorang baru dapat dikatakan gagal ketika berhenti berusaha dan menyerah. Selama masih terus berusaha, seseorang masih berada dalam proses menuju keberhasilan.

“Saya definisikan kegagalan hanya terjadi apabila kamu menyerah, kamu berhenti berusaha, baru gagal. Kalau berhenti berusaha, menyerah, baru gagal. Coba jangan berhenti, jangan menyerah. Apa yang terjadi? Dia sedang berproses menuju keberhasilan. Berproses menuju keberhasilan, gagal kah tidak? Tidak gagal,” tegasnya.

Dalam kuliah umum tersebut, Rektor UM Papua turut mengajak mahasiswa Papua untuk tidak membatasi diri hanya karena berada di Papua. Menurutnya, mahasiswa Papua memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan diri serta berkiprah di berbagai daerah.

“Anak-anak Papua berhak untuk jadi orang hebat di Jakarta, di Sumatera, di Jawa, di Sulawesi, tidak ada yang melarang. Bahkan di seluruh dunia. Tidak ada yang melarang,” tegasnya.

Rustamadji juga mengajak mahasiswa untuk memiliki cita-cita tinggi sekaligus memulai dari langkah kecil. Ia menekankan bahwa cita-cita harus disertai dengan tindakan nyata dan tidak boleh ditunda.

“Cita-cita setinggi langit yang membiru. Andaikan kita jatuh maka kita akan jatuh di antara bintang-bintang. Karena tidak ada gravitasi, sudah jatuh masih hidup di antara bintang-bintang. Kan hebat, bintang-bintang, bintang film, bintang apa itu, maju hidup di situ. Padahal sudah jatuh. Coba cita-cita setinggi pohon, kalau jatuh bagaimana? Cita-cita belum bayar dan belum dipajak. Yang penting kalau kita sudah bercita-cita setinggi langit yang membiru, itu goal namanya, goal itu cita-cita,” ujarnya.

Ia kemudian menekankan pentingnya segera memulai langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

“But we have to start from small, tetapi kita harus mulai dari yang kecil. Tidak ada barang besar itu langsung turun dari langit besar. Tidak ada. Mulai dari yang kecil. And we have to start right now dan kita harus mulai sekarang jangan menunda-nunda waktu,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rustamadji menyampaikan kebijakan pembelajaran agama bagi mahasiswa Kristen, Protestan dan Katolik di UM Papua. Ia mengatakan mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran agama sesuai dengan agama masing-masing dan akan diajarkan oleh dosen yang beragama sama.

“Untuk anak-anak Kristen, Protestan dan Katolik saya putuskan mulai semester ini kalian di UM Papua akan belajar agama sesuai dengan agama masing-masing,” ungkapnya.

Selain itu, Rektor UM Papua menyampaikan rencana menghadirkan dosen yang akan memberikan pembelajaran secara luring bagi mahasiswa Prodi Komputer. Hal tersebut disampaikan sebagai bagian dari dukungan terhadap proses pembelajaran mahasiswa.

Melalui kuliah umum tersebut, Rustamadji mengajak mahasiswa UM Papua untuk membangun kepercayaan diri, tidak mudah mengeluh, berani bermimpi dan segera mengambil langkah untuk mewujudkan cita-cita. Ia menegaskan bahwa latar belakang daerah bukanlah batasan bagi seseorang untuk menjadi hebat.

Peliput, Penulis, Fotografer: Husnul
Editor: Dewi

Sumber Informasi & Rujukan UM Papua
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...