Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf (Foto. Vita)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi, 27 September 2026. Kajian ini mengambil tema “Nabi saw. Itu Kaya atau Miskin?” dengan pemateri Ustaz H. Ali Yusuf, S. Th. I., M. Hum. Pada kajian kali ini, ia memberikan penjelasan mengenai kesederhanaan hidup Rasulullah serta hadis-hadis mengenai kehidupan beliau.

Sebagai pembuka, Ustaz Ali memberikan penjelasan mengenai makna dari kata “miskin”. Ia mengatakan bahwa kata miskin dalam masyarakat kita memiliki artian negatif. Orang yang tidak memiliki harta dan tidak berkecukupan dikatakan sebagai miskin oleh masyarakat. Terlebih lagi dengan adanya standar kemiskinan yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat akhirnya mulai menilai seseorang dengan menggunakan standar tersebut.

Namun, Ustaz Ali kembali menegaskan kalau hal itu hanya stigma masyarakat yang terbentuk dari kebiasaan atau apa yang mereka lihat dan dengar di lingkungan. Ia juga memberikan contoh kasus yang sering terjadi di masyarakat. “Kalau orang datang ke psikolog dianggapnya stres, dianggapnya itu punya ya, gejala ODGJ,” ujarnya.

“Kata ‘miskin’ jangan sampai menjadi stigma, stigma yang negatif kepada Nabi,” ujarnya lagi.

Pernyataan tersebut kemudian mengarah pada satu pertanyaan, apakah Nabi saw. itu kaya atau miskin?

Dalam suatu riwayat, Nabi saw. sudah menjadi yatim sejak lahir. Semasa kecil, beliau juga bekerja sebagai penggembala, pekerjaan yang umum dilakukan penduduk Mekah saat itu. Riwayat lain menyebutkan bahwa selama dua bulan, rumah Nabi saw. tidak mengeluarkan asap. Hal ini dimaknai kalau selama dua bulan itu, beliau tidak memasak.

Terdapat tiga istilah untuk memberikan gambaran mengenai jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Pertama adalah al-faqru yang berarti kefakiran atau kemiskinan. Kedua adalah al-ghina yang artinya kekayaan atau berkecukupan. Yang terakhir, zuhud berarti orang yang memilih hidup sederhana meski memiliki harta. Dalam hal ini, Rasulullah tidak menjadikan harta sebagai prioritas dan memilih untuk hidup zuhud.

Hal ini dijelaskan pula dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dalam riwayat itu, Rasulullah dikatakan mengganjal perut dengan dua batu untuk menahan lapar. Hadis lain juga dijelaskan kalau Nabi saw. sering berpuasa karena tidak ada makanan di rumah. Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, dikatakan bahwa Rasulullah pernah menggadaikan bajunya dengan gandum.

Menjelang akhir kajian, pembahasan berlanjut dengan hadis yang mengatakan kalau Rasulullah pernah berdoa agar dijadikan orang miskin dan berkumpul bersama mereka. Hal itu karena proses perhitungan amal mereka jauh lebih cepat dibandingkan orang kaya. Miskin yang dimaksudkan dalam doa beliau ini adalah hidup sederhana tanpa bergelimangan harta. Rasulullah juga mengatakan demikian sebagai bentuk rendah diri di hadapan Allah Swt.

Untuk menutup kajian, Ustaz Ali menegaskan bahwa Rasulullah memiliki harta yang banyak, tetapi beliau tidak suka menyimpan hartanya lama-lama dan menggunakannya untuk disumbangkan. Namun, beliau juga tidak bisa dikatakan miskin. Rasulullah memilih untuk zuhud sebagai pilihan hidupnya. Ustaz Ali juga mengajak para jemaah agar tidak memberikan label bahwa Rasulullah itu miskin. Itu adalah bentuk kesederhanaan Rasulullah. Ia juga menekankan kalau Rasulullah tidak menyukai kefakiran karena bisa menyebabkan kufur. (vit)

uad.ac.id

Sumber Informasi & Rujukan UAD
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pendidikan Tinggi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...