October 6, 2026, oleh

Pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, M. E., Ph. D., menilai penyatuan kebijakan hilirisasi dan transisi energi menjadi langkah krusial, terutama dalam menjaga keberlanjutan ekonomi di masa transisi kepemimpinan nasional pada bulan Oktober ini. Ia juga menyebut bahwa pesatnya ekspansi industri pengolahan mineral mutlak membutuhkan pasokan energi dalam jumlah masif dan bersih.
“Ini sangat strategis karena hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar. Tantangan utamanya saat ini, khususnya bagi kabinet pemerintahan yang baru, adalah memastikan agar tambahan kapasitas industri tidak justru meningkatkan ketergantungan kita pada energi fosil,” tegasnya 4 Oktober lalu.
Lebih lanjut, Wahyudi sapaan akrabnya menjelaskan bahwa rumusan kebijakan industrialisasi dan penyediaan energi harus disusun secara terintegrasi. Ia mengingatkan, peningkatan kapasitas industri yang tidak dibarengi dengan penambahan pasokan energi yang efisien dan andal berpotensi memicu lonjakan emisi dan konsumsi energi kotor.
Kebutuhan akan integrasi ini semakin mendesak seiring dengan meroketnya investasi di sektor hilirisasi. Pada semester I/2026, investasi pada sektor tersebut tercatat telah mencapai Rp300,1 triliun atau menyumbang sekitar 29,7% dari total investasi nasional.
Sebagai contoh, perkembangan industri nikel kini menjadi salah satu pijakan utama dalam membangun rantai nilai industri baru di Tanah Air. Produksi nikel olahan Indonesia melonjak signifikan dari sekitar 22.000 ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023, yang merepresentasikan sekitar 41% dari total produksi dunia.
Bagi Wahyudi, lompatan tersebut membuktikan transformasi posisi Indonesia, dari sekadar pemasok bahan mentah kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok global. “Pekerjaan berikutnya adalah memastikan nilai tambah semakin banyak tinggal di dalam negeri. Hal ini bisa dicapai melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, serta pelibatan aktif perusahaan-perusahaan nasional,” ungkapnya.
BACA JUGA
Tidak hanya nikel, pria itu juga menyoroti pentingnya perluasan pengembangan hilirisasi ke berbagai mineral lain. Ia mencontohkan Smelter Freeport di Gresik yang mampu mengolah sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun, dengan potensi produksi sekitar 800.000 ton katoda tembaga dan 50 ton emas per tahun. Begitu pula dengan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah yang memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Diversifikasi ini, menurutnya, sangat vital untuk memperluas basis industri nasional. Ia merinci bahwa nikel dapat difokuskan untuk pengembangan baterai dan kendaraan listrik, tembaga untuk industri elektronik dan kelistrikan, sementara bauksit dapat diolah menjadi aluminium serta produk manufaktur turunannya.
“Diversifikasi hilirisasi ini penting karena Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas saja. Nikel, tembaga, bauksit, dan emas memiliki rantai nilai yang berbeda dan dapat menjadi fondasi kuat bagi industri manufaktur, elektronik, energi, hingga kendaraan listrik,” urainya.
Di akhir penjelasannya, Wahyudi juga menilai bahwa posisi strategis Bahlil Lahadalia sebagai pemangku kebijakan koordinator ekonomi dan energi memberikan ruang yang luas untuk menyelaraskan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi dari sektor hulu hingga hilir secara lebih lincah.
“Integrasi tersebut sangat penting agar investasi yang masuk tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral, tetapi juga mampu menghasilkan efek lanjutan (multiplier effect). Harapannya, hal ini dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung, terbukanya lapangan kerja, peningkatan kapasitas teknologi, serta berkembangnya kawasan-kawasan industri baru di berbagai daerah,” pungkasnya.(*Faq)
Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.