Semarang | Pengajian Kamis Pagi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mengajak sivitas akademika kembali memahami hubungan antara Islam sebagai agama dan Muhammadiyah sebagai gerakan perjuangan. Mengangkat tema “Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”, pengajian yang mengundang narasumber Wakil Ketua PWM Jawa Tengah Assoc. Prof. Dr. H. Ibnu Hasan, M. S.I. tersebut tidak sekadar membahas identitas keislaman, tetapi juga mengingatkan kembali bagaimana nilai-nilai Islam diterjemahkan melalui gerakan nyata untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Kamis (1/10/2026) di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah (Komplek Kampus Unimus)

Dalam tausiyahnya, Assoc. Prof. Dr. H. Ibnu mengajak jamaah melihat kembali sejumlah kisah penting dalam perjalanan Muhammadiyah. Kisah-kisah tersebut menjadi cermin bagaimana keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang bagi sebuah gerakan ketika dibangun dengan keyakinan, semangat berjamaah, dan kepedulian terhadap umat.
Salah satunya adalah kisah kentongan Kiai Ahmad Dahlan. Pada masa awal Muhammadiyah, sekolah-sekolah yang didirikan organisasi tersebut menghadapi persoalan pembiayaan. Kiai Ahmad Dahlan melihat kondisi itu sebagai persoalan serius yang harus segera dicarikan jalan keluar agar pendidikan yang telah dibangun tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di tengah keterbatasan tersebut, Kiai Ahmad Dahlan menggerakkan jamaah dan masyarakat untuk membantu pembiayaan sekolah. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menabuh kentongan dan melelang sejumlah barang untuk menggalang dana. Dari sana terlihat bagaimana kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan Muhammadiyah mampu menggerakkan berbagai lapisan masyarakat.

Ada pula kisah menarik ketika sebagian jamaah yang mengikuti lelang memilih tidak mengambil barang yang dilelang. Mereka tetap memberikan uang sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap perjuangan Muhammadiyah.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa gerakan Muhammadiyah sejak awal tidak hanya bertumpu pada kekuatan materi, tetapi juga pada ikatan ideologis dan kesadaran untuk berjuang bersama.
Semangat serupa juga tercermin dalam kisah Kiai Syuja’ yang memiliki gagasan untuk mendirikan rumah sakit. Gagasan tersebut lahir ketika kondisi dan sumber daya yang dimiliki masih terbatas. Namun, keterbatasan tidak membuat perjuangan berhenti. Dengan semangat dan keyakinan yang kuat, Kiai Syuja’ berhasil menggerakkan kekuatan umat hingga lahir sebuah rumah sakit yang kemudian dikenal sebagai rumah sakit pribumi pertama yang ditetapkan pemerintah pada masa itu.
Dua kisah tersebut menjadi bagian penting dalam pengajian untuk menunjukkan bagaimana kader dan jamaah Muhammadiyah sejak dahulu memiliki keberanian untuk bergerak di tengah keterbatasan. Mereka mampu mengorganisasi kekuatan umat, menghimpun infak, serta melahirkan berbagai amal usaha yang manfaatnya terus dirasakan hingga sekarang.

Semangat tersebut kemudian dikaitkan dengan Surah Ali Imran ayat 110, yang menjelaskan tentang umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, dengan tugas menyeru kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.
BACA JUGA
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi umat terbaik bukan sekadar soal identitas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menghadirkan kebaikan dan bekerja secara sungguh-sungguh untuk kemaslahatan manusia.
Dalam konteks Muhammadiyah, semangat tersebut tercermin dalam ungkapan “Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku.” Islam menjadi dasar keyakinan sekaligus pedoman hidup, sedangkan Muhammadiyah menjadi wadah perjuangan untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Ideologi Muhammadiyah sendiri memiliki tiga unsur penting, yakni keyakinan, cita-cita, dan gerakan. Dalam keyakinannya, Muhammadiyah memandang bahwa hukum dan nilai-nilai Allah menjadi dasar dalam membentuk pribadi utama serta menata kehidupan menuju kebahagiaan yang hakiki. Islam juga diyakini sebagai agama Allah yang dibawa para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW.

Keyakinan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi cita-cita dan gerakan. Muhammadiyah memiliki tujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kekuatan jamaah menjadi bagian penting dalam perjuangan. Gerakan Muhammadiyah dibangun melalui kekuatan umat, termasuk zakat, infak, sedekah, wakaf, serta amal jariyah. Kekuatan tersebut kemudian diorganisasi melalui jam’iyyah agar mampu melahirkan gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Karena itu, meneguhkan ideologi Muhammadiyah berarti menempatkan Islam bukan hanya sebagai identitas keagamaan, tetapi juga sebagai worldview dan way of life yang membentuk cara berpikir, kepribadian, sekaligus tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat inilah yang kemudian menjadi karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam reformis-modernis yang membawa gagasan Islam Berkemajuan.

Dari kentongan Kiai Ahmad Dahlan hingga gagasan Kiai Syuja’ mendirikan rumah sakit, sejarah Muhammadiyah memperlihatkan satu hal penting: gerakan besar sering kali bermula dari kegelisahan sederhana terhadap persoalan umat. Ketika kegelisahan itu bertemu dengan keyakinan, kepedulian, dan kekuatan jamaah, keterbatasan pun dapat diubah menjadi gerakan yang memberi manfaat luas.
Islam menjadi agama yang diyakini, sementara Muhammadiyah menjadi jalan perjuangan untuk menghidupkan keyakinan itu dalam kehidupan.
Reportase Humas Unimus (tri)
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.