MALANG – Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, M.E., Ph.D., mengatakan bahwa investasi pada sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I/2026 atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Menurutnya, pesatnya ekspansi industri pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan bersih.
“Hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar, tantangan pemerintah adalah memastikan supaya tambahan kapasitas industri tidak justru meningkatkan ketergantungan kita pada energi fosil,” ujarnya.
Menurutnya, penyatuan kebijakan hilirisasi dan transisi energi menjadi langkah penting, terutama dalam menjaga keberlanjutan ekonomi pada masa transisi kepemimpinan nasional.
Wahyudi menjelaskan, rumusan kebijakan industrialisasi dan penyediaan energi harus disusun secara terintegrasi. Ia mengatakan bahwa apabila peningkatan kapasitas industri tidak dibarengi dengan penambahan pasokan energi yang efisien dan andal, maka berpotensi memicu lonjakan emisi dan konsumsi energi kotor.
“Jika kapasitas industri yang meningkat ini tidak dibarengi dengan energi yang efisien, maka akan memicu lonjakan emisi dan konsumsi energi kotor,” tambahnya.
Wahyudi mencontohkan perkembangan industri nikel yang memproduksi nikel olahan Indonesia melonjak dari sekitar 22.000 ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023, yang merepresentasikan sekitar 41 persen dari total produksi dunia. Hal ini membuat nikel menjadi salah satu pijakan utama dalam membangun rantai industri di Indonesia.
Menurutnya, lompatan tersebut membuat Indonesia bukan sekadar pemasok bahan mentah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam rantai pasok global.
“Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tapi juga bagian dari rantai pasok global,” ungkapnya.
Menurutnya, pengembangan hilirisasi juga perlu diperluas ke berbagai mineral lainnya, tidak hanya berfokus pada nikel. Ia mencontohkan Smelter Freeport di Gresik yang mampu mengolah sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun. Dari kapasitas tersebut, terdapat potensi produksi sekitar 800.000 ton katoda tembaga dan 50 ton emas per tahun.
BACA JUGA
Selain itu, terdapat Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah dengan kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
“Perlu ada perluasan hilirisasi ke jenis mineral lainnya, jangan hanya pada nikel,” imbuhnya.
Ia juga mengatakan diversifikasi hilirisasi tersebut penting untuk memperkuat basis industri nasional. Nikel dapat diarahkan untuk pengembangan baterai dan kendaraan listrik, sedangkan tembaga berpotensi mendukung industri elektronik dan kelistrikan. Sementara itu, bauksit dapat diolah menjadi aluminium beserta produk manufaktur turunannya.
“Indonesia tidak boleh bergantung pada satu komoditas saja, jadi penting untuk diversifikasi hilirisasi. Nikel, tembaga, bauksit, dan emas punya rantai nilai yang berbeda dan dapat menjadi fondasi kuat bagi industri manufaktur, elektronik, energi, hingga kendaraan listrik,” tuturnya.
Di sisi lain, Wahyudi menilai pengembangan hilirisasi perlu diikuti dengan upaya memastikan semakin banyak nilai tambah yang dapat dipertahankan di dalam negeri. Hal tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, serta pelibatan aktif perusahaan-perusahaan nasional.
“Pekerjaan berikutnya adalah memastikan nilai tambah semakin banyak tinggal di dalam negeri. Ini bisa dicapai melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, serta pelibatan aktif perusahaan-perusahaan nasional,” ungkapnya.
Terakhir, ia juga menjelaskan integrasi kebijakan penting agar investasi yang masuk tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral. Investasi tersebut diharapkan mampu memberikan efek lanjutan (multiplier effect), mulai dari mendorong tumbuhnya industri pendukung, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas teknologi, hingga mengembangkan kawasan-kawasan industri baru di berbagai daerah.
“Integrasi menjadi sangat penting supaya investasi yang masuk tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral, tetapi juga mampu menghasilkan efek lanjutan (multiplier effect),” tandasnya.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.