Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan seluruh kader dan warga Persyarikatan agar tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama dalam berorganisasi. Bagi Haedar, esensi pengabdian terletak pada ikhtiar menjalankan tugas sebaik-baiknya tanpa ambisi mengejar kedudukan.

Pesan tegas tersebut disampaikan Haedar saat memberikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ba’da Salat Dzuhur di Masjid Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (13/10/2026). Di hadapan para jajaran staf, ia merefleksikan pentingnya komitmen, profesionalisme, serta keikhlasan dalam merawat amanah.

Sebagai gambaran, Haedar membagikan pengalaman berharganya saat pertama kali dipercaya oleh Muhammadiyah dan negara menjadi petugas haji pada dekade 1990-an. Saat itu, meski belum pernah menunaikan ibadah haji, ia langsung ditunjuk sebagai Ketua Kelompok Terbang (Kloter) yang memimpin sekitar 390 jemaah asal Bandung.

Tanggung jawab tersebut tergolong berat, mengingat fasilitas serta dukungan pelayanan masa itu belum secanggih saat ini. Berbeda dari ketua rombongan lain yang umumnya sudah berpengalaman haji, Haedar murni mengandalkan kemampuan manajemen dan jiwa kepemimpinannya.

“Saat itu saya belum pernah berhaji, sementara biasanya petugas kloter sudah haji. Namun, dengan prinsip saling menolong dan kemampuan manajemen, tugas tersebut bisa kita jalankan bersama,” kenang Haedar.

Situasi di lapangan menuntut kesiapan ekstra. Haedar bersama tim harus sigap menangani berbagai dinamika, mulai dari mengurus jemaah yang sakit, mendampingi tindakan medis ke rumah sakit, hingga mencari jemaah yang terpisah dari rombongan. Namun, tantangan tersebut justru menjadi ruang pembelajaran yang menempa kapasitas dirinya.

“Menjadi ketua kloter memang berat, tetapi di situlah letak pelajaran yang sangat berharga. Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan kami bisa mengenal jemaah dengan lebih dekat,” ujarnya.

Dari rekam jejak tersebut, Haedar berpesan agar kader dan staf PP Muhammadiyah senantiasa menjaga keikhlasan serta integritas dalam bekerja. Ia menekankan bahwa setiap posisi yang diemban adalah ruang untuk menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas.

“Inilah yang disebut panggilan. Jangan pernah berniat memanfaatkan amanah demi kepentingan pribadi atau hal-hal di luar tugas. Fokus utama kita adalah menjalankannya dengan baik dan penuh kesungguhan,” tegas Haedar.

Ia menegaskan kembali bahwa profesionalisme tidak sekadar diukur dari ketuntasan pekerjaan, melainkan dari ketulusan dan integritas. Melalui semangat pengabdian tanpa pamrih, setiap ikhtiar diharapkan membawa keberkahan dan kemanfaatan nyata bagi Persyarikatan, masyarakat, serta bangsa. (*/tim)

Sumber Informasi & Rujukan majelistabligh.id
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...