Semarang | Memasuki dunia digital tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi. Kemampuan membaca data, memahami perubahan, mengenali kebutuhan pasar, hingga mengubah informasi menjadi peluang bisnis menjadi bekal penting bagi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Hal tersebut disampaikan dalam Kuliah Umum Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Digital (FIKOMDIGI) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) yang digelar untuk menyambut mahasiswa baru. Kegiatan mengangkat tema “Data-Driven Entrepreneurship: Transforming Ideas into Strategic Business Opportunities.”
Kuliah umum ini menjadi salah satu langkah awal FIKOMDIGI dalam memperkenalkan mahasiswa baru pada lanskap teknologi dan kewirausahaan digital yang terus berkembang. Sejak awal perkuliahan, mahasiswa diajak melihat bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi ruang untuk menciptakan gagasan, membaca peluang, dan membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ketua panitia Muhammad Sam’an, S. Si, M. Mat., Ph. D menyampaikan, kuliah umum tersebut dirancang untuk memberikan gambaran kepada mahasiswa baru mengenai tantangan sekaligus peluang yang akan mereka hadapi ketika terjun ke dunia digital.
Mahasiswa, menurutnya, perlu membangun kebiasaan untuk terus belajar dan memperluas pengetahuan. Perkembangan teknologi yang bergerak cepat menuntut kemampuan untuk beradaptasi sekaligus memahami perubahan yang terjadi.

Dekan FIKOMDIGI Unimus Dr. Muhammad Munsarif, M. Kom., dalam sambutannya menekankan pentingnya membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan teknologi yang kini tidak lagi mengenal batas wilayah.
Karena itu, FIKOMDIGI menghadirkan narasumber dari luar negeri dalam kegiatan tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya fakultas memperkenalkan mahasiswa pada perspektif global sekaligus membangun jejaring internasional.
“Teknologi sudah berkembang dengan cepat dan bersifat global. Karena itu, cara berpikir kita juga harus berkembang secara internasional,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, tantangan ke depan bukan sekadar bagaimana teknologi terus berkembang, tetapi bagaimana mahasiswa yang telah memilih masuk ke dunia teknologi dapat mengambil peran di dalamnya. Peran tersebut perlu dibangun melalui kompetensi sekaligus jaringan yang luas.
Upaya internasionalisasi pun terus didorong dengan memperbanyak jejaring dan menghadirkan narasumber internasional dalam berbagai kegiatan akademik. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mengenal perkembangan teknologi dari ruang kelas, tetapi juga berkesempatan memahami perspektif global dan perkembangan keilmuan yang lebih luas.
“Generasi muda tidak boleh hanya menjadi ajang gengsi, tetapi harus memiliki isi,” pesannya.
Melalui kuliah umum tersebut, mahasiswa baru diharapkan memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bekal selama menjalani proses pendidikan di FIKOMDIGI.
BACA JUGA

Dalam sesi utama, Assoc. Prof. Tutut membahas konsep Data-Driven Entrepreneurship (DDE), yakni pendekatan kewirausahaan yang mengintegrasikan data, analitik, teknologi digital, orientasi kewirausahaan, pengetahuan, serta jejaring untuk menemukan, mengevaluasi, mengembangkan, dan memperbaiki peluang usaha.
Mahasiswa diperkenalkan pada cara melihat data bukan sekadar kumpulan angka, melainkan aset strategis yang dapat digunakan untuk mengurangi ketidakpastian, membaca kebutuhan yang mulai muncul, memperbaiki produk dan proses, mendukung pengambilan keputusan, hingga membuka peluang layanan atau sumber pendapatan baru.

Kualitas data menjadi salah satu faktor penting. Data yang buruk justru dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Begitu pula data yang tidak diarahkan pada kebutuhan atau keputusan tertentu dapat berubah menjadi beban, sementara persoalan privasi, keamanan, hak penggunaan, serta kemampuan manusia dalam menafsirkan data tetap menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Tutut juga mengangkat gagasan bahwa data merupakan salah satu bentuk kekayaan baru di era digital.
Ia mengaitkannya dengan gagasan “Data is the New Gold” yang pernah disampaikan Neelie Kroes, ketika menjabat Wakil Presiden Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas Digital Agenda, dalam pembukaan konferensi pers mengenai strategi Open Data pada 2011.

Gagasan tersebut menggambarkan bagaimana data semakin memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia di era digital, sebagaimana minyak pernah dikenal sebagai “emas hitam”.
Bagi mahasiswa FIKOMDIGI, pemahaman tersebut menjadi relevan karena dunia yang akan mereka masuki tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Ada kemampuan lain yang tak kalah penting, yakni membaca data dan mengubahnya menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Entrepreneurship di era digital, seperti ditekankan dalam kuliah umum tersebut, bukan hanya soal keberanian menciptakan sesuatu yang baru. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan memahami data, membaca perubahan, mengenali kebutuhan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Dari sinilah mahasiswa diajak memahami hubungan antara input dan output. Data yang baik, tepat, dan relevan dapat menjadi dasar untuk menghasilkan keputusan maupun inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Kuliah umum tersebut sekaligus menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru FIKOMDIGI untuk mengenal dunia yang akan mereka hadapi: dunia teknologi yang bergerak cepat, kompetitif, dan semakin terhubung secara global.
Harapannya, sejak awal perkuliahan mahasiswa mendapatkan input pengetahuan yang maksimal sehingga mampu menghasilkan output berupa kompetensi, gagasan, dan karya yang dapat memberi manfaat di kemudian hari.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.