UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR – Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Elly Oschar, meraih gelar doktor Pendidikan Agama Islam melalui disertasi yang menyintesiskan pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Melalui penelitian kepustakaan dengan pendekatan komparatif, ia menawarkan kerangka pendidikan yang memadukan integrasi ilmu dan pembentukan adab dalam sidang promosi doktor di Ruang I-GIFT, Menara Iqra lantai 2, Unismuh Makassar, Senin, 12 Oktober 2026.

Elly dinyatakan lulus sebagai doktor ke-53 yang dihasilkan Unismuh dan doktor ke-40 pada Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI). Ia mempertahankan disertasi berjudul “Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari: Studi Komparatif dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Pendidikan Indonesia”.

Dalam wawancara seusai sidang, Elly menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari kecenderungan memahami pemikiran kedua tokoh secara terpisah. “Kedua tokoh ini sering disalahpahami,” ujar Elly, merujuk pada pandangan yang menempatkan Ahmad Dahlan sebagai simbol modernisme dan Hasyim Asy’ari sebagai representasi tradisionalisme.

Menurut Elly, pemikiran Ahmad Dahlan menekankan pembaruan pendidikan melalui integrasi ilmu agama dan ilmu umum, serta penerapan pengetahuan dalam tindakan nyata. Sementara itu, Hasyim Asy’ari memberikan perhatian besar pada pendidikan adab, pembentukan karakter, dan keteladanan guru yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

Meski berkembang melalui pendekatan berbeda, Elly menemukan sejumlah persamaan mendasar dalam pemikiran kedua tokoh tersebut. Keduanya, menurut Elly, menolak pemisahan ilmu agama dan ilmu umum, menempatkan akhlak sebagai tujuan penting pendidikan, serta memandang pengetahuan sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari kajian komparatif tersebut, Elly merumuskan kerangka konseptual Pendidikan Integratif Adab Nusantara (PIAN). Kerangka ini memadukan semangat integrasi ilmu dalam pemikiran Ahmad Dahlan dengan pendidikan berbasis adab dan keteladanan dalam pemikiran Hasyim Asy’ari, dengan mempertimbangkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Elly menjelaskan bahwa PIAN dibangun di atas lima pilar utama, yakni integrasi nilai etika dan spiritual dalam seluruh mata pelajaran, guru sebagai teladan, sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, evaluasi pendidikan secara holistik, serta digitalisasi yang berlandaskan etika. Melalui lima pilar tersebut, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan intelektual, karakter, dan tanggung jawab sosial peserta didik secara bersamaan.

Dalam kerangka tersebut, pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru pendidikan agama, tetapi juga seluruh pendidik dan lingkungan sekolah. “Sekolah tidak berdiri sendiri,” kata Elly saat menjelaskan pentingnya menjadikan lembaga pendidikan sebagai bagian dari ekosistem sosial yang terhubung dengan kehidupan masyarakat.

Elly menilai gagasan pendidikan integratif tersebut relevan untuk dikembangkan pada lembaga pendidikan umum yang selama ini memiliki alokasi pembelajaran agama terbatas. Ia berharap nilai etika, spiritualitas, dan keteladanan tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran tertentu, melainkan hadir dalam keseluruhan proses pembelajaran dan kehidupan sekolah.

Meski demikian, Elly mengakui bahwa kerangka PIAN masih merupakan hasil sintesis pemikiran melalui penelitian kepustakaan. “Ini belum diuji,” ujarnya, seraya menjelaskan bahwa penelitian empiris diperlukan untuk mengetahui kelayakan dan efektivitas penerapan kelima pilar tersebut di berbagai lembaga pendidikan.

Sidang promosi doktor Elly menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof Abdul Mu’ti, sebagai penguji eksternal. Dalam sesi pengujian, Mu’ti mendalami perbedaan dan titik temu pemikiran Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari, termasuk relevansinya dengan perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) pada masa kini.

Sidang dipimpin Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang mewakili Rektor Dr Abd Rakhim Nanda karena sedang berada di Jepang. Tim penguji lainnya terdiri atas Prof Erwin Akib, Dr Dahlan Lamabawa, dan Dr Sulaiman Masnan, sedangkan Prof Ambo Asse bertindak sebagai promotor dan Prof Bahaking Rama sebagai kopromotor.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sekaligus Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla. “Ilmu itu harus selaras dengan amal,” kata Dzulfikar dalam testimoninya, ketika menekankan bahwa pencapaian akademik perlu diikuti pengamalan ilmu yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Elly merupakan akademisi kelahiran Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang tumbuh di Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana PAI di Unismuh pada 2013 dan magister pada bidang yang sama pada 2016. Selain menjadi dosen dan pimpinan FAI Unismuh, ia pernah menjabat Presiden Mahasiswa Unismuh dan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, menilai keberhasilan Elly menambah jumlah doktor merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan pemikiran pendidikan.
“Kita mengharapkan dalam disertasi itu melahirkan ide-ide baru,” ujarnya dalam wawancara seusai sidang. Harapan tersebut sejalan dengan agenda penelitian lanjutan yang direkomendasikan Elly untuk menguji kerangka PIAN dalam praktik pendidikan agar manfaatnya dapat dinilai secara empiris.

0
Facebook

  • 0
    Whatsapp


  • 0
    Telegram



  • Sumber Informasi & Rujukan UNISMUH Makassar
    Kunjungi Sumber Asli
    Bagikan Berita Ini:

    Komentar & Diskusi Pembaca

    Memuat tanggapan pembaca...