Malang (beritajatim.com) – Cuaca panas dan kering yang dirasakan masyarakat di Malang dalam beberapa hari terakhir bukan hanya membuat tubuh lebih cepat lelah. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi suasana hati, meningkatkan stres, dan membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., menjelaskan fenomena tersebut dari perspektif psikologi. Menurutnya, paparan panas yang melebihi kemampuan tubuh beradaptasi dapat menjadi beban stimulus yang memengaruhi kondisi fisik hingga respons emosional seseorang.

Alifah menjelaskan, tubuh manusia yang terus-menerus menerima tekanan lingkungan di atas batas kewajaran akan meresponsnya sebagai ancaman biologis. Ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh harus bekerja lebih keras untuk melakukan adaptasi termal.

Kondisi tersebut dapat memicu respons stres tubuh, termasuk peningkatan hormon kortisol.

“Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” kata Alifah, Kamis (8/10/2026).

Menurut Alifah, kondisi fisik yang semakin lelah akibat paparan panas juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memproses rangsangan sosial secara objektif.

Ketika tubuh dan pikiran mengalami kelelahan, ambang toleransi seseorang dapat menyempit. Akibatnya, hal-hal yang sebenarnya bersifat netral dapat dipersepsikan lebih negatif.

“Hal-hal yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, kok nyolot, atau bercanda tapi kok kayaknya kasar,” katanya menggambarkan kondisi ketika pikiran mulai terpengaruh kelelahan fisik.

Kerentanan psikologis tersebut dapat semakin berat ketika seseorang mengalami dehidrasi maupun kekurangan istirahat. Karena itu, Alifah menilai kesehatan fisik menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kestabilan suasana hati ketika menghadapi kondisi cuaca panas.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan durasi tidur, tetapi juga kualitas tidur.

“Tidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” ujar akademisi UMM tersebut.

Menurutnya, tidur yang terfragmentasi atau membuat seseorang sering terjaga tidak cukup untuk memulihkan fungsi tubuh dan saraf secara optimal. Sebaliknya, tidur yang berkualitas membantu tubuh dan pikiran melakukan pemulihan setelah menjalani aktivitas.

Baca Juga:  PDIP Surabaya Maksimalkan Dukungan untuk Ganjar Pranowo

Ketika emosi mulai mudah terpancing akibat kondisi panas, Alifah menyarankan masyarakat mengurangi stimulus lingkungan yang membuat tubuh semakin tidak nyaman. Mendinginkan tubuh secara langsung dapat membantu membuat tubuh lebih rileks.

“Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh. Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu nggak masalah sebenarnya,” tuturnya.

Selain berteduh dan mencukupi kebutuhan cairan, masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda kelelahan fisik maupun mental. Mengambil jeda ketika tubuh mulai terasa terlalu lelah dapat membantu mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi tekanan emosional.

Menjaga kualitas tidur, mencukupi asupan cairan, serta mencari tempat yang lebih sejuk ketika suhu terasa menyengat menjadi beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh menghadapi cuaca panas.

Dengan mengenali batas kemampuan tubuh dan memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat, kondisi fisik maupun emosi di tengah cuaca panas dapat lebih terkelola.

Sumber Informasi & Rujukan UMM
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...