Semarang | Muhammadiyah tidak lahir sekadar sebagai organisasi keagamaan. Dari awal, gerakannya dibangun dengan tiga semangat besar yaitu menghidupkan dakwah, mendorong kemajuan, serta menolong sesama dan menjunjung nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting yang perlu dipahami generasi muda Muhammadiyah. Termasuk mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) yang kini mulai memasuki lingkungan akademik sekaligus menjadi bagian dari keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah.


Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Dr. Tafsir, M.Ag., mengajak mahasiswa baru UNIMUS memahami sejarah dan semangat yang melandasi berdirinya Muhammadiyah. Hal itu disampaikannya saat mengisi materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) Mahasiswa Baru UNIMUS 2026.
Mengangkat tema “Menavigasi Universum Jumantara Muhammadiyah: Integrasi Nilai Al-Islam dan Spirit Kemuhammadiyahan dalam Membangun Peradaban”, Dr. Tafsir menekankan bahwa menjadi mahasiswa di kampus Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami identitas organisasi.

Mahasiswa juga diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai Muhammadiyah melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Selamat datang di UNIMUS. Kalian sudah memilih tempat yang tepat karena UNIMUS merupakan salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul di Jawa Tengah maupun di Indonesia. Selamat datang di Persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.


Dalam materinya Dr. Tafsir menjelaskan, perjalanan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari tiga semangat yang terus menjadi kekuatan gerakannya.

Pertama, semangat dakwah. Muhammadiyah mengajak masyarakat melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan yang memberi manfaat bagi kehidupan.

Kedua, semangat kemajuan. Muhammadiyah tumbuh ketika masyarakat Indonesia masih menghadapi persoalan keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Kondisi tersebut mendorong lahirnya gerakan yang berusaha membangun kesadaran untuk bangkit melalui pendidikan, ilmu pengetahuan dan amal usaha.

“Kalau kita ingin terbebas dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan, kita harus membangun semangat kemajuan. Islam harus menjadi kekuatan yang mendorong umat untuk terus maju,” ujarnya.


Semangat ketiga adalah menolong dan kemanusiaan. Bagi Muhammadiyah, kepedulian tidak berhenti pada sesama umat Islam, tetapi juga diarahkan kepada kemanusiaan secara universal.
“Semangat menolong harus menjadi bagian dari gerakan kita. Menolong sesama umat dan menolong manusia secara universal,” tuturnya.

Dr. Tafsir kemudian membawa mahasiswa melihat kembali perjuangan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia menyebut Ahmad Dahlan sebagai pejuang bangsa sekaligus pejuang Islam yang berusaha menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan untuk mendorong perubahan.

Semangat tersebut, menurutnya, harus terus diwariskan kepada generasi muda Muhammadiyah. Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai ajaran, tetapi harus mampu melahirkan kemajuan dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

“KH Ahmad Dahlan adalah pejuang bangsa sekaligus pejuang Islam. Tantangannya sekarang, bagaimana Islam bisa membangun semangat kemajuan dan menyebarkannya di Indonesia. Itulah yang harus kita lanjutkan,” katanya.


Ia juga mengaitkan semangat gerakan Muhammadiyah dengan QS Ali Imran ayat 104, yang menyerukan pentingnya mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran.

Bagi mahasiswa baru UNIMUS, memahami sejarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal lebih jauh nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Namun, pemahaman itu tidak cukup berhenti di ruang kelas. Mahasiswa ditantang untuk menjadikan ilmu dan nilai yang diperoleh sebagai bekal mengambil peran di tengah masyarakat.

“Jangan hanya menjadi bagian dari Muhammadiyah karena identitas. Jadilah bagian dari gerakannya. Terus belajar, terus maju, dan hadir untuk memberikan manfaat bagi sesama,” pesan Dr. Tafsir.


Semangat itulah yang diharapkan terus tumbuh di kalangan mahasiswa UNIMUS: menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu membawa nilai Islam berkemajuan dalam kehidupan dan ikut menjawab persoalan masyarakat.

Sumber Informasi & Rujukan UNIMUS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#PTMA

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...