SEMARANG – Menjelang Wisuda ke-50 Batch 1, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) memperkuat kesiapan calon alumninya melalui Baitul Arqam Purna Studi dengan tema “Menjadi Alumni yang Profesional dan Berkemajuan”. Kegiatan yang berlangsung di Aula GKB 2 UNIMUS ini menjadi momentum pembekalan akhir untuk memperkuat nilai keislaman, kemuhammadiyahan, integritas, dan kesiapan profesional calon alumni sebelum memasuki kehidupan di tengah masyarakat.

Baitul Arqam Purna Studi merupakan bagian dari rangkaian pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diberikan UNIMUS sejak mahasiswa memasuki lingkungan perguruan tinggi hingga menjelang kelulusan.

Wakil Rektor II UNIMUS, Dr. Hardiwinoto, M. Si., yang sekaligus membuka kegiatan, menjelaskan bahwa pembinaan tersebut dilakukan secara bertahap. Sejak awal masuk sebagai mahasiswa, UNIMUS memberikan program mentoring kepada sekitar 2.500 mahasiswa untuk memberikan penguatan terkait salat, wudu, dan kemampuan membaca Al-Qur’an.

“Di situ sekitar mungkin 2.500 mahasiswa diberi penguatan terkait salat, wudu dan mengaji. Setiap mahasiswa dilihat satu persatu apakah mereka sudah bisa mengaji atau kemudian dibimbing oleh adik kakak-kakak kelas,” jelas Dr. Hardiwinoto.

Pembinaan tersebut kemudian dilanjutkan melalui mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diberikan selama masa studi. Dr. Hardiwinoto menyebut mahasiswa mendapatkan delapan SKS yang terdiri atas AIK 1, AIK 2, AIK 3, dan AIK 4.

“Dan yang terakhir, ini adalah Baitul Arqam Purna Studi yang merupakan sentuhan akhir dari kami bahwa Anda semuanya adalah kader-kader Muhammadiyah,” ujarnya.

Menurut Dr. Hardiwinoto, pembinaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman di ruang kelas, tetapi menjadi nilai yang melekat ketika mahasiswa telah memasuki dunia kerja. Alumni UNIMUS diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan.

“Artinya apa? Tantangan kita ke depan itu adalah hal-hal yang berkait dengan korupsi, polusi, dan sebagainya. Dengan dasar-dasar yang diberikan di UNIMUS, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, mudah-mudahan Anda akan selalu ingat bahwa Anda itu alumni Universitas Muhammadiyah,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UNIMUS Prof. Dr. Masrukhi, M. Pd. juga memberikan pembekalan kepada calon alumni mengenai posisi mereka setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, menjadi sarjana menempatkan seseorang pada posisi sebagai bagian dari kelompok terpelajar yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Jadi Anda itu sudah menempati posisi elit terpelajar. Setelah menjadi sarjana maka Anda harus bisa memposisikan diri sebagai edukator di tengah-tengah masyarakat, pendidik di tengah-tengah masyarakat,” ujar Prof. Masrukhi.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan sosial yang semakin cepat. Rektor menyinggung perubahan era digital yang membuat informasi mengenai seseorang, termasuk latar belakang pendidikan, karya ilmiah, dan aktivitas profesional, semakin mudah diakses oleh publik.

Menurut Prof. Masrukhi, kondisi tersebut menuntut lulusan untuk memiliki kesadaran bahwa kehidupan profesional mereka akan berjalan dalam ruang yang semakin terbuka. Perkembangan teknologi, media sosial, dan internet membuat rekam jejak seseorang dapat diketahui secara lebih luas.

Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0, disruptive innovation, serta karakter generasi yang semakin dekat dengan teknologi dan Internet of Things (IoT).

Dalam konteks tersebut, lulusan UNIMUS tidak cukup hanya memiliki ijazah dan kompetensi akademik. Mereka perlu mampu menempatkan diri sebagai insan terpelajar yang dapat memberikan edukasi, menjadi teladan, serta membawa manfaat bagi lingkungan profesional dan masyarakat.

Baitul Arqam Purna Studi juga menjadi ruang refleksi terhadap praktik keberagamaan calon wisudawan. Pada Batch 1 ini, kegiatan diikuti 499 peserta yang terdiri atas 374 perempuan dan 125 laki-laki. Karena jumlah peserta Wisuda ke-50 cukup besar, pelaksanaan Baitul Arqam Purna Studi dibagi menjadi tiga batch dengan jumlah peserta sekitar 500 orang pada setiap gelombang.

Dr. Hardiwinoto memaparkan hasil survei internal kepada peserta sebagai bahan refleksi bersama. Survei menunjukkan bahwa 39,7 persen peserta menyatakan biasanya melaksanakan salat lima waktu di awal waktu ketika tidak sedang kuliah, sementara 55,3 persen menyatakan waktunya tidak pasti.

Pada pertanyaan mengenai pengalaman meninggalkan salat fardu dalam satu bulan terakhir, 46,1 persen peserta menyatakan tidak pernah, sedangkan 50,1 persen mengaku pernah meninggalkan salat fardu. Dari peserta yang pernah meninggalkan salat, 47,7 persen menyatakan merasa menyesal dan 48,1 persen merasa berdosa.

Menurut Dr. Hardiwinoto, hasil tersebut menjadi bahan refleksi sekaligus masukan bagi instruktur untuk memberikan penguatan selama kegiatan, terutama mengenai pentingnya menjaga salat sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim.

“Mohon nanti Bapak Ibu instruktur memberi penguatan tentang bagaimana pentingnya salat fardu ini bagi calon wisudawan,” katanya.

Survei juga menunjukkan adanya ruang penguatan pada aspek pemahaman. Hampir separuh peserta mengaku masih kurang mengetahui dasar hadis dan makna bacaan salat yang mereka baca. Karena itu, setelah sesi bersama Rektor UNIMUS, peserta mengikuti sesi kelas yang memberikan ruang untuk memperdalam berbagai materi dan berdiskusi bersama para instruktur.

Pembekalan tersebut menegaskan bahwa perjalanan mahasiswa UNIMUS tidak berhenti pada pencapaian akademik. Nilai-nilai yang diberikan selama masa studi diharapkan menjadi bekal bagi lulusan dalam menjalankan profesi sekaligus berkontribusi di tengah masyarakat.

Melalui tema “Menjadi Alumni yang Profesional dan Berkemajuan”, UNIMUS mendorong calon alumninya untuk membawa ilmu, integritas, nilai-nilai Islam, dan semangat kemuhammadiyahan ke dalam kehidupan profesional. Para lulusan diharapkan mampu menjadi insan terpelajar yang tidak hanya kompeten dalam bidangnya, tetapi juga mampu menjadi edukator, teladan, dan pemberi manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, Wisuda ke-50 Batch 1 tidak hanya menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik, tetapi juga awal perjalanan baru para lulusan untuk mengamalkan ilmu, menjaga nama baik almamater, dan menghadirkan kebermanfaatan sebagai bagian dari keluarga besar UNIMUS dan Muhammadiyah.

Sumber Informasi & Rujukan UNIMUS
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#PTMA

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...