MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan umat Islam agar tidak larut dalam kesibukan mengejar urusan dunia hingga melupakan persiapan menuju kehidupan akhirat.
Menurutnya, pekerjaan, usaha, dan tanggung jawab keluarga perlu dijalankan dengan niat ibadah agar bernilai sebagai bekal ketika kelak menghadap Allah Swt.
Pesan tersebut disampaikan Aly Aulia dalam kajian Senin sore di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (12/10). Ia mengajak jamaah mengevaluasi perjalanan hidup masing-masing dengan mengajukan pertanyaan mendasar, yakni seberapa jauh seseorang telah berusaha mengejar dunia dan seberapa dekat ia mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah Swt.
Aly menegaskan bahwa usia tidak menentukan urutan seseorang menghadapi kematian. Karena itu, setiap Muslim perlu memanfaatkan waktu yang masih dimiliki untuk memperbaiki amal dan menjaga konsistensi dalam beribadah.
“Kita sudah berapa jauh berlari untuk mengejar dunia? Tapi pertanyaannya juga, sudah berapa dekat kita mempersiapkan diri untuk kita pulang di hadapan Allah Subhanahu wa taala,” ujarnya.
Menurut Aly, bekerja mencari nafkah, membahagiakan keluarga, membangun usaha, dan mengejar prestasi merupakan bagian dari aktivitas yang dapat bernilai ibadah. Namun, seluruh aktivitas tersebut perlu dilandasi keikhlasan, pengetahuan yang benar, dan istiqamah.
Ia mengingatkan agar keseriusan menyiapkan kehidupan dunia yang sementara diimbangi dengan kesungguhan mempersiapkan kehidupan akhirat yang kekal. Orientasi akhirat, jelasnya, tidak mengharuskan seseorang meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab sosial. Sebaliknya, aktivitas dunia perlu diarahkan agar mendatangkan kebaikan yang bernilai di sisi Allah.
Aly mengutip firman Allah dalam Surah al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati seorang Muslim ditujukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam.
Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi landasan untuk menjadikan seluruh aktivitas sehari-hari sebagai ibadah. Dengan niat yang benar dan cara yang sesuai dengan tuntunan agama, pekerjaan profesional maupun tanggung jawab rumah tangga dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Jangan Menunda Kebaikan
Aly menilai salah satu persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan modern adalah kebiasaan menunda ibadah dan kebaikan hingga seseorang merasa memiliki waktu luang. Ada yang menunggu pekerjaan stabil untuk lebih rajin mengaji, menunggu pensiun agar bisa aktif di masjid, atau menunggu memiliki banyak uang sebelum memperbanyak sedekah.
Padahal, tidak ada yang dapat memastikan seseorang akan mencapai usia tua atau sempat melaksanakan semua rencana tersebut.
“Jangan menunggu. Kita harus benar-benar belajar mendekat kepada Allah di tengah kesibukan hidup kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setiap fase kehidupan memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak berusaha mengejar nilai dan prestasi, kaum muda mengejar pekerjaan dan pengakuan, sementara orang tua berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika telah mapan, seseorang masih mungkin terus mengejar target dan menambah kekayaan.
BACA JUGA
Menurut Aly, persoalannya bukan terletak pada cita-cita atau kerja keras itu sendiri, melainkan ketika kesibukan membuat seseorang kehilangan arah dan melupakan tujuan hidupnya.
Ia mencontohkan kondisi ketika seseorang berhasil membangun rumah yang lebih besar, menyediakan kendaraan yang lebih baik, dan memberikan pendidikan yang bagus bagi anak-anaknya, tetapi kehilangan waktu untuk hadir bersama keluarga. Berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika mereka telah tidur dapat membuat hubungan keluarga semakin berjarak.
Karena itu, Aly mengajak jamaah memeriksa kembali makna keberhasilan yang sedang dikejar. Kesuksesan perlu diukur pula dari manfaat yang diberikan kepada keluarga dan orang lain, serta kualitas hubungan seseorang dengan Allah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara perencanaan keuangan dan evaluasi spiritual. Seseorang mungkin teliti menghitung harga kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya pendidikan, dan saldo tabungan, tetapi belum menyediakan waktu yang cukup untuk mengevaluasi ibadahnya.
Bagi Aly, muhasabah perlu dilakukan secara menyeluruh. Setiap orang dapat bertanya kepada dirinya sendiri apakah tahun ini menjadi lebih jujur, apakah hubungan dengan Allah semakin baik, apakah keluarga merasakan manfaat kehadirannya, dan apakah ada orang lain yang terbantu oleh keberadaannya.
Dunia sebagai Ladang Akhirat
Dalam kajian tersebut, Aly menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan kehidupan dunia. Dunia justru menjadi tempat untuk menanam amal yang hasilnya diharapkan dapat dipetik di akhirat.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana harta dan kemampuan tersebut digunakan untuk kebaikan.
Bekerja dengan jujur, mencari rezeki yang halal, mendidik anak, membantu tetangga, berbagi kepada sesama, dan menjaga lingkungan merupakan bagian dari amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.
Aly juga menekankan pentingnya menjaga tiga ranah hubungan, yakni hubungan dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), dan hubungan dengan alam. Ketiganya perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari agar keberadaan seorang Muslim membawa manfaat.
Ia mengingatkan pula hadis tentang tiga amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Karena itu, Aly mengajak jamaah memandang amal saleh secara luas. Ibadah tidak terbatas pada salat dan ritual keagamaan, tetapi mencakup berbagai perbuatan baik yang dilakukan dengan niat ikhlas dan cara yang benar.
“Jangan buru-buru meninggalkan kesibukan. Periksa dulu arahnya benar atau tidak,” ujarnya.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.