MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kesibukan mencari nafkah kerap dipandang sebagai bentuk tanggung jawab orang tua terhadap keluarga. Namun, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan bahwa kerja keras perlu diimbangi dengan kehadiran nyata dalam kehidupan anak-anak.
Pesan tersebut disampaikan dalam kajian Senin sore di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (12/10). Aly menyoroti fenomena ketika seseorang berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi kehilangan waktu untuk membangun kedekatan dengan anak dan pasangan.
Ia menggambarkan keadaan ketika rumah semakin besar, kendaraan semakin baik, dan anak-anak bersekolah di tempat yang bagus, tetapi orang tua berangkat bekerja sebelum anak bangun dan pulang setelah mereka tidur. Bahkan ketika berada di rumah, pikiran orang tua masih tertuju pada pekerjaan.
“Sebetulnya nih kita sedang membangun kehidupan keluarga atau hanya sebetulnya menjadi ATM keluarga ini?” kata Aly mengajak jamaah berefleksi.
Menurutnya, pertanyaan tersebut penting untuk mengevaluasi apakah kesibukan mencari nafkah benar-benar menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga atau justru mengurangi kesempatan untuk mendampingi mereka.
Aly menegaskan bahwa mencari nafkah merupakan aktivitas yang dapat bernilai ibadah. Akan tetapi, tanggung jawab keluarga juga menuntut keterlibatan emosional, komunikasi, dan pendidikan yang berlangsung dalam keseharian.
Ia menyinggung fenomena fatherless, yakni keadaan ketika seorang anak memiliki ayah, tetapi tidak merasakan kehadiran ayah tersebut dalam kehidupannya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan materi perlu berjalan bersama perhatian, pendampingan, dan keteladanan.
Al-Qur’an Menampilkan Pentingnya Komunikasi Ayah dan Anak
Aly menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan banyak gambaran mengenai komunikasi antara orang tua dan anak. Ia menyebut terdapat 17 ayat yang menggambarkan komunikasi tersebut, dengan 14 di antaranya menampilkan komunikasi ayah dan anak.
Ia mencontohkan dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dengan Nabi Yusuf, serta Luqman dengan putranya. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan anak berlangsung melalui percakapan, nasihat, dan penanaman nilai.
Menurut Aly, contoh tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi orang tua masa kini. Ayah perlu mengambil bagian dalam mendidik anak, termasuk membangun iman, mengajarkan kejujuran, dan menanamkan kebiasaan berbuat baik.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan keluarga tidak cukup diukur dari kemampuan menyediakan fasilitas. Orang tua juga perlu memastikan anak mengenal Allah, memahami nilai yang benar, dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat.
Dalam konteks ini, kehadiran orang tua menjadi bagian dari amal saleh. Menjalankan peran sebagai ayah atau ibu dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi jalan ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas dan diarahkan untuk kebaikan.
Aly juga mengajak jamaah memikirkan warisan yang akan ditinggalkan kepada anak-anak. Menurutnya, warisan keluarga tidak selalu berupa uang, rumah, atau aset lainnya. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui keteladanan justru dapat terus hidup dalam perilaku generasi berikutnya.
BACA JUGA
Ia mengangkat kisah Nabi Ya’qub menjelang wafatnya. Dalam Surah al-Baqarah ayat 133, Al-Qur’an menggambarkan pertanyaan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya tentang siapa yang akan mereka sembah setelah kepergiannya.
Pertanyaan tersebut menunjukkan perhatian Nabi Ya’qub terhadap keberlanjutan tauhid dalam keluarganya. Aly menilai, orang tua perlu memiliki perhatian serupa terhadap iman dan karakter anak-anak, selain memikirkan kebutuhan hidup mereka.
Orang tua dapat mewariskan kejujuran, rasa hormat, kepedulian terhadap sesama, dan kebiasaan beribadah melalui contoh yang mereka tunjukkan setiap hari. Anak-anak yang menyaksikan orang tuanya rajin ke masjid, bersabar, berbagi, dan menjaga amanah memiliki teladan konkret untuk diikuti.
“Karena harta ayah mungkin saja terbatas, tapi nilai kebaikan yang ditanamkan terus bertumbuh,” jelasnya.
Aly menghubungkan pendidikan keluarga dengan konsep amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia. Anak saleh yang mendoakan orang tuanya merupakan salah satu dari tiga perkara yang disebut dalam hadis, bersama sedekah jariah dan ilmu yang bermanfaat.
Karena itu, mendidik anak agar memiliki iman yang kuat dan karakter yang baik menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi kehidupan akhirat.
Memulai Kebaikan dari Rumah
Aly mengajak orang tua mengevaluasi apakah keberadaan mereka telah membawa manfaat bagi keluarga. Evaluasi tersebut dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah anak-anak mendapatkan perhatian yang cukup, apakah orang tua telah mengajarkan kejujuran, dan apakah kehidupan keluarga semakin mendekatkan anggotanya kepada Allah.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menunda kebaikan hingga pekerjaan lebih longgar atau kondisi ekonomi semakin mapan. Kesibukan tetap dapat dijalankan, tetapi perlu ditata agar kewajiban kepada Allah dan keluarga memperoleh tempat yang semestinya.
Selain keluarga, Aly menekankan pentingnya memperluas manfaat kepada tetangga dan masyarakat. Menjaga hubungan baik, membantu orang yang membutuhkan, membagikan ilmu, dan menggunakan rezeki untuk kepentingan bersama merupakan bentuk amal yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu memiliki kekayaan besar atau pengetahuan yang luas untuk mulai berbuat baik. Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
Aly menegaskan bahwa kerja keras dan keberhasilan duniawi tetap penting. Namun, keduanya perlu diarahkan agar menghasilkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan kehidupan akhirat.
Ia mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan selama hidupnya. Karena itu, selain merencanakan masa depan ekonomi keluarga, orang tua perlu mempersiapkan generasi yang memiliki iman, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.