Kesuksesan usaha dan jalan hidup yang serba lancar tanpa hambatan bisa jadi bukanlah bentuk kasih sayang Allah, melainkan ujian. Oleh karena itu, jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dunia.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ustadz Dr. M. Sholihin, http://S.Ag., http://M.PSDM. dalam kajian rutin guru SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya, Jumat (9/10/2026). Dalam tausiyahnya, ia mengupas tuntas makna di balik Surat Al-An’am ayat 44-45.
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa,” kutip Ustadz Sholihin membacakan terjemahan ayat tersebut.
Ia mengingatkan agar kita senantiasa waspada ketika merasa hidupnya jauh dari ujian, padahal banyak perintah agama yang diabaikan.
“Usahanya lancar semua, rezekinya mengalir terus, semua anaknya sukses. Namun kalau peringatan Allah dilupakan, lalu tetap merasa aman, maka hati-hati,” tegasnya.
BACA JUGA
Menurut Ustadz Sholihin, ketika seseorang bersenang-senang dalam kelalaian, siksaan Allah bisa datang secara tiba-tiba tanpa diduga. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi ujian kehidupan. Orang kafir cenderung mudah berputus asa saat ditimpa kesulitan. Sebaliknya, seorang mukmin justru menjadikan ujian sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
“Semakin dekat kepada Allah, semakin berat ujiannya. Kunci utamanya adalah bersyukur. Jika kita bersyukur, Allah pasti akan menambahkan kebaikan,” lanjutnya.
Melanjutkan pembahasannya ke ayat 45, Ustadz Sholihin juga menyoroti bagaimana Allah memusnahkan kaum yang zalim. Ia menekankan bahwa berbagai bencana alam maupun musibah yang terjadi sering kali erat kaitannya dengan maraknya kemaksiatan di suatu tempat.
“Jika ada bencana, bisa dipastikan di tempat tersebut ada kemaksiatan dan kezaliman. Ada perintah Allah yang tidak dilaksanakan dan ada peringatan-Nya yang diabaikan,” pungkasnya.
Kajian rutin ini menjadi pengingat penting bagi seluruh civitas akademika Mudipat Surabaya untuk terus mengintrospeksi diri, tidak terbuai oleh kenikmatan semu, serta selalu menjaga ketakwaan di tengah kesibukan mengabdi. (Azizah)
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.