Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Studi Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengenalkan kesiapsiagaan bencana kepada siswa kelas III UPT SD Negeri 69 Gresik melalui dongeng dan eksperimen gunung meletus mini, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Ngembung, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, ini melibatkan dua mahasiswa KKN, Aidayatul Sholichatin Maqfiroh dan Muhammad Naufal Syarifuddin, bersama siswa dan wali kelas. Edukasi tersebut menjadi bagian dari program kerja KKN untuk memperkenalkan bencana alam dan langkah kesiapsiagaan kepada anak-anak sejak usia dini.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengenalkan proses terjadinya letusan gunung berapi serta kaitannya dengan banjir lahar dingin. Materi disampaikan menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan usia siswa agar lebih mudah dipahami.
Belajar Bencana Lewat Dongeng dan Eksperimen
Kegiatan diawali dengan sesi mendongeng berjudul “Ketika Gunung Marah, Sungai Pun Ikut Marah”. Cerita tersebut menjadi pengantar untuk mengenalkan hubungan antara letusan gunung berapi, material vulkanik, dan potensi banjir lahar dingin ketika material tersebut bercampur dengan air hujan.
Setelah sesi mendongeng, mahasiswa menyampaikan materi mengenai proses terjadinya letusan gunung berapi dan risiko bencana yang dapat menyertainya. Siswa juga diperkenalkan pada pentingnya memahami situasi berbahaya dan mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.
Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi eksperimen “Gunung Meletus Mini”. Melalui peragaan tersebut, siswa dapat mengamati simulasi fenomena letusan gunung berapi secara langsung.
Metode ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari penyampaian materi secara lisan. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga menyaksikan peragaan yang membantu mereka memahami materi kebencanaan.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah seorang siswa mengungkapkan kekagumannya setelah menyaksikan eksperimen tersebut.
“Waa keren banget, kayak gunung asli!” ujar salah satu siswa.
Siswa lainnya mengaku baru memahami hubungan antara material gunung berapi dan banjir.
BACA JUGA
“Aku baru tau kalau abu gunung bisa jadi banjir kalau hujan,” ungkapnya.
Berbagai pertanyaan juga muncul selama sesi edukasi. Salah seorang siswa bertanya mengenai langkah yang harus dilakukan apabila tinggal di dekat gunung berapi.
“Kak, kalau rumahku deket gunung, aku harus lari ke mana?” tanyanya.
Selain pertanyaan tentang keselamatan, siswa juga ingin mengetahui penyebab gunung meletus, tanda-tanda sebelum letusan, tindakan yang perlu dilakukan ketika banjir terjadi, serta bahan-bahan yang digunakan dalam eksperimen. Beberapa siswa bahkan menanyakan apakah percobaan serupa dapat dilakukan sendiri di rumah.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan ketertarikan siswa untuk memahami fenomena bencana alam sekaligus mencari tahu cara melindungi diri ketika menghadapi situasi berbahaya.
Kenalkan Kesiapsiagaan Sejak Dini
Edukasi kebencanaan sejak usia sekolah dasar menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan risiko bencana dan membangun pemahaman mengenai keselamatan diri. Anak-anak perlu mengetahui bahwa setiap bencana memiliki risiko berbeda sehingga langkah penyelamatan harus disesuaikan dengan kondisi dan arahan petugas berwenang.
Dalam konteks letusan gunung berapi dan banjir lahar dingin, pemahaman mengenai bahaya di sekitar alur sungai, pentingnya mengikuti arahan evakuasi, dan kewajiban menjauhi kawasan berbahaya menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.
Melalui program KKN ini, mahasiswa Teknik Kimia UMG berupaya menghadirkan pembelajaran kebencanaan yang menarik dan mudah dipahami siswa. Perpaduan dongeng, penjelasan materi, dan eksperimen diharapkan dapat membantu siswa mengenali fenomena alam sekaligus memahami pentingnya menjaga keselamatan diri.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan edukasi di tengah masyarakat melalui program pengabdian yang menyasar lingkungan sekolah.
Dengan pengenalan kebencanaan sejak dini, siswa diharapkan semakin terdorong untuk mengenali risiko di lingkungan sekitar, memahami langkah keselamatan, dan tidak mengabaikan arahan guru maupun petugas ketika terjadi keadaan darurat. (*)
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.