KUDUS — Program studi (prodi) Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) sukses menggelar Workshop Peninjauan dan Pengembangan Kurikulum Keperawatan pada Senin (5/10/2026).
Bertempat di ruang Serbaguna II UMKU, kegiatan ini menggandeng narasumber seorang dosen dari Departemen Keperawatan Anak, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D.
Diketahui, Prof. Dessie merupakan pakar Clinical Education & Reflective Practice, lulusan University of Technology Sydney, Australia, dan menjadi Dosen FIK UI sejak tahun 1997.
Bersama Prof. Dessie, workshop di UMKU ini secara khusus fokus pada penguatan Keunggulan Keperawatan Degeneratif dan penajaman orientasi Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Dekan Fakultas Kesehatan UMKU, Dr. Indanah, M.Kep., Ns., Sp.Kep.An. mengungkapkan, UMKU harus memiliki kurikulum dengan diferensiasi yang jelas.
Terlebih kasus hipertensi, diabetes, stroke, dan penyakit kronis degeneratif lainnya, terus meningkat di wilayah Jawa Tengah.
“Kurikulum OBE UMKU harus menjawab itu. Lulusan kita harus unggul dalam asuhan keperawatan degeneratif, promotif-preventif, hingga paliatif yang banyak dibutuhkan masyarakat,” tegas Dr. Indanah.

Sementara itu, dalam penjelasannya, Prof. Dessie Wanda menjelaskan tentang 4 kunci pengembangan Kurikulum OBE untuk Keperawatan Degeneratif.
Pertama, terkait Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang terukur. Menurut Prof. Dessie, CPL tidak lagi berisi hafalan teori, tetapi kompetensi nyata.
BACA JUGA
Yakni mampu melakukan pengkajian komprehensif pasien degeneratif, edukasi keluarga, dan pencegahan komplikasi.
Kedua, Reflective Practice dalam Klinik. Dalam hal ini, mahasiswa tidak hanya praktik di RS, tapi diajak merefleksikan kasus degeneratif yang mereka temui.
Ketiga, tentang Integrasi Evidence-Based Practice (EBP). Dijelaskan, setiap mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah, Keluarga, dan Gerontik bahkan mateenitas harus diperbarui dengan evidence terbaru tentang manajemen penyakit degeneratif.
Keempat, terkait Asesmen Autentik. Penilaian beralih dari ujian tulis ke penilaian kinerja klinis. Seperti Objective Structured Clinical Examination (OSCE), studi kasus degeneratif, hingga kegiatan pemberdayaan masyarakat.
“OBE itu bukan mengganti RPS (Rencana Pembelajaran Semester), OBE itu mengubah cara pandang,” kata Prof. Dessie.
“Kita mulai dari akhir, lulusan seperti apa yang dibutuhkan Puskesmas dan RS untuk menangani ledakan pasien degeneratif. Dari situlah kita tarik mundur ke mata kuliah, metode ajar, dan asesmennya,” jelasnya melanjutkan.
Dari workshop ini, dihasilkan draf peta kurikulum baru, penguatan mata kuliah degeneratif, dan penyesuaian CPL sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 6 dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Sebagai kampus yang telah terakreditasi Baik Sekali dan masuk UI GreenMetric, langkah ini menjadi komitmen UMKU dalam mendukung program Diktisaintek Berdampak.
Menghasilkan perawat yang unggul, kompeten, dan berdampak langsung bagi penanganan penyakit degeneratif di masyarakat. (Humas UMKU/NR)
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.