Ada cara paling praktis untuk terlihat paling benar: jangan baca semuanya. Ambil satu ayat yang cocok, satu hadis yang mendukung, lalu tampilkan dengan suara penuh keyakinan. Selesai. Dalil pun berubah fungsi—bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi menjadi amunisi untuk memenangkan perdebatan.
Inilah penyakit cherry picking: memetik bukti yang manis, lalu membiarkan yang pahit tetap bergelantungan di pohonnya. Dalam dakwah, praktik ini bisa menjadi sangat rapi. Ayat dipotong dari konteksnya, hadis dipisahkan dari penjelasannya, pendapat ulama yang berbeda disembunyikan, lalu kesimpulan pribadi dipasarkan dengan label “inilah Al-Qur’an dan Sunnah”.
Hebatnya, yang berbicara bukan lagi manusia yang sedang menafsirkan dalil, melainkan seolah-olah dalil itu sendiri yang sedang berbicara persis seperti pendapatnya. Ini trik retoris yang canggih: pendapat pribadi diberi pakaian suci agar tampak tidak boleh diperdebatkan.
Padahal Al-Qur’an bukan buku kutipan motivasi yang boleh dibuka secara acak untuk mencari kalimat pembenar. Ayat memiliki konteks, hubungan antarayat, sebab turun, bahasa, tujuan, dan penjelasan dari ayat lainnya. Hadis pun tidak cukup dibaca dari terjemahannya lalu dipukul rata. Ada sanad, matan, kualitas hadis, konteks, serta khazanah penjelasan para ulama.
Membaca satu halaman lalu merasa telah menguasai seluruh buku terdengar lucu. Tetapi dalam urusan agama, kelucuan semacam itu kadang dipertontonkan dengan wajah sangat serius. Semakin sedikit yang dibaca, kadang semakin besar keberanian untuk menghakimi. Ilmu belum luas, tetapi kesimpulan sudah seluas langit.
Yang lebih mengkhawatirkan, dalil kemudian diperlakukan seperti peluru. Dicari bukan karena kita ingin ditembak oleh kebenaran, melainkan karena kita ingin menembak orang lain. Ayat yang mengoreksi diri dilewati. Ayat yang bisa mengoreksi lawan justru diperbesar. Begitulah agama perlahan berubah dari jalan muhasabah menjadi alat pembenaran.
BACA JUGA
Mimbar akhirnya bisa berubah menjadi kebun ceri. Yang dipetik hanya buah yang manis bagi kelompok sendiri. Buah yang terasa pahit dibiarkan membusuk di pohon. Padahal seorang pencari kebenaran justru harus berani mencicipi rasa pahit ketika itulah yang sedang mengoreksi lidahnya.
Dakwah tidak membutuhkan orang yang paling pandai mencari ayat untuk membenarkan dirinya. Dakwah membutuhkan manusia yang cukup rendah hati untuk berkata: mungkin pemahamanku belum selesai. Sebab orang berilmu bukan sekadar orang yang memiliki banyak dalil, tetapi orang yang tahu bahwa satu dalil tidak selalu cukup untuk memahami keseluruhan persoalan.
Pada akhirnya, persoalannya sederhana tetapi sering dilupakan: apakah kita sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari dalil untuk membenarkan apa yang sejak awal sudah kita yakini?. Jika yang kedua, jangan heran bila mimbar semakin ramai tetapi kebijaksanaan semakin sepi. Dalil terus dikutip, tetapi konteks ditinggal. Ayat terus dibacakan, tetapi ego tetap menjadi imam. Dan ketika ego sudah menjadi imam, bahkan dalil yang suci pun bisa dipaksa berjalan menuju arah yang kita inginkan. (*)
Referensi
1. Jalaluddin as-Suyuthi, Lubāb an-Nuqūl fī Asbāb an-Nuzūl. Rujukan klasik mengenai sebab-sebab turunnya ayat. Asbāb an-nuzūl membantu memahami latar historis dan konteks suatu ayat sehingga ayat tidak dilepaskan begitu saja dari peristiwa yang melatarbelakanginya.
2. Imam as-Suyuthi, Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Salah satu karya penting dalam ulūm al-Qur’an, yang membahas berbagai perangkat untuk memahami Al-Qur’an, termasuk persoalan konteks, struktur, dan disiplin ilmu yang diperlukan dalam penafsiran. Referensi ini tercatat sebagai salah satu karya utama dalam kajian ‘ulūm al-Qur’an.
3. Shahih Muslim, Kitab al-‘Ilm, Hadis 2665. Hadis ini relevan dengan kritik terhadap penggunaan ayat secara selektif. Riwayat tersebut memuat peringatan agar tidak mengejar ayat-ayat yang maknanya tidak langsung dan tegas demi menimbulkan perselisihan, serta mengingatkan pentingnya sikap ilmiah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Dakwah Ketika Dalil Dipetik
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.