Muhammadiyah dalam dakwahnya senantiasa berusaha membangun ukhuwah di mana pun berada. Semangat perjuangan untuk menjaga persatuan bangsa terus dirawat. Komitmen itu menjadi bagian dari jati diri perjuangan Muhammadiyah dalam menjalankan amar makruf nahi munkar.
\nSemangat tersebut tumbuh di kalangan pimpinan, kader Angkatan Muda Muhammadiyah, hingga anggota. Ia menjadi perwujudan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
\nDinamika kehidupan organisasi dan kebangsaan menjadi ruang untuk beramal saleh. Di sana ada keikhlasan, pengorbanan, dan kesediaan untuk bekerja demi kemaslahatan bersama serta meraih keridaan Allah SWT.
\nKokam dan Ketegangan Kebangsaan 1965
\nEnam puluh satu tahun lalu, Indonesia berada dalam situasi politik yang sangat tegang. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengguncang kehidupan bangsa. Penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira TNI serta konflik politik yang mengikutinya meninggalkan luka panjang dalam sejarah Indonesia.
\nDalam situasi penuh ketidakpastian itu, Muhammadiyah turut mengambil bagian dalam menjaga kehidupan umat dan bangsa. Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) kemudian lahir sebagai bagian dari respons Angkatan Muda Muhammadiyah terhadap situasi kebangsaan yang genting.
\nMenurut catatan resmi Muhammadiyah, Kokam terbentuk pada 1 Oktober 1965 pukul 21.30. Letnan Kolonel Sudarsono Prodjokusumo, yang dikenal sebagai Pak Projo, menjadi komandan pertama. Kelahiran Kokam berlangsung dalam suasana bangsa yang sedang menghadapi ancaman perpecahan dan ketegangan politik yang sangat kuat.
\nKelahiran Kokam memiliki arti penting. Para kader merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam menjaga keamanan, persatuan, dan kehidupan bangsa bersama berbagai komponen masyarakat lainnya.
\nDari titik itulah semangat kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam perjalanan Kokam.
\nNamun, makna kesiapsiagaan tidak semestinya berhenti pada kekuatan fisik. Ia harus berkembang menjadi kesiapan mental, spiritual, intelektual, dan kemanusiaan.
\nKetika Fitnah dan Kekerasan Mengancam Persatuan
\nSejarah politik Indonesia pada masa itu juga memperlihatkan betapa mudahnya ketegangan politik berkembang menjadi konflik sosial. Propaganda, pertentangan ideologi, dan perebutan pengaruh politik menciptakan suasana yang tidak mudah bagi masyarakat.
\nSalah satu tokoh Muhammadiyah yang mengalami tekanan politik pada masa itu adalah Buya Hamka. Ia ditahan pada 1964 dan menjalani masa tahanan hingga dibebaskan pada 1966. Selama berada dalam tahanan, Hamka justru menghasilkan karya besar Tafsir Al-Azhar.
\nCatatan sejarah Muhammadiyah juga mencatat bahwa setelah dibebaskan, Hamka kembali aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan dan keumatan.
\nKisah tersebut memberi pelajaran bahwa perbedaan politik dan ideologi tidak boleh berujung pada hilangnya kemanusiaan.
\nSejarah memang tidak mungkin diulang. Tetapi pelajarannya selalu relevan.
\nKarena itu, tugas generasi sekarang bukan sekadar mengingat konflik masa lalu, melainkan mengambil hikmah agar perpecahan tidak kembali menjadi pilihan dalam menyelesaikan perbedaan.
\nPersatuan harus dijaga bukan karena Indonesia tidak memiliki perbedaan. Justru karena Indonesia sangat beragam, persatuan menjadi kebutuhan yang tidak pernah selesai.
\nMilad ke-61 Kokam pada 2026 mengusung tema “KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban.”
\nTema tersebut mengandung pesan yang penting. Ketangguhan Kokam tidak cukup diukur dari kemampuan fisik. Ketangguhan juga harus terlihat dalam kekuatan iman, keluasan wawasan, kedewasaan sikap, dan kematangan akhlak.
\nKokam yang tangguh adalah Kokam yang mampu hadir dalam persoalan keagamaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebencanaan, dan kehidupan sosial.
\nPeran seperti ini sejalan dengan perkembangan Kokam yang dalam beberapa tahun terakhir juga diarahkan pada kerja kemanusiaan, SAR dan kebencanaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
\nMenjaga persatuan bukan sekadar slogan. Ia adalah pekerjaan sehari-hari.
BACA JUGA
Di tengah keragaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial, Kokam harus mampu menjadi bagian dari kekuatan yang merawat Bhinneka Tunggal Ika. Kesiapsiagaan harus diterjemahkan menjadi kepedulian. Ketegasan harus berjalan bersama akhlak. Keberanian harus berdampingan dengan kebijaksanaan.
\nSebab membangun peradaban tidak mungkin dilakukan dengan permusuhan.
\nPeradaban tumbuh dari ilmu, iman, amal saleh, keadilan, kesejahteraan, keamanan, dan persaudaraan.
\nDi sinilah tema “membangun peradaban” menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa perjuangan Kokam tidak berhenti pada kemampuan menjaga keadaan, tetapi juga harus diarahkan pada kemampuan menghadirkan keadaan yang lebih baik.
\nDalam perspektif Muhammadiyah, cita-cita tersebut sejalan dengan ikhtiar mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkemajuan, berkeadilan, sejahtera, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
\nMuhammadiyah sendiri menempatkan dakwah, tajdid, dan Islam Berkemajuan sebagai karakter gerakannya.
\nDari Kesiapsiagaan Menuju Keteladanan
\nKokam harus tetap menjadi kekuatan yang siap untuk negeri. Namun, kesiapsiagaan hari ini membutuhkan cakrawala yang lebih luas.
\nDengan ilmu, kader semakin berwawasan. Dengan iman, perjuangan semakin teguh. Dengan amal saleh, kepedulian semakin nyata.
\nKekuatan Kokam hendaknya hadir untuk menghentikan permusuhan, meredakan ketegangan, membantu mereka yang membutuhkan, serta menyadarkan pentingnya persatuan.
\nInilah tantangan Angkatan Muda Muhammadiyah. Menjadi kader yang tidak hanya berani berdiri di barisan depan, tetapi juga mampu berdiri di tengah masyarakat dengan keteladanan.
\nDakwah yang mencerahkan membutuhkan kader yang memiliki keluasan ilmu. Perjuangan kebangsaan membutuhkan kader yang memahami keberagaman.
\nDan kehidupan berorganisasi membutuhkan kader yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
\nKarena itu, tinta emas yang telah ditorehkan para pendiri dan pejuang KOKAM harus dilanjutkan dengan karya yang relevan dengan zaman.
\nJika dahulu tantangannya adalah menjaga bangsa dari ancaman perpecahan dalam situasi politik yang sangat keras, hari ini tantangannya bisa hadir dalam bentuk yang berbeda: disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, konflik sosial, bencana, kemiskinan, hingga berbagai persoalan kemanusiaan.
\nKokam harus hadir di sana. Bukan untuk memperbesar permusuhan. Tetapi untuk merawat persaudaraan.
\nBukan untuk mempertajam perbedaan. Tetapi untuk menemukan titik temu. Bukan sekadar menjaga barisan. Tetapi menjaga harapan.
\nEnam puluh satu tahun adalah perjalanan panjang. Tetapi usia panjang tidak otomatis menjadikan sebuah gerakan relevan. Relevansi lahir ketika nilai perjuangan mampu menjawab kebutuhan zaman.
\nKokam telah melewati berbagai zaman. Karena itu, spirit perjuangannya harus terus diwariskan, sementara bentuk pengabdiannya terus dikembangkan.
\nKokam yang tangguh adalah Kokam yang siap menjaga persatuan. Kokam yang berkemajuan adalah Kokam yang mampu mengubah kesiapsiagaan menjadi pengabdian.
\nDan Kokam yang membangun peradaban adalah Kokam yang menghadirkan manfaat. Keteguhan akidah menjadi fondasi. Akhlak menjadi jalan. Ilmu menjadi bekal. Amal saleh menjadi bukti.
\nDari sana, perjuangan tidak berhenti pada slogan. Ia menjelma menjadi keteladanan.
\nSelamat Milad ke-61 Kokam. Semoga semakin tangguh menjaga persatuan, semakin luas mengabdi kepada kemanusiaan, dan semakin nyata mengambil bagian dalam membangun peradaban bangsa. (*)
\n\n
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.