Kesulitan tidak selalu bisa dihindari. Kesedihan tidak selalu dapat ditolak. Begitu pula kecemasan tentang masa depan kerap datang tanpa diundang. Namun, seorang Muslim memiliki satu bekal penting untuk menghadapi semuanya: lapang dada.
\nPesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Sirah Nabawi di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (1/10/2026). Kajian rutin Kamis pertama yang menghadirkan Ust. Drs. Ahmad Arqom tersebut diikuti sekitar 215 jamaah.
\nKali ini, materi Sirah Nabawi diarahkan pada tadabbur Surat Asy-Syarh atau Al-Insyirah melalui buku Tadabbur Al-Qur’an untuk Para Pecinta Al-Qur’an karya Syaikh Adil Muhammad Khalil. Buku setebal 400 halaman itu diterjemahkan oleh Ainur Rofiq Saleh Tahmid, Lc., M. Sos.
\nUstaz Ahmad Arqom menjelaskan, Surat Asy-Syarh memiliki pesan penting tentang nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.
\n\n“Tujuan utama Surat Asy-Syarh adalah nikmat-nikmat Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw,” jelasnya.
Surat Asy-Syarh merupakan surat Makkiyah yang terdiri atas delapan ayat. Nama Asy-Syarh berkaitan dengan makna lapang dada.
\nDalam buku yang dikaji, lapang dada disebut sebagai salah satu nikmat utama. Karena itu, Allah mengawali surat tersebut dengan menyebut nikmat kelapangan dada.
\nPesan ini menjadi relevan bagi kehidupan manusia. Sebab, persoalan sering kali bukan hanya tentang seberapa berat masalah yang dihadapi, tetapi bagaimana hati meresponsnya.
\n\n“Dengan hati yang lapang, seseorang tidak mudah larut dalam kesedihan atas sesuatu yang telah luput. Ia juga tidak berlebihan menghadapi musibah dan tidak dikuasai kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi,” kata Ustaz Ahmad Arqom.
Lapang dada bukan berarti hidup tanpa masalah. Kelapangan hati justru membuat seseorang mampu menghadapi masalah dengan pandangan yang lebih jernih.
\nKarena itu, ketika menghadapi persoalan kehidupan, seorang Muslim diarahkan untuk menjadikan Allah sebagai tempat berharap.
\n\n“Kuncinya hanya kepada Allah-lah kita berharap,” pesan Ustad Ahmad Arqom.
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
\nUstaz Ahma Arqom menjelaskan, pembahasan kemudian dikaitkan dengan kehidupan yang baik sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nahl ayat 97. Allah menjanjikan kehidupan yang baik kepada orang yang beramal saleh dalam keadaan beriman.
\nKehidupan yang baik bukan berarti seseorang tidak pernah menghadapi kesulitan. Seorang beriman tetap dapat mengalami kehilangan, kegagalan, kesedihan, dan berbagai persoalan.
BACA JUGA
\n“Yang membedakan adalah cara menghadapi keadaan tersebut. Hati yang lapang membuat seseorang tetap mampu melihat harapan ketika keadaan belum berubah. Ia merasakan kesulitan, tetapi tidak kehilangan keyakinan kepada Allah,” paparnya.
Dia lalu menjelaskan, pesan itu semakin kuat dalam ayat kelima dan keenam Surat Al-Insyirah: Inna ma’al usri yusra. (Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan).
\nAyat tersebut menjadi pengingat bahwa kesulitan bukan akhir dari perjalanan. Bersamanya terdapat kemudahan yang Allah siapkan.
\n\n“Karena itu, yang dibutuhkan seorang Muslim bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga kesabaran, keyakinan, dan sikap terus berharap kepada Allah,” tandas Ustaz Ahmad Aeqom.
Dosa dan Kekeruhan Hati
\nKajian juga membahas hubungan antara dosa dan kondisi batin manusia. Dosa dapat menjadi sebab munculnya kesedihan, kegalauan, kecemasan, dan kekeruhan hati.
\nDalam konteks itu, menutut Ustaz Ahmad Arqom, ampunan Allah menjadi salah satu nikmat terbesar bagi seorang hamba.
\nPembahasan tersebut dikaitkan dengan ayat kedua Surat Asy-Syarh. Jamaah kemudian diajak merenungkan QS Yunus ayat 62–65 tentang para wali Allah serta QS Al-A’raf ayat 17 yang mengingatkan berbagai upaya setan dalam menyesatkan manusia.
\nRangkaian ayat tersebut membawa jamaah pada satu kesadaran: ketenangan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan di luar diri.
\n\n“Keadaan boleh berubah. Persoalan boleh datang silih berganti. Namun, hati yang dekat kepada Allah dapat menjadi kekuatan untuk melewati perubahan tersebut,” ujar Ustaz Ahmad Arqom.
Karena itu, imbuh dia, Surat Asy-Syarh tidak berhenti sebagai bacaan. Ayat-ayatnya ditadabburi untuk menemukan bekal menjalani kehidupan: mensyukuri nikmat lapang dada, memohon ampunan atas dosa, serta meyakini bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.
\nKajian Sirah Nabawi PRM Wage malam itu pada akhirnya mengajak jamaah melihat kesulitan dengan cara yang berbeda. Tidak semua persoalan harus segera hilang agar hati menjadi tenang.
\nKadang, yang lebih dahulu perlu berubah adalah cara hati menerimanya. Dan di situlah lapang dada menjadi nikmat.
\nSebab, ketika seorang hamba tetap berharap kepada Allah di tengah kesulitan, ia tidak sedang berjalan sendirian. (*)
\n\n
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.