Bukan sekadar datang, berziarah, lalu pulang. Siswa kelas 6 Buya Hamka dan kelas 6 Mas Mansyur Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya justru membawa lembar pertanyaan dan catatan untuk menyelami satu fenomena yang masih dijumpai di tengah masyarakat, Kamis (1/10/2026).

\n

Di tempat yang setiap harinya ramai didatangi peziarah itu, para siswa mengaplikasikan pembelajaran Kemuhammadiyahan secara langsung melalui kegiatan observasi dan wawancara. Fokusnya bukan sekadar melihat aktivitas ziarah, tetapi mengenali fenomena yang dalam pembelajaran Kemuhammadiyahan dikenal dengan istilah TBC—Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat.

\n

Sebelum turun menemui para peziarah, siswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari guru kelas dan guru Ismuba, Ustad Muhammad Ain, M. Pd. I. Mereka diarahkan untuk melakukan wawancara secara santun, menggunakan pilihan kata yang tepat, serta tetap menghormati setiap orang yang ditemui.

\n

Para siswa bahkan telah menyiapkan daftar pertanyaan dan tabel pengamatan. Setiap responden diberikan pertanyaan yang sama agar informasi yang diperoleh dapat dibandingkan secara objektif.

\n

Mulai dari tujuan datang ke makam, alasan memilih kompleks Makam Sunan Ampel, hingga daerah asal para peziarah menjadi bagian dari pertanyaan yang mereka ajukan.

\n

Menariknya, para siswa tidak asal bertanya. Mereka belajar membaca situasi dan menjaga etika komunikasi.

\n

Salah satunya dilakukan Zian Alycia, siswa kelas 6 Mas Mansyur. Dengan ramah dan menggunakan bahasa Jawa krama, ia menyapa salah seorang peziarah.

\n

“Pak, mohon maaf, jenengan asale saking pundi, tujuan ing mriki ingkang menopo?” tanya Zian.

\n

Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk bagi Zian dan teman-temannya untuk mendapatkan gambaran mengenai alasan masyarakat datang ke kompleks makam.

\n

Jawaban yang mereka dapatkan pun beragam. Ada peziarah yang mengatakan datang untuk sekadar berziarah kepada wali. Namun, ada pula yang menyampaikan bahwa kedatangannya bertujuan mencari keberkahan dari makam yang dikunjungi.

\n

Bagi para siswa, jawaban-jawaban tersebut bukan untuk menghakimi ataupun menyalahkan. Justru dari sanalah mereka belajar bahwa memahami sebuah fenomena di masyarakat membutuhkan sikap santun, kehati-hatian, sekaligus pemahaman agama yang kuat.

\n

“Kami sengaja membawa para siswa kelas 6 ini ke kompleks Makam Sunan Ampel untuk melihat secara langsung fenomena pada masyarakat kita yang sering datang ke makam wali atau bahkan orang yang dimuliakan. Harapannya, mereka menjadi mengerti dan paham apa sebenarnya tujuan ziarah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga nanti bisa menjadi agen perubahan di keluarga,” jelas Ustad Muhammad Ain, M. Pd. I., pengampu Ismuba kelas 6.

\n

Pembelajaran di Luar Kelas

\n

Pembelajaran di lapangan seperti ini bukan kali pertama dilakukan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya. Setiap tahun, sekolah memang kerap membawa siswa untuk belajar langsung di kompleks Makam Sunan Ampel.

\n

Bagi sekolah, pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat akidah sekaligus memberikan pemahaman Islam secara kaffah. Siswa tidak hanya menerima materi melalui buku dan penjelasan guru, tetapi diajak melihat bagaimana pemahaman keagamaan bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

\n

Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun pun menjadi bagian yang mereka amati dan pelajari. Siswa diarahkan untuk mampu membedakan antara nilai-nilai ajaran Islam dengan praktik yang perlu dikaji berdasarkan tuntunan agama.

\n

Namun kunjungan kali ini memiliki satu cerita penting lainnya.

\n

Di kompleks yang sama, siswa kelas 6 juga berkesempatan melihat langsung makam KH Mas Mansyur, salah satu tokoh penting Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama dua periode. Tokoh kelahiran Surabaya tersebut dimakamkan di kawasan kompleks Masjid Ampel.

\n

Kehadiran siswa di makam KH Mas Mansyur menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan tokoh Muhammadiyah sekaligus menghubungkan pembelajaran Kemuhammadiyahan dengan jejak sejarah yang ada di kota mereka sendiri.

\n

Dari satu kompleks, siswa mendapatkan dua pengalaman belajar sekaligus: membaca fenomena sosial-keagamaan masyarakat dan mengenal sejarah tokoh Muhammadiyah.

\n

“Harapan kami, para siswa kelas enam benar-benar memahami ajaran Islam secara kaffah sehingga kelak mereka menjadi generasi yang kuat akidah dan akhlaknya. Mereka mampu membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dijauhi,” ungkap salah seorang guru kelas 6.

\n

Hari itu, Kompleks Makam Sunan Ampel bukan sekadar menjadi tempat kunjungan. Bagi siswa Kreatif 20, tempat tersebut berubah menjadi ruang belajar terbuka. Mereka belajar bahwa memahami masyarakat tidak cukup hanya dengan melihat, sementara memahami agama tidak cukup hanya dengan menghafal.

\n

Ada proses mengamati, bertanya, mendengar, menghormati, lalu menyimpulkan.

\n

Sebuah pembelajaran nyata agar generasi Kreatif 20 tidak hanya cerdas memahami teori, tetapi juga memiliki bekal akidah, akhlak, dan keberanian untuk menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. (*)

\n\n
Sumber Informasi & Rujukan PWMU.CO
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Media Afiliasi

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...